Posted in Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017

# Cerita Level 5 : Presentasi Bisnis dan Penyerahan Dana Kelompok Usaha Siswa (KUS)

 

Cerita Level 5 ini adalah tentang kegiatan Presentasi Bisnis. Kami mengibaratkan kegiatan ini sebagai aktivitas “Meet the Investor” dimana para wirausahawan harus mampu meyakinkan Investor bahwa bisnis mereka memiliki prospek yang terbaik sebelum memperoleh dana investasi sebesar Rp 1,000,000.

Presentasi Bisnis ini berlangsung pada tanggal 30 dan 31 Agustus 2017. Kami membaginya menjadi 2 hari karena ada 40 tim yang harus di uji dengan waktu Presentasi masing-masing tim 15 menit. Agar tidak mengganggu proses belajar, panitia membuat jadwal presentasi yang disosialisasikan pada peserta, wali kelas, dan guru piket 2 hari sebelum kegiatan di mulai. Siswa yang belum mendapat giliran mengisi waktu menunggu dengan tetap belajar di kelas. Setiap tim bersiap di depan ruang AV 15 menit sebelum jadwal presentasinya. Adapun jadwal presentasinya sebagai berikut :

Jadwal Presentasi Bisnis, ok

Pointer yang wajib muncul dalam materi presentasi tim adalah Design thinking, Lean canvas, dan struktur serta company profile tim. Tim yang siap dengan prototype mau pun tester akan lebih disukai. Fokus penguji dalam presentasi bisnis ini adalah memberi evaluasi dan saran terhadap materi presentasi tim. Penguji akan melampirkan catatan di akhir kegiatan presentasi yang dapat menjadi masukan bagi tim untuk melakukan persiapan bisnis yang lebih baik lagi. Adapun rubrik evaluasi dan penilaian presentasi dan business plan sebagai berikut : RUBRIK EVALUASI PRESENTASI BISNIS,ok

Design thinking merupakan pendekatan yang perlu dilakukan dalam berinovasi. Inovasi tidak lah sekedar menciptakan produk baru, barang atau jasa baru. Inovasi lebih dari itu. Inovasi adalah keberhasilan, secara sosial dan ekonomi, karena diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah proses produksi sehingga konsumen merasakan MANFAAT yang lebih besar dari HARGA atau pengorbanan yang ia keluarkan.

design thinking.jpg

 

Pendekatan pemikiran desain menuntut produsen innovator untuk melakukan proses inovasi secara bertahap dalam merubah keinginan menjadi permintaan. Adapun pada setiap tahapannya melibatkan pandangan, perspektif serta konteks lingkungan sosial ekonomi budaya di mana pelanggan berada.

https://www.linkedin.com/pulse/design-thinking-business-strategy-customer-centered-kosasih

Tahapan Design Thinking :

  1. Emphatize (Empati) ; Mempelajari dan mencoba memahami kebutuhan pelanggan dan konteks di mana kebutuhan itu muncul melalui observasi dan interview pada pelanggan.
  2. Define (Menetapkan) ; Mengamati bagaimana pelanggan biasa berperilaku dan menggunakan produk-produk yang sudah ada dan menetapkan solusi untuk permasalahan dan kebutuhan pelanggan berdasarkan hasil obeservasi sebelumnya.
  3. 3. Ideate (Bertukar pikiran/Ide) ; Menggali ide sebanyak mungkin yang bertujuan memberikan nilai manfaat sebesarnya untuk pelanggan yang sudah dipilih atau diputuskan. Brainstormingpenting dilakukan pada setiap tahap dalam proses inovasi, mulai dari penggalian inspirasi, pengumpulan ide hingga seleksi ide.
  4. Prototype (Membuat produk replika) ; Membuat produk replika yang merupakan solusi permasalahan pelanggan yang ditetapkan berdasarkan 3 tahapan sebelumnya.
  5. Test (Menguji replika produk) ; Menguji manfaat produk bagi pelanggan dengan cara menunjukkan replika produk pada pelanggan dan menganalisa tanggapan pelanggan sebelum mengambil keputusan produksi.

Bagi perusahaan-perusahaan baru, metode design thinking ini sangat membantu ketika mereka memutuskan untuk menjadi bagian dari produsen innovator. Design thinking ini merupakan gerbang awal produsen innovator sebelum merancang usaha mereka dengan model bisnis Lean Canvas.

Adapun fungsi dari sebuah Model bisnis adalah sebagai rancangan usaha yang akan dibuat oleh produsen. Dengan kata lain, kita bisa menganggap model bisnis sebagai alat pembangun dan penggali ide bisnis. Salah satu model bisnis yang paling disarankan dan banyak digunakan oleh para entrepreneur pada dasawarsa terakhir adalah model Lean Canvas.

Alexander Osterwalder, salah seorang pencipta Lean Canvas, mengoptimalkan model bisnis ini dalam bentuk visual yang sangat ringkas, mudah dibuat, mudah dikomunikasikan, dan terutama mudah dimodifikasi. Lean Canvas mendokumentasikan sembilan blok bangunan dasar yang memperlihatkan cara berpikir tentang bagaimana sebuah perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis. Kesembilan blok tersebut mencakup empat bidang utama dalam suatu bisnis, yaitu: pelanggan, penawaran, infrastruktur dan kelangsungan finansial.

Gambar diagram model bisnis lean canvas, sumber : https://www.reppy.co/lean-canvas/

Canvasreppy.jpg

Sembilan blok bangunan dasar tersebut yaitu:

  1. Problem (Masalah)

Problem menggambarkan permasalahan yang akan dipenuhi oleh organisasi atau perusahaan.

