Posted in Writing Skills and Hand Lettering

It’s About Someone You Can’t Live Without!

love is

Kalau menikah adalah untuk menemukan orang yang ideal, maka selamanya kita tidak akan pernah menemukannya.

“Right Man” pilihan Alloh terkadang bukan sosok yang sempurna bagi kita, namun di akhirnya kita akan menyadari bahwa pilihan Alloh adalah yang terbaik untuk kita.

Alloh menitipkan rahmat pada sosok yang memang dihadirkan-Nya untuk menemani kita “belajar” banyak hal dari kehidupan, menjadi cermin yang membantu kita mengenal diri sendiri, serta membuat kita memahami artinya sabar, syukur, berjuang, dan bahagia.

Terkadang kita terlalu jauh mencari.. hingga tak sadar bahwa cinta itu berada begitu dekat. Sebuah cinta yang seringkali tak terkatakan namun terefleksi dalam sekian banyak pengorbanan tanpa syarat.

Pertemuan pertama saya dengan Ayahnya anak-anak terjadi sekitar 16 tahun lalu. Kala itu kami mengawas UMPTN di wilayah yang sama. Tidak ada yang spesial waktu itu, terlebih, saya masih dekat dengan “orang lain”. Tetapi kenyataan akhirnya memaksa saya untuk melupakan “orang lain” tersebut karena Ia terlanjur menghancurkan hati.

Patah hati ini mengajarkan saya untuk jangan pernah  “terlalu” dalam segala hal. Jangan terlalu cinta, jangan terlalu benci,…yah..pokoknya jalani segala sesuatu sesuai porsi wajarnya saja. Patah hati ini juga memaksa saya membentengi diri dengan segala pertahanan hati agar tidak harus mengalaminya lagi!

Dan patah hati menyadarkan saya bahwa tidak ada yang lebih berhak dicintai selain Alloh.

Kemudian saya  membunuh kesedihan dengan kesibukan. Kesibukan apa pun. Saya ingin kelelahan menjadi obat tidur yang memaksa saya melupakan kesedihan. Kalau pun harus terbangun karena masih gelisah di tengah malam, saya memilih menghabiskan malam dengan curhat bebas hambatan di atas sajadah, atau tenggelam dalam berlembar-lembar kertas catatan harian.

Salah satu aktivitas melelahkan diri yang saya lakukan pada masa itu bernama jogging sore bersama beberapa teman di Unit Kegiatan Mahasiswa, yah..itung-itung ngurusin badan 🙂

Saya sendiri lupa bagaimana ceritanya sampai akhirnya suami saya terpilih menjadi instruktur kami. Aktivitas lari sore ini ternyata lumayan efektif membuat saya lari dari kenyataan. Meski niat pengen kurusnya gak kesampaian karena jogging selalu diakhiri dengan makan rawon di warung Surabaya depan kampus. Hadehh gimana mau kurus coba 😉

Momen mengobrol bersama di meja makan warung Surabaya adalah titik awal saya mulai mengenal lebih dekat sosok Mas Agus, orang yang dipilihkan Alloh untuk mengisi banyak ruang di hati dan hidup saya selanjutnya.

Sikapnya yang humoris, tenang dan selalu siap membantu membuat saya merasa nyaman berteman dengannya. Berada bersama teman-temannya di KMPA Eka Citra pun membuat saya menemukan kembali “feel” keluarga besar PATTUPALA yang dulu begitu intens mengisi hari-hari SMA saya.

Walau pun akhirnya kami berteman dekat namun saya tak kuasa memberikan kunci hati terdalam saya untuknya. Cerita patah hati tempo hari itu terlalu berkesan. Cukup lah saya mengalaminya satu kali saja ; jangan pernah lagi. Pengalaman pahit tentang cinta membuat hati saya terbagi dua ; sepenggal hati percaya cinta, sementara sisanya TAK PERCAYA CINTA.

