Posted in Melatih Kemandirian Anak

My Exchange Student Stories ; BunSay Level#2

Resume Sesi Pertukaran Pelajar Kelas BunSay Level 2 IIP Jakarta ke IIP Bandung

Waktu: 3 April 2017, pukul 13.00-13.30 WIB

Host: Astarina (IIP Bandung)

Guest: Annisa Miranty Gumay (IIP Jakarta)

Profil Tamu :

# Seorang single Parent dari 4 orang anak ; Haura (10t), Salika (5t), Farih (4t), dan Fatih (8bln) karena suami sudah lebih dulu meninggal sekitar 1,5 tahun lalu.
#Guru Ekonomi di SMAN 71 Jakarta.

🌟 Aliran rasa selama mengikuti perkuliahan kelas Bunda Sayang Level 2 IIP Jakarta

Sebagai seorang single parent, yang juga bekerja dari Senin-Jumat, sering sekali saya pun mengalami kesulitan dalam penyelesaian tugas kuliah Bunda Sayang IIP. Rencana penyelesaian tugas yang sudah tertata manis pada awalnya sering juga mengalami perombakan-perombakan karena hal-hal darurat yang terjadi di luar perkiraan.

Saya failed di materi level 1 itu adalah fakta. Satu hal yang paling saya sesali dari kegagalan di level 1 adalah karena saya merasa kurang “fight” menyelesaikan tantangan ini. Memang ada beberapa kendala yang saya alami, seperti padatnya kegiatan di sekolah, ART yang tiba-tiba sakit, anak sakit, dsb yang membuat penyelesaian tugas jadi tertunda namun yang lebih saya sesalkan adalah mood saya untuk menulis saat itu mendadak hilang, dan tetiba jadi menyerah begitu saja. “Menyerah” ini yang membuat saya makin merasa KALAH.

Jujur, kegagalan ini hampir terulang di level 2. Tapi quote “Berubah atau Kalah” yang terlanjur saya pilih sebagai tagline penyemangat belajar, saat mood sedang turun, terngiang-ngiang di telinga saya. Kalau sampai gagal lagi, rasanya saya malu pada diri sendiri. Akhirnya saya memberikan jeda bagi diri sendiri untuk mengevaluasi proses belajar saya di IIP mulai dari kelas matrikulasi hingga lanjut ke kelas BunSay IIP. Dan, tiba-tiba muncul quotes seperti ini di timeline Fb saya :

“Semua orang di dunia ini merugi, kecuali orang-orang yang berilmu.”

“Orang yang berilmu pun merugi, kecuali mereka yang beramal.”

“Dan yang beramal tetap dalam kerugian, kecuali mereka yang ikhlas.”

Jleb. Kelas Matrikulasi dan Bunsay IIP kan dirancang untuk mereka yang ingin berilmu, beramal, dan bermanfaat dengan ikhlas. Kelas ini bukanlah perlombaan tentang siapa yang paling hebat dalam materi pengasuhan anak, namun ini tentang seberapa jauh ilmu yang diterima di kelas bisa bermanfaat bagi kita dan keluarga kita. Aplikasi ilmu yang diterima pun tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan setiap keluarga yang pasti berbeda-beda.

Akhirnya, Saya merasa harus menyelesaikan tantangan materi level 2, bukan karena ingin jadi yang terbaik di kelas, melainkan karena saya harus mengikat ilmu dengan menulis dan mengamalkannya. Dan sejatinya, 10 hari tantangan adalah latihan pembiasaan, mengamalkan ilmu pada hari-hari setelahnya justru tantangan yang sebenarnya. Bismillah, akhirnya saya berusaha menyelesaikan rapel 4 tugas terakhir di ujung deadline, ditengah-tengah begadang menenangkan Baby Fatih yang demam.

“Berubah atau Kalah!”.
Dan Alhamdulillah terselesaikan juga.

🌟 Sesi Tanya Jawab

1. Astarina IIP Bandung: Bagaimana mengatasi tantangan penyelesaian tugas kuliah BunSay Level 2?

✅Kalau diminta sharing tips manajemen waktu, sebenarnya saya malu.. wong saya saja belum tertib memanage waktu.
Namun ada beberapa hal yang saya catat dalam evaluasi pembelajaran saya, tentang tips mengelola waktu, seperti berikut ini :

1. Inventarisir rencana kegiatan yang akan dilakukan dalam 1 minggu ke depan.

2. Kelompokkan kegiatan yang sesuai prioritas : (1) Penting mendesak, (2) Penting tidak mendesak, (3) Tidak penting tapi mendesak, (4) Tidak penting dan tidak mendesak.

3. Breakdown kegiatan dalam to do list harian. Utamakan prioritas 1 dan 2.

4. Patuhi rencana yang sudah dibuat. Ini yang paling menantang 😬

5. Berhati-hati dengan pencuri waktu (Medsos, TV, Ngobrol tidak bermanfaat)

6. Selalu ingat komitmen awal, punya tagline motivator saat komitmen mulai kendor.

✅Tips Menulis Tantangan 10Hari yang sedang saya coba praktekan juga :

1. Buat resume materi kuliah, garisbawahi indikator kompetensi yang diharapkan dapat dicapai dalam perkuliahan materi tersebut.