Pada blok ini siswa dapat diminta meluangkan waktu untuk secara rinci merumuskan permasalahan yang ada di masyarakat. Permasalahan yang diangkat tidak harus permasalahan yang paling rumit di masyarakat, melainkan permasalahan yang dapat diatasi oleh perusahaan. Di bagian ini dapat juga dituliskan solusi yang sudah ada di masyarakat namun belum sepenuhnya dapat menyelesaikan permasalahan.

  1. Customer Segment (Segmen Pelanggan)

Menggambarkan kelompok orang yang memiliki permasalahan di bagian Problem di atas dan hendak dijangkau dan dilayani oleh perusahaan.

Siswa dapat memilih segmen ini dari kelompok perseorangan atau organisasi. Kelompok perseorangan dapat dipilih berdasar kelompok umur, wilayah geografis, kondisi sosial-ekonomi, profesi, agama, atau pilihan lain. Kelompok organisasi dapat dipilih berdasar jenis organisasi, jenis usaha, dan lain-lain.

  1. Solution (Pemecahan Masalah)

Menggambarkan satu atau beberapa pilihan pemecahan masalah yang diambil oleh perusahaan untuk mengatasi masalah yang dipilih pada segmen pelanggan yang dipilih.

Jika siswa belum dapat menemukan solusi yang tepat maka mereka diperkenankan mengubah masalah atau segmen pelanggan yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Unfair Advantage

Menggambarkan hal-hal yang dimiliki oleh perusahaan tetapi tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya. Bagian ini menggambarkan kekuatan kompetitif perusahaan. Sebagai contoh, memiliki penguasaan atas pengetahuan yang unik, kepemilikan hak paten, hubungan yang baik (dan legal) dengan pihak lain, dan sebagainya.

  1. Unique Value Preposition

Menggambarkan bentuk bisnis, produk, atau jasa yang diusulkan; terutama berkait dengan nilai yang akan dirasakan oleh pelanggan dan masyarakat. Nilai dalam hal ini tidak harus berupa angka, namun dapat berupa pencapaian tujuan yang lain.

  1. Key Metrics

Menggambarkan metode evaluasi yang akan digunakan secara berkala untuk menentukan apakah bisnis ini sudah tepat dijalankan.

Siswa dapat mengisi key metric dengan misalnya pendapatan yang (diperkirakan) diperoleh, jumlah pelanggan, jumlah saluran distribusi yang mau bekerja sama, dan lain-lain. Pengukuran harus bersifat kuantitatif. Jika pengukuran tak tercapai, siswa harus melakukan re-evaluasi pada bisnisnya.

  1. Channels

Menggambarkan saluran distribusi yang akan digunakan untuk melakukan promosi dan pemasaran.

Pada blok ini siswa diarahkan untuk memiliki beberapa alternatif saluran pemasaran dan mengurutkan daftar saluran sesuai potensi yang dapat dicapai.

  1. Cost Structure

Menggambarkan semua pos-pos pembiayaan yang akan dikeluarkan untuk mengoperasikan bisnis.

  1. Revenue Stream

Menggambarkan semua pos-pos pemasukan yang akan dihasilkan dari bisnis.

Dokumentasi sebagian Design Thinking yang dibuat oleh tim KUS :

 

Dokumentasi contoh Lean Canvas tim KUS :

 

Dokumentasi beberapa Business Plan dan Prototype tim KUS saat presentasi Bisnis :

 

Dokumentasi presentasi bisnis hari pertama :

 

Dokumentasi Presentasi bisnis hari ke-2 :

 

Lembar evaluasi dan saran dari penilai :

DSC_0020_18.JPG

Beberapa contoh business plan dapat di lihat di :

ASTROFOOD MEMPERKENALKAN

joy’s (1)

Moonship Project Kewirausahaan

youcrocket

naninanidome real

Kerajinan Akrilik, kelp 2

Setelah kegiatan presentasi bisnis dilakukan maka tiba lah saatnya kami memberikan dana KUS pada siswa. Dana sebesar Rp 1,000,000 diberikan via CFO (Chief Financial Officer) masing-masing tim yang berjumlah 40 tim.

Berikut dokumentasi penyerahan dana Kelompok Usaha Siswa :

 

Serah terima dana KUS ini kami ibaratkan sebagai serah terima amanah, kepercayaan, support, dan harapan kami selaku panitia Sekolah Kewirausahaan pada siswa-siswa kami. Semoga dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan amanah dan memberi keberkahan pada banyak pihak.

Di akhir cerita level 5, kami sisipkan quotes dan tips untuk memulai presentasi. Semoga bermanfaat.

 

#sekolahkewirausahaan71-17 #jurnalkewirausahaan2017 #thenextentrepreneur

 

Advertisements
Posted in Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017

# Cerita Level 4 : Kelas Inspirasi Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta

Image-Inspirational-Quote-InspiringOthers

Salah satu hal yang paling kami syukuri dari program sekolah kewirausahaan adalah kesempatan mengadakan Kelas Inspirasi. Artinya, kami punya kesempatan untuk belajar langsung dari praktisi yang ahli di bidangnya. Pengalaman belajar langsung dari praktisi ini membantu kami dalam memahami fakta real di lapangan dan mengaitkannya dengan materi yang biasa kami pelajari secara teoritis.

Belajar langsung dari ahlinya, membuat kami menyadari makna pembelajaran sekaligus merasakan manfaat dari ilmu yang kami pelajari. Mengutip ucapan Imam Syafi’i  : “Ilmu bukan lah hafalan. Ilmu adalah segala sesuatu yang memberi manfaat” maka belajar langsung dari ahlinya adalah salah satu metode untuk memperoleh pembelajaran yang bermakna.