Quotes favorit saya ketika itu adalah :

“Jika Ia memang untukmu maka sejauh apa pun kalian terpisah pasti akan bertemu. Namun bila Ia bukan untukmu maka sekuat apa pun engkau menggenggamnya pasti akan terlepas”.

Boleh dikatakan, saya tidak pernah menganggap hubungan kami “serius” hingga waktu yang kami lewati bersama membuktikan bahwa “Dia Orangnya”.

Berbekal Buku “Kupinang Engkau dengan Hamdalah” Mohammad Fauzil Adhim, Mas Agus memberanikan diri “meminta” saya secara resmi di depan Papa dan Mama. Dan sejak 1 Juli 2006, saya resmi menutup ruang tak percaya cinta dalam hati untuk diwarnai dengan kisah cinta kami yang baru dimulai.

IMG-20160802-WA0031[1]

Menjalani 9 tahun usia pernikahan tentu bukannya tanpa masalah. Airmata yang menetes dalam kurun waktu tersebut mungkin jauh lebih banyak dari sebelumnya. Namun proses ini merupakan rangkaian hikmah menuju pernikahan yang saling melengkapi ; saling mencintai di kala dekat, menjaga kehormatan di kala jauh, saling menghibur di kala duka, mengingatkan di kala bahagia, serta senantiasa mendoakan dalam kebaikan dan ketakwaan.

Love is not finding someone to live. It’s finding someone you can’t live without!

12 November 2015, Alloh memanggil “pulang” Mas Agus secara mendadak. Saya kemudian diamanahi 3 anak plus 1 janin dalam kandungan yang resmi menjadi yatim per hari itu. Agaknya, Alloh kembali mengingatkan saya untuk hanya memilih-Nya sebagai cinta sejati. Di saat saya merasa tidak bisa hidup tanpa Mas Agus, di situ lah Alloh menguji sekaligus membuktikan bahwa cukup lah Alloh sebagai pelindung.

Kabar baiknya : Alloh sudah memberi banyak latihan kecil sebelumnya. Rangkaian latihan ini ternyata berupa perasaaan yang saya kenal dengan istilah sedih, lelah, sakit, dan banyak hal pahit lainnya.

Kehilangan kali ini harusnya tidak terlalu menyakitkan asalkan saya menempatkan Alloh sebagai satu-satunya cinta tak tergantikan. Proses menerima kepergian partner hidup dengan ikhlas ini kemudian bermetamorfosis menjadi semangat menyiapkan bekal diri dan anak-anak menuju destinasi berikutnya.

“Waktu adalah ujian seberapa lama cinta bisa menunggu. Jarak adalah ujian seberapa jauh cinta bisa melewati perjalanan.” -Tere Liye-

IMG_20170518_082636_841’till We Meet Again, Love.. Tunggu Aku dan Anak-anak di Pintu Surga 🙂

#HowIMetMyHusband #LoveStory #TantanganMenulisOktober #RumbelMenulisIIPJakarta

 

Advertisements
Posted in Writing Skills and Hand Lettering

Muthia Zahra Feriani : “Kenapa Menulis Bisa Membuat Ketagihan”

-Catatan SWAG Talkshow oleh Annisa M. Gumay-

 

Muthia Zahra Feriani adalah alumni Fakultas Hukum – Universitas Indonesia tahun 2013. Ia menjadi lulusan terbaik yang berhasil menyelesaikan studi S1 nya dalam 3,5 tahun, sempat menjadi asisten dosen, dan bekerja sebagai lawyer juga sebelumnya. Sebenarnya, Mba Muthia tidak terlalu meminati bidang hukum, namun karena Ia suka membaca dan menulis, dua hal ini lah yang mengantarkannya menjadi lulusan terbaik dan menyampaikannya pada jalan hidup sebagai seorang penulis serta wirausaha bidang ekonomi kreatif.