Mengapa kami menamai sesi motivasi dari wirausaha ini sebagai Kelas Inspirasi?

Inspirasi adalah suatu proses yang mendorong atau merangsang pikiran untuk melakukan sesuatu tindakan terutama melakukan sesuatu yang kreatif. Inspirasi merupakan suatu proses dimana mental dirangsang untuk melakukan tindakan setelah melihat atau mempelajari sesuatu yang ada di sekitar.
Inspirasi berbeda dengan motivasi. Motivasi adalah proses yang mendorong atau mempengaruhi seseorang untuk mendapatkan atau mencapai apa yang diinginkannya. Sedangkan inspirasi merupakan ide-ide kreatif yang muncul dari dalam diri setelah ada rangsangan dari luar. Namun inspirasi dapat menjadikan sebuah motivasi bagi seseorang untuk mencapai tujuannya.
Dalam beberapa catatan disebutkan bahwa inspirasi sudah ada pada setiap manusia dan lebih dikenal dengan istilah ilham (suatu makna, fikiran atau hakikat di dalam jiwa atau hati). Manusia sudah dibekali oleh Pencipta yang bukan didapat dengan cara dipelajari atau atas kemauannya sendiri, melainkan telah dilimpahkan ke dalam jiwanya. Namun untuk memunculkan inspirasi dibutuhkan rangsangan dari luar yang setiap orang memiliki perbedaan kepekaan dan kepentingan atas rangsangan tersebut.
Banyak orang percaya bahwa untuk menciptakan inspirasi mereka perlu ide unik yang belum pernah dipikirkan sebelumnya. Namun, tidak ada satupun cara untuk mengatur atau membuat setiap orang merasa terinspirasi. Hal ini disebabkan kemampuan atau kepekaan orang berbeda terhadap stimulus yang dapat menciptakan inspirasi.
Sebagai contoh, setelah diperdengarkan sebuah lagu, seorang pencipta musik akan terinspirasi membuat lagu, seorang produser film bisa memiliki inspirasi untuk mem-film-kan lagu itu, bagi orang yang kurang suka musik tentu tidak memiliki inspirasi apapun setelah mendengarkan lagu tersebut.

Berikut beberapa situasi yang dapat merangsang atau memicu terciptanya inspirasi kreatif:

  • Beberapa orang menemukan inspirasi dari buku.
  • Beberapa menemukan inspirasi dari musik.
  • Beberapa orang yang terinspirasi ketika melihat alam.
  • Beberapa orang mengambil kertas dan beberapa pensil warna dan mulai mencoret-coret .
  • Beberapa orang menemukan inspirasi mendengar pembicaraan orang.
  • Beberapa orang menemukan inspirasi ketika mereka melakukan beberapa jenis aktivitas fisik.
  • Beberapa menemukan inspirasi dalam kegiatan sehari-hari.
  • Dan masih banyak situasi yang dapat menciptakan inspirasi mulai dari hal-hal kecil hingga besar.

Dalam Kelas Inspirasi Program Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta, kami menghadirkan 2 orang wirausaha bidang pengolahan makanan awetan dalam kemasan, dan kerajinan berbahan dasar akrilik resin.

Karena kapasitas ruangan yang kurang memadai untuk menampung 288 siswa kelas X maka kami membagi Kelas Inspirasi bersama wirausahawan menjadi dua sesi. Berdasarkan aspek yang dipilih oleh Kelompok Usaha Siswa, peserta sekolah kewirausahaan terbagi menjadi 2 kelompok besar ; 30 tim memilih aspek pengolahan dan 10 tim memilih aspek kerajinan.

Sesi pertama oleh Bapak Krisdiantoro, Owner Kepochips, awalnya akan dilaksanakan pukul 08.00-10.00 di Ruang AV SMAN 71 dengan peserta 30 Kelompok Usaha Siswa (180 orang) namun karena narasumber mengalami kendala di perjalanan, kegiatan kelas inspirasi sesi 1 diundur menjadi pukul 13.00-15.00, adapun sesi pagi hari diisi dengan sharing produk yang ingin dibuat oleh siswa.

Materi Kelas Inspirasi sesi 1 dapat dilihat di : Kepo Chips SMA

Adapun dokumentasi kegiatannya adalah sebagai berikut :

Sementara untuk sesi ke-2 oleh Warung karya lebih difokuskan dalam bentuk workshop agar para siswa yang tergabung dalam Kelompok Usaha Siswa yang memilih aspek kerajinan akrilik bisa lebih memahami karakter bahan akrilik resin dan implementasinya pada sebuah produk inovatif.

Dalam sesi ke-2 ini dihadiri sekitar 100 peserta yang terdiri dari sebagian siswa kelas X MIPA yang memilih aspek kerajinan. Karena resin termasuk zat kimia yang cukup menyengat bau nya maka workshop kami lakukan di luar ruangan namun sesi materi kerajinan dilaksanakan di ruang AV bergantian dengan siswa yang memilih aspek pengolahan. Sesi 2 ini dilaksanakan pukul 10.00-11.30 di halaman SMAN 71 Jakarta.

Berikut dokumentasinya :

Setelah, melaksanakan Kelas Inspirasi bersama Wirausaha pada tanggal 21 Agustus 2017, kami melanjutkan sharing session bersama studentpreneur yang merupakan siswa SMAN 71 kelas XI. Para siswa ini sudah memulai bisnis di bidang kerajinan dan pengolahan Makanan.