Saat kuliah, Mba Muthia sering menerima penolakan dari penerbit. Bukan hanya mengalami tulisan yang di reject saja, tapi juga pernah mengalami tulisannya tidak dibaca dan tidak dikritisi. Biasanya, ketika mendapati kondisi dimana apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang kita inginkan maka akan membuat kita berhenti melakukan apa yang kita sukai. Namun, lain hal nya dengan Mba Muthia. Ketika Ia ditolak oleh sejumlah penerbit besar, maka Ia menerbitkan tulisannya lewat jalur indie. Dan akhirnya Mba Muthia berhasil mencetak buku kumpulan cerpen pertamanya yang merupakan hasil kolaborasi dengan Alldo Fellix Januardy, temannya di FH-UI, yang juga Founder Logika Rasa.

Lalu, bagaimana behind the scene pembuatan buku kumcer tersebut dari proses ide sampai penerbitan?

Awalnya Mba Muthia menulis cerpen di blog dan rajin berinteraksi dengan pembaca, hingga Ia memiliki pembaca tetap. Cerpen ke-1 sampai ke-6 dibagikannya secara gratis di blog dan senantiasa berinteraksi dengan pembacanya. Namun begitu masuk cerpen ke-7 sampai ke-10, Ia menyampaikan pada pembaca bahwa cerita berikutnya bisa dibaca di buku kumcer kolaborasinya dengan Alldo.  Naskah buku belum selesai saat itu, namun Mba Muthia mencoba untuk  mengetes pasar dengan memunculkan design cover buku kumcer tersebut di blog dan membuka PO buku dengan special price untuk 200 orang pembeli kumcer pertama. Karena sebenarnya saat itu Mba Muthia dan Bang Alldo belum punya uang untuk mencetak buku. Alhasil, PO 200 eksemplar buku sold out dalam 4 hari.

Adapun untuk design cover buku, Mba Muthia meminta bantuan temannya yang pintar mendesain. Tidak cukup sampai di situ, Mba Muthia juga menggandeng beberapa temannya untuk membuat soundrack buku kumcer tersebut plus membuat film pendeknya. Jadi,.. pembeli buku kumcer akan mendapatkan buku, pembatas buku dan cd berisi sountrack dan short movie kumcer tersebut. Keren kan?! Buku kumcer tersebut sold out 1000 eksemplar dalam 3 bulan.

Saya sudah beli bukunya Mba Muthia saat acara SWAG kemarin. Bukunya mungil, pas dibawa kemana-mana karena ukurannya pas di tas kecil sekali pun. Designnya keren. Idenya juga keren. Mba Muthia menulis 10 cerpen dengan tema “Percaya Cinta”, sementara di sisi sebaliknya Bang Alldo menulis 10 cerpen lagi dengan tema “Tak Percaya Cinta”. Buku kumcer yang unik menurut saya, karena menampilkan dua sisi tema yang saling bertolakbelakang dalam satu buku. Epilognya juga oke. Dibandrol Rp 55,000/eksemplar, buku kumcer ini recommended untuk dikoleksi dan menjadi inspirasi penulis baru yang ingin punya buku sendiri.

Teknik pemasaran buku kumcer tersebut juga oke. Smooth but Sure!

Ceritanya, sebelum berani menerbitkan buku, Mba Muthia dan Bang Alldo melakukan riset sebelumnya. Mereka memperkirakan jumlah pembaca tetap masing-masing untuk menentukan jumlah eksemplar yang akan dicetak.

DSC_0001.JPG

“Jika Kalian ingin sesuatu tapi tak bisa mendapatkannya dengan jalan biasa maka carilah jalan lain yang luar biasa, karena pasti ada jalannya”-Quotes by Muthiazf-

Trus.. Mba Muthia bikin apa lagi?

Penulis perlu komunitas. Oleh karena itu, Mba Muthia dan bang Alldo membuat komunitas penulis di situs www.logikarasa.com. Ada sekitar 20 ribu orang pembaca dengan 30 orang pencerita lintas profesi dan lintas latar belakang yang tergabung didalamnya. Menurut Mba Muthia, dalam komunitas tersebut, yang asli penulis mungkin hanya sekitar 15%. Tapi, perbedaan latar belakang, yang dikolaborasikan dengan semangat belajar menulis, malah membuat karya kepenulisan yang dihasilkan menjadi otentik.

IMG_20170911_131538

-Setiap orang butuh cerita-

Cerita adalah media paling efektif untuk belajar. Di dalam cerita ada pikiran, ide, dan perasaan. Dan menulis adalah untuk bercerita. Lalu, bagaimana membuat cerita menarik dan berkarakter?

Pada acara SWAG ini, Mba Muthia membuat simulasi yang anti mainstream. Di awal materinya, mba Muthia meminta 8 orang peserta untuk berinteraksi dengan anaknya, Ayina, yang berusia 6 bulan selama 10 detik. Kemudian kedelapan peserta tadi diminta untuk membuat tulisan yang menceritakan aktivitas tersebut dalam 3 kalimat. Ternyata tak satu pun peserta membuat kalimat yang sama. Padahal peristiwa, objek, waktu dan topik tulisannya sama. Ketika masing-masing peserta membacakan tulisan masing-masing, terlihat lah perbedaan karakter tulisan diantara mereka. So’ apa insightnya? Meski banyak banget tema dan konten yang sama untuk ditulis sebagai cerita namun hasil tulisan setiap orang pasti berbeda. Kenapa? Karena setiap penulis memiliki sudut pandang, pengetahuan, pengalaman, lingkungan, pikiran, dan perasaan yang berbeda. Itu lah yang membuat kita berbeda dengan penulis lainnya.

 

Cerita menarik kadang bukan cerita fakta melainkan cerita yang meyakinkan pembaca. Penulis cerita fiksi yang hebat mampu menghidupkan karakter tokohnya. Lalu, bagaimana dengan cerita non fiksi? Adalah hal yang bagus jika kita membuat tulisan untuk menginspirasi orang lain, tapi jangan lupa untuk juga merubah diri sendiri menjadi lebih baik, dan belajar dari tulisan sendiri.

“Everyone thinks of changing the world but no one think of changing himself”

-Leo Tolstoy-

Menulis adalah perjalanan panjang. Menulis itu seperti mencicil, menjahit kata-kata dan mengabadikannya di atas kertas. Tidak ada penulis hebat yang dihasilkan dalam waktu semalam. Itu lah sebabnya kita harus terus berlatih menulis. Ketika menemukan peristiwa, cepat tuliskan. Penulis pun harus banyak membaca karena hal ini akan memperkaya kosakata yang dimilikinya sebab penulis adalah pemulung kata.

Menulis juga bisa menjadi terapi kejiwaan. Suatu aktivitas yang membuat orang merasa lega saat melakukannya. Ini yang disebut writing for healing. Dalam Logika Rasa, ada segmen yang bernama “kepada tentang” dan “terimakasih karena”. Segmen -kepada tentang- berisi surat-surat yang sangat ingin disampaikan namun tidak sempat terbaca atau malah memang tidak akan sempat terbaca. Sementara segmen –terimakasih karena- berisi tentang ungkapan rasa terimakasih pada seseorang atau sesuatu yang juga tidak sempat tersampaikan. Menurut saya, ide membuat kedua segmen ini keren banget. Karena segmen ini bisa memfasilitasi orang-orang yang membutuhkan terapi writing for healing.

Mba Muthia kemudian bercerita bahwa Ia pernah membuat sebuah tulisan yang paling banyak dibaca dan disukai oleh pembacanya padahal tidak ada hal khusus yang dipersiapkan saat proses penulisannya. Dapat dikatakan, semua mengalir begitu saja. Gak ada tuh pikiran membuat kerangka tulisan sebelumnya, atau pun persiapan berbagai hal teknis lainnya. Mba Muthia membuat tulisan itu murni untuk menyampaikan perasaannya pada seseorang. Dan orang tersebut adalah Ayahnya sendiri, Ayah yang sudah “pulang” lebih dulu.