Studentpreneur tersebut adalah :

A. Tim kerajinan akrilik : Arsa Maradinata, Aisyah Silvie Gunawan, dan Michelle Manuela Bernasty. Materinya dapat dilihat di studentpreneur kerajinan akrilik resin

Berikut dokumentasinya :

B. Tim pengolahan makanan : M. Hilmy Uwais Q., Kenia Alvita Soburany, Putri Naila, dan Nadhirah Az Zahrah. Materi dapat dilihat di prakarya bayam

Berikut dokumentasinya :

Kelas Inspirasi bersama studentpreneur ini juga menginspirasi. Karena format acaranya sharing tutor sebaya, peserta dan narasumber terlihat lebih “cair” saat melakukan aktivitas tersebut.

Pada akhir kelas inspirasi bersama studentpreneur (aspek kerajinan), panitia sekolah kewirausahaan memberikan tantangan menulis review kegiatan pada siswa. Tantangan ini adalah stimulus dari panitia agar Kelompok Usaha Siswa memulai Jurnal Kewirausahaannya.

Pemenang tantangan tersebut adalah :

Juara 1 : Tim Suvarnadvipa dengan link review sesi studentpreneur Tim Suvarnadvipa

dan Juara 2 : Tim Agelada dengan link review sesi studentpreneur tim agelada

Demikian cerita Level 4 kami, semoga menginspirasi.

#sekolahkewirausahaan71-17 #jurnalkewirausahaan71-17 #thenextentrepreneur

 

 

 

 

 

 

 

 

Posted in Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017

#Cerita Level 3 : Sosialisasi Sekolah Kewirausahaan pada Warga Sekolah & Sekolah Sekitar

“In learning you will teach, in teaching you will learn” -Phil Collins-

Level ke-3 dari kegiatan sekolah kewirausahaan sman 71 Jakarta adalah cerita tentang sosialisasi program sekolah kewirausahaan pada warga sekolah dan sekolah sekitar. Dalam kegiatan ini, kami mengundang pengusaha muda yang juga merupakan alumni SMAN 71, Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Pengawas SMAN 71, Komite Sekolah, Guru dan Pegawai SMAN 71, Perwakilan siswa kelas X peserta program Sekolah Kewirausahaan, serta Perwakilan Sekolah Imbas.

Mengapa perlu sosialisasi kegiatan?

Secara garis besar, sosialisasi dapat dikatagorikan sebagai proses belajar mengajar. Melalui sosialisasi, individu belajar menjadi anggota masyarakat, dimana prosesnya tidak semata-mata mengajarkan pola-pola perilaku sosial kepada individu tetapi juga individu tersebut mengembangkan dirinya atau melakukan proses pendewasaan dirinya.
Berikut beberapa catatan penting terkait sosialisasi yang dikutip dari http://hariannetral.com/2015/06/pengertian-sosialisasi-dan-tujuan-sosialiasi-menurut-ahli.html :
1. Sosialisasi berjalan melalui proses belajar untuk memahami, menghayati, menyesuaikan dan melaksanakan tindakan sosial yang sesuai dengan pola perilaku masyarakatnya (behavioral patterns of society).
2. Sosialisasi berjalan bertahap dan berkesinambungan (kontinu), mulai dari sejak individu dilahirkan hingga dia mati.
3. Sosialisasi berhubungan erat dengan enkulturasi atau proses pembudayaan, yaitu proses belajar dari seorang individu untuk belajar, mengenal, menghayati, dan menyesuaikan alam pikiran serta cara dia bersikap terhadap sistem adat, bahasa, seni, norma, agama dan seluruh peraturan dan pendirian yang ada dalam lingkungan kebudayaan masyarakat
Adapun beberapa tujuan proses sosialisasi diantaranya:
a. Memberikan keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang dalam peran hidupnya sebagai anggota masyarakat.
b. Mengembangkan kemampuan seseorang untuk berkomunikasi secara efektif dan efisien serta mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis, dan bercerita. Dengan melakukan komunikasi, berbagai informasi mengenai masyarakat akan diperoleh demi kelangsungan hidup manusia sebagi individu sekaligus bagian dari masyarakat.
c. Mengembangkan kemampuan seseorang mengendalikan diri dalam melaksanakan perannya dalam masyarakat. Dengan adanya proses sosialisasi, seorang individu dapat memahami hal-hal yang baik yang diajurkan, dan menghindari melakukan hal-hal buruk.
d. Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat karena sosialisasi merupakan proses penularan nilai dan norma yang menjadi kepercayaan pokok masyarakat dan bermanfaat bagi kelangsungan hidup bermasyarakat.
Kegiatan sosialisasi ini berlangsung 2 hari. Awalnya ingin dibuat satu hari, qodarullah saat waktu sudah ditentukan, ternyata sosialisasi harus diundur karena beberapa narasumber mendadak tidak bisa hadir pada tanggal yang sudah ditentukan. Namun karena Nuraini Pahlawati, narasumber wirausaha, hanya bisa hadir di tanggal yang disepakati semula, akhirnya kami mengadakan 2 sesi sosialisasi.
Sosialisasi pertama hanya dihadiri beberapa siswa kelas X yang merupakan CEO tim KUS (Kelompok Usaha Siswa) , beberapa guru, dan narasumber wirausaha. Sosialisasi pertama kami lakukan pada tanggal 11 Agustus 2017 pukul 13.00-15.00 di Ruang AV SMAN 71 Jakarta.
Berikut dokumentasi kegiatannya :
Fokus kegiatan ini adalah open mind. Kak Nuraini Pahlawati Aziza, salah seorang alumni terbaik SMAN 71 Jakarta, berbagi cerita tentang pentingnya menjadi studentpreneur demi kemajuan bangsa. Ia pun menceritakan kisah perjalanan bisnisnya yang sudah mulai dilatihkan sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas.
materi Kak Nuraini bisa dilihat di :
Jumlah pengusaha itu sendiri merupakan tolok ukur majunya sebuah negara. Dalam sebuah berita yang dirilis situs http://ekonomi.kompas.com/read/2016/03/30/192821726/Menggenjot.Jumlah.Ideal.Pelaku.Wirausaha.Indonesia, terungkap jumlah pelaku wirausaha di Indonesia hingga kini masih belum mencapai angka ideal, yakni 2%, dari jumlah penduduk Indonesia. Data terkini dari Global Entrepreneurship Monitor (GEM) menunjukkan bahwa Indonesia baru mempunyai sekitar 1,65 persen pelaku wirausaha dari total jumlah penduduk 250 juta jiwa.