“Setiap Cerita pasti akan menemukan Pembacanya”

Saya sama sekali belum pernah tau ada segmen “kepada tentang” dalam situs Logika Rasa sebelum membaca tulisan Mba Muthia. Ketika mengambil inisiatif untuk membacakan tulisan Mba Muthia di depan seluruh peserta SWAG pagi itu pun awalnya saya tidak bisa menebak tulisan seperti apa yang akan saya bacakan. Dan eng ing eng,.. saat pertama kali membaca tulisan tersebut, saya sudah tersentak dengan paragraf pertama. Baru baca satu kalimat saja, saya sudah bisa menyimpulkan arah tulisan itu. Kemudian, tetiba saya merasa begitu emosional dan tidak bisa menahan air mata karena teringat tulisan yang dibuat anak saya, Haura untuk ayahnya, persis satu hari setelah ayahnya meninggal. Rasanya, tulisan Mba Muthia itu begitu dekat dengan hidup saya. Pikiran saya lalu terbang menuju masa-masa awal saya melakukan writing for healing. Masa dimana ke”pulang”an suami menjadi titik tolak saya untuk mulai menulis lagi.

 

surat haura untuk ayah

Sama seperti mba Muthia, saya pun tidak pernah memikirkan hal-hal teknis kepenulisan saat membuat tulisan-tulisan dalam diary yang segmennya saya namai “Dear Hubby ini Heaven..”.

Nulis ya nulis aja.. karena setelah nulis saya merasa lega dan perasaan lega ini lah yang membuat saya selalu ketagihan menulis. Sebab saat menulis, terutama saat menulis surat pada almarhum suami, saya merasa menemukan saluran untuk menyampaikan isi hati, meski sangat sadar bahwa Ia pasti tidak akan pernah membacanya.

Namun memang tidak semua tulisan dalam segmen diary saya tersebut saya publish.

Awalnya iya, karena dulu masih belum “ngeh” dengan fitur edit privacy di medsos. Tujuan saya menulis di medsos saat itu hanya lah untuk mendokumentasikan tulisan untuk anak-anak saya. Saya ingin anak-anak tau perasaan sayang saya pada mereka dan ayahnya, serta perasaan saya saat berusaha menerima kepergian ayahnya anak-anak, yang mendadak, sebagai keputusan terbaik Alloh bagi keluarga kami. Harapan saya, tulisan tersebut akan menjadi percikan semangat bagi mereka dalam menjalani episode kehidupan tanpa Ayah lagi. Berikutnya, saya lebih nyaman untuk menyimpan sendiri semua tulisan tersebut dan berencana mencetaknya suatu hari nanti, dan terbatas untuk anak-anak saja.

Belajar dari tulisan mba Muthia yang terasa dekat dengan kehidupan pembaca, seperti itu lah harusnya penulis bercerita. Menulis cerita tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan pembaca akan memunculkan ikatan emosional antara pembaca dengan tulisan penulis tersebut. Adapun cara untuk membuat tulisan kita dekat dengan pembaca adalah : 1) Banyak mengamati, 2)Banyak mendengar, dan 3) Banyak mengabadikan.

Selanjutnya, saya belajar tentang HAKI dalam talkshow ini. Alhamdulillah, ragam ilmu yang diterima hari ini sangat bermanfaat. Mba Muthia menyampaikan bahwa hak cipta melindungi karya setelah di publish, namun ide yang belum dipublish tidak dilindungi dalam hukum. Oleh karena itu, mba Muthia menghimbau agar penulis membiasakan menyertakan nama, dan tanggal penulisan saat mempublish karyanya. Karya yang sudah dipublish, even di medsos, bisa dilindungi hukum.