 

Data itu juga menunjukkan bahwa jumlah yang dimiliki Indonesia tertinggal ketimbang tiga negara di kawasan Asia Tenggara yakni Singapura, Malaysia, dan Thailand. Ketiganya mencatatkan angka 7 persen, 5 persen, dan 3 persen dari total jumlah penduduk masing-masing. Meski berita baiknya, GEM memaparkan bahwa hasrat rakyat Indonesia untuk menjadi pelaku wirausaha menduduki posisi kedua. Posisi yang hanya satu level di bawah Filipina.

Inilah sebabnya, mengapa program sekolah kewirausahaan ini begitu strategis untuk menaikkan rasio pengusaha di Indonesia, terutama pengusaha muda. Ini lah saatnya Indonesia bangkit. Generasi muda jangan hanya menghabiskan waktu untuk kegiatan yang tidak bermanfaat. Rencanakan masa depan bangsa yang gemilang sejak usia dini. Tumbuhkan sikap cinta belajar, fokus pada kebermanfaatan diri sesuai potensi masing-masing, dan membangun peradaban masyarakat terbaik.

Sementara sesi sosialisasi program yang ke-2, berlangsung hari Selasa, 15 Agustus 2017 di Ruang AV SMAN 71 Jakarta, pukul 13.00-15.00.

Meski Kasudin Jakarta Timur berhalangan hadir, namun poin-poin penting mengenai program ini, Alhamdulillah, tersampaikan dengan baik oleh Kepala SMAN 71 Jakarta, Ibu Wilin Murtanti dan beberapa hal teknis terkait rangkaian kegiatan Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 diperjelas kembali oleh Ketua Panitia, Annisa Miranty Gumay.

Motivasi dari Pengawas Paket SMAN 71 Jakarta, Bapak Nanang Gunadi, juga mmenambah semangat peserta program sekolah kewirausahaan dan para undangan untuk mulai menanamkan karakter wirausaha pada diri masing-masing karena kita sudah berada di era baru, abad 21. Ketua Komite SMAN 71, Bpk. I Wayan Sentana, pun menanggapi positif kegiatan ini dan mendukungnya.

Adapun undangan yang berasal dari sekolah imbas yang dapat menghadiri kegiatan ini berjumlah 5 orang dari 6 undangan yang dikirimkan. Kelima orang undangan tersebut berasal dari 3 sekolah imbas yang ditunjuk Kemendikbud dalam program ini, yaitu : SMAN 81 Jakarta, SMAN 91 Jakarta, dan SMA Pusaka.

Berikut dokumentasi kegiatan sosialisasi sekolah kewirausahaan SMAN 71 Jakarta :

Demikian cerita level 3 kami. Selamat BELAJAR dan BERBAGI, See You at the Top !

 

#sekolahkewirausahaan71 #jurnalkewirausahaan2017 #thenextentrepreneur

Posted in Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017

# Cerita level 2 : Pengembangan Kewirausahaan pada Kurikulum Sekolah

21st-century-curriculum quotes--21 Century Quotes from Justin Crawford-

Kurikulum, Menurut UU RI no.20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran, serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu.

Ada beberapa prinsip yang dijadikan sebagai acuan agar kurikulum yang dihasilkan memenuhi harapan stakeholders pendidikan yang meliputi siswa, pihak sekolah, orangtua, masyarakat pengguna lulusan dan pemerintah. Prinsip-prinsip tersebut adalah :

  • Prinsip berorientasi pada tujuan

Prinsip dasar menegaskan bahwa tujuan atau kompetensi merupakan arah bagi pengembangan komponen – komponen lainnya dalam pengembangan kurikulum. Tujuan kurikulum / kompetensi yang diharapkan harus jelas dan dapat dipahami oleh para pelaksana kurikulum serta dijabarkan menjadi tujuan – tujuan yang lebih spesifik dan operasional. Tujuan kurikulum juga harus komprehensif yakni meliputi berbagai aspek domain tujuan / kompetensi yang meliputi aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik.

  • Prinsip relevansi

Kurikulum dipandang relevan bila hasil yang diperoleh dari kurikulum berguna atau fungsional bagi kehidupan.

  • Prinsip efektivitas dan efisiensi

Efektivitas dalam suatu kurikulum berkenaan dengan seberapa jauh hal yang direncanakan atau diinginkan dapat dilaksanakan atau dicapai. Efektivitas dan efesiensi dalam kurikulum dapat terjadi jika kurikulum mampu mengusahakan agar kegiatan pembelajaran membuahkan hasil serta dilaksanakan dengan waktu, biaya dan sumber lain secara cermat dan tepat sehingga dapat memenuhi harapan pembelajaran.

  • Kontinuitas

Yaitu saling berhubungan antara berbagai tingkat. Artinya kurikulum mengusahakan agar setiap kegiatan pembelajaran merupakan bagian yang berkesinambungan dengan kegiatan pembelajaran lainnya baik secara vertikal maupun horizontal.

  • Fleksibilitas

Yaitu memberi sedikit kebebasan dan kelonggaran dalam melakukan atau mengambil suatu keputusan tentang kegiatan yang akan dilaksanakan oleh pelaksana kurikulum. Maksudnya, kurikulum mengusahakan agar kegiatan pembelajaran bersifat luas, dan disesuaikan dengan kondisi setempat.

  • Prinsip integrasi

Prinsip ini menekankan bahwa kurikulum harus dirancang untuk mampu mengembangkan manusia yang utuh dan pribadi yang terintegrasi, yaitu manusia yang mampu selaras dengan kehidupan disekitarnya. Inilah sebabnya, kurikulum harus dapat mengembangkan berbagai kecakapan hidup.

Berdasarkan prinsip di atas maka kurikulum sejatinya harus dinamis, berkembang mengikuti perkembangan zaman. Pengembangan kurikulum harus mampu menjawab kemajuan ilmu tekhnologi, memenuhi kebutuhan yang ada dalam masyarakat, meningkatkan kemajuan peradaban masyarakat, dan memenuhi kebutuhan peserta didik.

Adapun beberapa faktor yang menyebabkan suatu kurikulum tersebut perlu dirubah adalah sebagai berikut :

  1. Adanya perkembangan dan perubahan bangsa yang satu dengan yang lain.
  2. Industri dan produksi
  3. Orientasi politik dan praktek kenegaraan
  4. Pandangan kalangan intelektual yang berubah
  5. Pemikiran baru mengenai proses belajar mengajar
  6. Eksploitasi ilmu pengetahuan
  7. Perubahan dalam masyarakat

Proses pengembangan kurikulum, yang berkesinambungan ini, harus di lakukan dengan baik, teliti serta mempertimbangkan faktor -faktor pendukung dan penghambatnya karena apabila perubahan kurikulum tidak mengarah kepada tujuan maka akan mengakibatkan kekacauan.

Kurikulum 2013 sekarang ini telah mengalami revisi terbaru di tahun 2017. Sebenarnya, revisi K13 Tahun 2017 tidak terlalu signifikan. Perubahan di fokuskan untuk meningkatkan hubungan atau keterkaitan antara kompetensi inti (KI) dan kompetensi dasar (KD).

Sedangkan dalam Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) K13 revisi 2017, yang dibuat harus muncul empat macam hal yaitu; PPK, Literasi, 4C, dan HOTS sehingga perlu kreativitas guru dalam meramunya.

Berikut resume revisi Kurikulum 2013 tahun 2017 yang saya kutip dari http://www.pediapendidikan.com/2017/05/rpp-k13-revisi-2017.html :

  1. Mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) didalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.
  2. Mengintegrasikan literasi; keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative);
  3. Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill).

Gerakan PPK perlu mengintegrasikan, memperdalam, memperluas, dan sekaligus menyelaraskan berbagai program dan kegiatan pendidikan karakter yang sudah dilaksanakan sampai sekarang.

Pengintegrasian dapat berupa :

  • Pemaduan kegiatan kelas, luar kelas di sekolah, dan luar sekolah (masyarakat/komunitas);
  • Pemaduan kegiatan intrakurikuler, ko-kurikuler, dan ekstrakurikuler;
  • Pelibatan secara serempak warga sekolah, keluarga, dan masyarakat;

Perdalaman dan perluasan dapat berupa:

  • Penambahan dan pengintensifan kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada pengembangan karakter siswa,
  • Penambahan dan penajaman kegiatan belajar siswa, dan pengaturan ulang waktu belajar siswa di sekolah atau luar sekolah;
  • Penyelerasan dapat berupa penyesuaian tugas pokok guru, Manajemen Berbasis Sekolah, dan fungsi Komite Sekolah dengan kebutuhan Gerakan PPK.

Sementara Pengertian Literasi dalam konteks Gerakan Literasi Sekolah adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik.

Literasi lebih dari sekadar membaca dan menulis, namun mencakup keterampilan berpikir menggunakan sumber-sumber pengetahuan dalam bentuk cetak, visual, digital, dan auditori. Literasi dapat dijabarkan menjadi ;

  1. Literasi Dini (Early Literacy),
  2. Literasi Dasar (Basic Literacy),
  3. Literasi Perpustakaan (Library Literacy),
  4. Literasi Media (Media Literacy),
  5. Literasi Teknologi (Technology Literacy),
  6. Literasi Visual (Visual Literacy).

Keterampilan abad 21 atau diistilahkan dengan 4C (Communication, Collaboration, Critical Thinking and Problem Solving, dan Creativity and Innovation). Inilah yang sesungguhnya ingin kita tuju dengan K-13, bukan sekadar transfer materi. Tetapi pembentukan 4C. Beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di Abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. Penguasaan keterampilan abad 21 sangat penting. 4 C adalah jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekadar pengusaan hardskill.