Namun berkaitan dengan maraknya plagiarisme, beberapa orang memilih untuk tidak selalu mempublish karyanya di medsos  terlebih jika menurutnya karya tersebut memiliki nilai ekonomis. Beberapa penulis yang akan merilis buku pun seringkali tidak mempublish seluruh isi buku di medsos, biasanya hanya beberapa quotes saja yang dimunculkan, hal ini terkait nilai ekonomis atas karya tersebut.

Menanggapi tentang plagiarisme, Mba Muthia sendiri saat ini sudah berada dalam tahap merasa bahwa semua karya sejatinya cuma titipan Tuhan. Oleh karena itu Ia berpesan agar seorang penulis jangan pernah takut berkarya karena karya yang sudah kita hasilkan tidak akan pernah menjadi mantan, karya diibaratkan sebagai anak yang tidak akan pernah putus hubungan dengan kita.

Berkaitan dengan ide tulisan, Mba Muthia punya BANK IDE sejak SMA. Banyak ide yang belum selesai direalisasikan, disimpannya dalam bank ide yang tidak diketahui orang lain. Pada saat yang tepat, ide tersebut akan direalisasikannya menjadi sebuah karya. Metode ini sangat menginspirasi, khususnya untuk saya, yang sering dapat lintasan ide namun belum sempat mengeksekusinya secara serius. Benar juga ya,.. kalau kita punya bank ide, kapan pun dapat ide, bisa langsung aja diamankan di sana sebelum keburu lupa.

 

Terimakasih mba Muthia Zahra Feriani, panitia SWAG dan Studentcare atas ilmu dan event yang bermanfaat ini.

Terimakasih juga untuk RB Menulis IIP Jakarta yang sudah memfasilitasi saya dalam kegiatan ini.

Barokallah.

@non_nheesa, 10 sept 2017.

 

Adapun mengenai review umum mengenai SWAG Creative Talkshow yang diselenggarakan oleh studentcare bisa dibaca di :

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/17/09/09/ow07vp-student-care-gelar-talkshow-menulis-kreatif

Referensi foto : IG @swagtalk_sc, dokumentasi pribadi Annisa MG

Posted in Writing Skills and Hand Lettering

MENULIS CERITA FIKSI by ARNIE SANIB (Komunitas Penulis Kreatif)

Cerita Fiksi adalah tulisan yang berisi cerita fiktif, khayalan atau imajinasi.

Cerita fiksi dapat diangkat dari kisah nyata, tetapi kisah nyata tersebut hanya berfungsi sebagai ide cerita saja, selanjutnya ide ini diolah menjadi sebuah cerita fiksi.
Contoh: cerita pendek, fiksi mini, novel, novelet, puisi, dan drama

Fiksi mini itu karya fiksi yang sangat singkat (flash action), mungkin hanya memiliki 250 – 1000 kata saja, dan biasanya ada twist ending (akhir yang mengejutkan, diluar perkiraan pembaca) atau bagian akhir biasanya diplintir

*) TIPS Membuat Cerita Fiksi
▷ Jangan tunggu ide, mulailah menulis cerita dengan melihat kejadian sehari-hari, dapat melalui kejadian yang kita alami sendiri atau referensi media.
▷ Pilih kejadian yang paling unik (aneh), jika kejadiannya biasa saja, modifikasi kejadian tersebut menjadi luar biasa.
▷ Buat kalimat pertama (pembuka) yang luar biasa, membuat pembaca penasaran dan ingin terus membacanya. Misalnya: Memalukan! Kenapa dia nekad berdiri di depan kelas dan menceritakan semua aibnya sendiri?
▷ Lanjutkan kalimat pertama dengan menceritakan mengapa dia mau berdiri di depan kelas, siapa yang menyuruhnya, dan seterusnya.
▷ Apabila inspirasi macet, duduklah dan biarkan pikiran melayang. Bayangkan tentang orang-orang, tempat-tempat, dialog-dialog, aksi-reaksi, dan sebagainya.
▷ Jangan terburu-buru memberi penilaian pada tulisan atau ide-ide. Beberapa adegan, ide, kata, dan kalimat mungkin masih tampak kacau, yang terpenting pada tahap ini adalah menciptakan materi mentah sebanyak-banyaknya. Jumlah materi yang banyak akan membuat kita semangat menulis, pikiran tidak disibukkan dengan mengedit tulisan, membaca ulang, dan mengkritisi diri sendiri.
▷ Setelah selesai dengan draft pertama, aturlah sedemikian rupa supaya tulisan tidak berantakan. Jika bingung dengan urutan dan catatan-catatan yang telah dibuat, terutama jika tulisannya panjang seperti novel, berilah nama untuk setiap adegan dan simpan di bagian Struktur Cerita. Urutan nomor adegan, bab, dan klimaks dapat diberi nama pada tahap pembangunan cerita.
▷ Jika inspirasi tidak kunjung datang, tulis sebuah kata, lalu kata lain dan yang lain lagi. Jangan batasi diri! Tuliskan kata apa saja yang muncul dalam benak, dapat dimulai dengan kata yang berhubungan dengan setting/lokasi, atau ide-ide lain yang muncul sehingga akhirnya membuat gambaran tentang sebuah adegan.