Higher Order of Thinking Skill (HOTS) adalah kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Kurikulum 2013 juga menuntut materi pembelajarannya sampai metakognitif yang mensyaratkan peserta didik mampu untuk memprediksi, mendesain, dan memperkirakan. Sejalan dengan itu ranah dari HOTS yaitu analisis yang merupakan kemampuan berpikir dalam menspesifikasi aspek-aspek/elemen dari sebuah konteks tertentu ; evaluasi merupakan kemampuan berpikir dalam mengambil keputusan berdasarkan fakta/informasi ; dan mengkreasi merupakan kemampuan berpikir dalam membangun gagasan/ide-ide.

Maka tidak mungkin lagi menggunakan model/metode/strategi/pendekatan yang berpusat kepada guru, namun kita perlu mengaktifkan siswa dalam pembelajaran (Active Learning). Khusus untuk PPK merupakan program yang rencananya akan disesuaikan dengan 5 hari belajar atau 8 jam sehari sedangkan untuk 2 hari merupakan pendidikan keluarga.

Landasan umum pelaksanaan kurikulum K13 Revisi 2017 dapat dilihat di :

1.1. Dinamika Perkembangan Kur-2013_2017

1.2. Penguatan Pendidikan Karakter Kur-13 Dr. Arie Budhiman, M.SI_2017

1.3. Penerapan Literasi Dalam Pembelajaran

Setelah kita membaca sedikit pengantar tentang pengembangan kurikulum, pembahasan selanjutnya adalah mengenai RPP atau Rencana Pelaksanaan Pembelajaran.

blackboard_le

RPP adalah satu keharusan bagi semua guru. Kenapa? karena RPP membantu guru merencanakan pembelajaran sesuai dengan standar kurikulum dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Evaluasi RPP secara berkala oleh guru akan membuat guru tersebut memahami kelebihan dan kekurangan proses pembelajaran yang dilakukannya sehingga Ia dapat terus belajar dan bereksplorasi untuk menemukan metode terbaik dalam pembelajarannya. Sebuah RPP harusnya membantu seorang guru menjadi produktif.

productivity

Faktanya, ada beberapa guru kesulitan membuat RPP, dan ada pula yang mengalami  membuat RPP tapi tidak terpakai. Memang terkadang apa yang dibutuhkan peserta didik justru tidak ada hubungannya dengan rencana yang kita buat. Namun, justru di situ tantangannya.

your student need most

Ketika seorang guru mendapat kejutan, karena apa yang dialami di kelas ternyata tidak seperti yang dituliskan dalam RPP, maka situasi tersebut seyogyanya menstimulus guru untuk makin tertantang belajar dan bereksplorasi.

Seorang guru yang cinta mengajar, dan menyayangi siswanya dengan sepenuh hati akan terus berusaha menemukan cara agar pembelajaran yang dilakukannya selalu bermakna. Para guru yang menginspirasi ini akan selalu punya tempat di hati siswanya.

Berikut beberapa tips membuat RPP :

Lesson-Plans-tips

Kadang kita merasa membuat RPP itu sulit justru karena kita terlalu rumit memikirkan formatnya. Padahal tujuan perumusan format-format, yang dilakukan beberapa tim guru melalui forum MGMP, adalah untuk mempermudah penyusunan RPP  oleh guru. Sederhananya, penyusunan RPP bisa kita mulai dari pertanyaan-pertanyan yang mendasar seperti :

  1. Apa tujuan pembelajaran hari ini ? (manfaat pembelajaran bagi siswa)
  2. Berapa waktu tatap muka yang saya punya hari ini? (alokasi waktu sesuai program pembelajaran)
  3. Bagaimana membuat siswa bisa mendapat makna pembelajaran hari ini dengan mudah? (Pendekatan, strategi, dan metode pembelajaran yang dipakai)
  4. Referensi apa saja yang harus saya punya? (sumber materi)
  5. Media belajar apa yang akan saya pakai? (alat bantu pembelajaran)
  6. Rundown nya bagaimana? (kegiatan pendahuluan-inti-penutup)
  7. Bagaimana cara mengevaluasi pembelajaran hari ini? (sistem penilaian, refleksi pembelajaran)
  8. Apa follow up pembelajaran untuk siswa? (penugasan selanjutnya)

Sekali lagi, penyusunan RPP bisa jadi menyenangkan kalau kita membayangkan diri kita sebagai peserta didik. Jika kita jadi siswa, dengan cara apa kita bisa lebih mudah memahami materi yang diajarkan? apa korelasinya ilmu yang dipelajari dengan fakta aktual di sekitar kita? apa manfaat mempelajari ilmu ini untuk kita?

Ketika seorang guru mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan rancangan aktivitas pembelajaran yang tepat maka Ia sedang merencanakan sebuah proses pembelajaran yang bermakna.

Terkait dengan pengembangan kewirausahaan pada kurikulum sekolah yang kami lakukan dalam program sekolah kewirausahaan, output yang kami produksi adalah  RPP berbasis keterampilan abad 21 (4C). Adapun beberapa hal utama yang kami perhatikan dalam proses penyusunannya adalah :

  1. Apa kebutuhan masyarakat dunia di abad 21?
  2. Bagaimana karakter siswa yang kami hadapi, yang notabene termasuk generasi Z?
  3. Strategi dan metode apa yang paling efektif untuk membangun karakter wirausaha berbasis keterampilan abad 21 pada siswa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pengantar kami dalam mengeksplorasi informasi terkait wirausaha abad 21 dan juga menjadi alasan kami untuk berkolaborasi dengan banyak pihak yang terintegrasi sebelum membuat rancangan program pembelajaran yang tepat bagi siswa kami.