*) Tips Tambahan:
– Walaupun cerita fiksi based on imajinasi tapi ada faktor logika yang tidak boleh dilupakan. Diantaranya: logika ilmu pengetahuan, psikologis, konsistensi, karakter tokoh, setting cerita, sebab akibat, dan kewajaran cerita.
– Langkah termudah untuk penulis pemula mungkin membuat cerpen yang ringan dulu, ide cerita bisa dari kehidupan sehari-hari
– Kalau membuat cerpen, ide cerita yg mau ditonjolkan satu aja, apa pesan moral yang mau disampaikan, perbanyak dialog, ada twist endingnya.
– Biasanya penyampaian secara naratif (kurang dialog) membuat cerpen yang ditulis jadi panjang, dan itu agak membosankan buat pembaca
– Alur yg tdk boleh dilupakan dalam cerpen juga adalah ada perkenalan, konflik, klimaks, anti klimaks, dan penyelesaian.
– Contoh opening seperti apa yang bisa menggebrak.bisa saja dibuat kalimat yang membuat pembaca penasaran dan ingin membaca cerita selanjutnya. contoh di atas: Memalukan! Kenapa dia mau menceritakan aibnya sendiri di depan kelas? Dari kalimat pembuka, pembaca diajak untuk mencari tahu alasannya hingga menjadi penasaran
– Dialog juga berfungsi agar karakter tokoh berjejak dan berinteraksi dengan pembaca melalui dialog-dialog. Pembaca dapat menyimpulkan sendiri karakter tokoh dari dialog-dialog. Namun kembali lagi kepada jenis cerita yang akan dibuat, apakah melibatkan penulis di dalamnya atau penulis hanya sebagai sutradara, berdiri di belakang layar.
– Untuk membangun mood, langkah pertama adalah mencari dulu alasan terdalam dan terkuat (deep and strong why) kita, kenapa mau jadi penulis? Setelah itu kita ketahui maka akan timbul passion yg kuat. Secara teknis banyak cara supaya mood kita terjaga stabil. Di antaranya: menulis berkelompok, ikut komunitas, dsb.
– Penulis kreatif harus selalu meng-upgrade ilmu pengetahuan agar ceritanya bervariasi dan tidak monoton.
– Ide cerita fiksi bisa diambil dari kisah nyata yang “nyeleneh”, terus dibuat tulisan, combine dengan imajinasi sebagai bumbu cerita, pesan moralnya misalnya penulis ingin meluruskan perbuatan yg nyeleneh itu dari kaca mata penulis.
– Intinya, jika ingin jadi penulis, yaa just keep writing, tulislah apa yang ingin ditulis, jangan takut salah. Seperti pisau yang terus diasah, maka lambat laun dengan berlatih tulisan kita akan semakin bagus.

SELAMAT MENULIS CERITA FIKSI 🙂