Dalam materi pelajaran PKWU tingkat SMA, ada 4 aspek yang bisa dipilih yaitu : Kerajinan, Pengolahan, Budidaya, dan Rekayasa. Adapun aspek yang kami pilih dalam program Sekolah Kewirausahaan kali ini hanya 2 ; Pengolahan makanan awetan dalam kemasan, dan Kerajinan berdasarkan inspirasi budaya lokal non benda berbahan dasar akrilik. Sebagian besar siswa kelas X MIPA memilih aspek kerajinan, sementara siswa kelas X IPS memilih aspek pengolahan.

Kolaborasi dengan guru mata pelajaran yang terintegrasi dengan pelajaran PKWU, seperti fisika, biologi, kimia, ekonomi, dan seni budaya, tentu menjadi keharusan karena kita menginginkan output kegiatan pembelajaran menjadi otentik dan bermanfaat. Oleh karena itu, tak jarang kami saling berdiskusi lintas mapel disela-sela waktu mengajar untuk mendapatkan inspirasi rancangan pembelajaran yang sesuai dengan karakter siswa sekaligus mampu menjawab kebutuhan zaman.

Salah satu contoh cuplikan RPP mapel PKWU yang kami susun bisa dilihat di :

RPP Pengolahan KD 3 1

Berikut dokumentasi koordinasi pembuatan RPP, buku rujukan, dan penampakan RPP yang kami buat :

Demikian lah cerita Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 #2017 – Level 2, yang bisa kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Di akhir cerita, kami titipkan sebuah quotes penutup :

Orang-orang HEBAT di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu INSPIRASI.

SELAMAT MENJADI GURU YANG MENGINSPIRASI, KARENA SESUNGGUHNYA GURU ADALAH KURIKULUM YANG TERSEMBUNYI !!

#sekolahkewirausahaan71 #jurnalkewirausahaan2017 #thenextentrepreneur

 

Referensi :

http://yuliernawati07.blogs.uny.ac.id/2015/10/15/alasan-alasan-perlunya-pengembangan-kurikulum/

http://inservice.ascd.org/plan-and-prepare-four-lesson-planning-tips-to-improve-student-achievement/

Posted in Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017

#Cerita Level 1 : Kisah Pembuka “Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 tahun 2017”

IMG-20170820-WA0077Kisah ini dimulai sejak terpilihnya SMAN 71 sebagai penerima bantuan pemerintah untuk program kewirausahaan di SMA dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada pertengahan tahun 2017.

Program ini merupakan jawaban dari kegelisahan pemerintah terhadap fakta bahwa sampai saat ini sebagian lulusan SMA tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi dan tidak memiliki keterampilan yang memadai dalam menghadapi tantangan hidup untuk terjun ke masyarakat. Hal ini antara lain disebabkan karena mereka tidak memiliki sikap, pengetahuan, dan keterampilan berwirausaha.

Struktur kurikulum 2013 SMA memuat mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan. Dengan demikian SMA merupakan tempat yang strategis untuk mengembangkan bakat wirausaha yang mandiri dan berkepribadian. Pola pikir yang selama ini berorientasi menjadi pegawai/pencari kerja harus diubah berorientasi menjadi wirausahawan yang dapat menciptakan tenaga kerja. Melalui pendidikan kewirausahaan diharapkan peserta didik akan menjadi kreatif dan mandiri, serta mulai tergerak dan berani membuka usaha sendiri.

Setiap sekolah penerima Bantuan Pemerintah (BanTah) Kemendikbud RI tahun 2017 akan menerima dana sebesar Rp 100,000,000 yang harus dimanfaatkan dan dipertanggungjawabkan sesuai juknis yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Adapun tema yang diangkat oleh SMAN 71 sebagai salah satu sekolah penerima BanTah Program Sekolah Kewirausahaan Kemendikbud RI tahun 2017 adalah “Membangun Karakter Wirausaha Berbasis Keterampilan Abad 21 pada Siswa”.

Gambaran umum mengenai program Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017 dapat dilihat pada slide berikut ini :

Hand Out Sosialisasi Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta, oke

Penyusunan program kegiatan ini dilakukan oleh tim panitia yang terdiri dari Kepala SMAN 71, Seluruh Wakasek dan Staf, Pegawai TU, Guru PKWU, Wali Kelas X, dan beberapa Guru yang mengampu mata pelajaran yang terintegrasi dengan program sekolah kewirausahaan.

Berikut beberapa dokumentasi kegiatan koordinasi panitia :

 

Action Plan Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 dapat dilihat dibawah ini :

 

Di akhir kisah pembuka ini, kami ingin menitipkan sebuah pesan yang dikutip dari Eric Hoffer (25 Juli 1898 – 21 Mei 1983), seorang filsuf moral dan sosial Amerika. Beliau adalah penulis sepuluh buku dan dianugerahi Presidential Medal of Freedom pada bulan Februari 1983. Berikut pesannya :

“Tugas utama pendidikan adalah untuk menanamkan sebuah keinginan dan fasilitas untuk belajar ; bukan untuk menghasilkan orang-orang terpelajar melainkan orang-orang yang terus belajar. Peradaban sejati manusia adalah peradaban pembelajaran ketika kakek-nenek, orangtua, dan anak-anak sama-sama menjadi murid.”

Kami berharap, Program Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta tahun 2017 menjadi salah satu fasilitas yang akan menyalakan semangat banyak orang untuk cinta belajar sepanjang hayat. Sehingga, bukan hanya para siswa yang belajar melalui program ini, tapi juga para guru dan masyarakat, semoga dapat mengambil manfaatnya.

Sampai bertemu di postingan berikutnya ya..

quotes by eric hoffer.jpg

 

#sekolahkewirausahaan71 #jurnalkewirausahaan2017 #thenextentrepreneur