2. Cermati tantangan 10 hari yang diberikan, dan buat konsep umum ide aktivitas dan tema tulisan yang akan kita buat sesuai dengan kebutuhan serta keadaan keluarga kita. Kalau bisa, rencanakan 10 tema tulisan sekalian, secara umum saja dulu gak perlu detail.

3. Ingat-ingat setiap indikator kompetensi yang ingin kita capai dalam materi kuliah, setiap kali melihat kejadian yang berhubungan dengan indikator ketercapaian materi segera tulis di notes hp atau di booknote atau rekam kejadian dalam foto.

4. Buat kerangka tulisan, dan segera kirim link ke kolom setoran tugas, setelah ada waktu longgar bisa disempurnakan lagi. Ini tips dari Bu Septi 😘

5. Pilih judul tulisan yang antimainstream, tujuannya sih untuk memudahkan lahirnya ilham dalam proses menulis dan dapet feelnya.

2. Astarina IIP Bandung:
Dgn kondisi seperti skrg, pernahkah mengalami mood swing teh? Bgaimana mengatasinya?
Krn yg sy rasa sbg perempuan mood itu ngaruh k bnyk hal ☺

✅Wah..mood swing mah sering,.. Tapi setelah suami meninggal saya merasa lebih ada rem ketika mulai gak mood..

Setiap sedang down, saya berusaha bersyukur diberi ujian seperti ini, mungkin Alloh tau saya moody, jadi dikasih ujian begini supaya belajar profesional memisahkan mood negatif saat sedang bekerja di ranah domestik maupun non domestik.

Saya selalu tanamkan, kalau sekarang saya yg harus bertanggung jawab thd diri sendiri dan anak-anak, kalau saya moody, yang rugi bukan cm saya tp jg anak-anak.

Saya gak tau saya hidup sampai kapan, jadi harus berusaha melakukan yg terbaik.

Satu hari bener, eh besok khilaf, itu mah biasa, yg penting tetap kembali pada komitmen awal, yang penting jangan sampai saat kita kembali “pulang” dicatat sebagai org yg berputus asa dari rahmat Alloh.

#Closing Statement

Kesempurnaan hanya lah milik Alloh.. Ketika kita tampak baik di hadapan manusia, sesungguhnya itu karena Alloh yang menutupi aib kita, maka bersyukur lah.

-AnnisaM.Gumay-

# Hadiah Tantangan 10Hari Bunda Sayang Level 2 dari Tim Fasil BunSay. Boleh dimanfaatkan untuk mengevaluasi progress latihan kemandirian anak, namun bukan untuk tujuan komersil. Semoga Alloh memberi keberkahan bagi pembuatnya.

IMG_20170406_233922

Advertisements
Posted in Melatih Kemandirian Anak

The Power of Prayer

“Do’a adalah Senjata Orang Beriman!”

Kalau ditanya, apakah ada hubungan doa dengan melatih kemandirian anak, saya 100% yakin menjawab ADA!

Apa buktinya?

Seringkali saya merasa sudah berusaha maksimal dalam mendidik anak, terutama melatih kemandirian tapi kemajuan yang saya lihat sangat sedikit.

Belajar, latih, evaluasi, belajar lagi, ganti metode, latih, evaluasi, begitu..terus..
tapi kok ya.. hasilnya ya..segitu-segitu aja. Atau mungkin, sempat berhasil tapi eh, besoknya kok kumat lagi kebiasaan-kebiasaan anak yang belum mandiri.

Sampai pada satu titik, akhirnya saya menyerahkan urusan ini pada Alloh yang Maha Membolakbalikkan hati. Memohon pada Alloh setiap saat atas pendidikan, perlindungan, dan segala kebaikan untuk anak-anak. Ketika ihtiar telah ditempuh, saatnya mengiringi dengan tawakkal pada Alloh sebagai penutupnya.

Lalu tiba-tiba.. Anak-anak sukarela sholat tepat waktu, tiba-tiba.. Haura paham kapan harus mengerjakan PR dan menyiapkan perlengkapan sekolah secara mandiri di awal waktu, tiba-tiba Farih melaporkan barang-barang yang sudah Ia rapikan sendiri, atau Salika yang terlihat lebih PD dan tidak gampang Baper lebih dari sebelumnya..

DSC_1505

Sederhana, tapi amat berarti bagi saya. Saat memperhatikan bagaimana do’a bekerja, sungguh, ternyata saya menerima lebih dari apa yang saya harapkan sebelumnya.

Adalah sebuah do’a.. yang berulang-ulang saya ucapkan, setiap selesai sholat, setiap turun hujan, setiap saya merasa sedih.. terutama saat menghadapi masa sulit mendidik anak seorang diri.
“Semoga Alloh Kuatkan, Semoga Alloh Sabarkan, Semoga Alloh Mudahkan Saya dalam Meramut dan Mendidik Pejuang-Pejuang Peradaban..”

Mungkin do’a itu tidak serta merta dijawab sekarang, tapi yakinlah bahwa “Mengulang-ulang do’a itu seperti kayuhan sepeda, suatu saat Ia akan membawamu ke arah yang kamu tuju, maka sempurnakan lah do’a mu dengan Usaha, Syukur dan Sabar”

IMG_20170319_025423.JPG

#Tantangan10Hari
#Hari10
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

 

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Prerequisite

IMG_20170319_011405.JPGKata prerequisite (prasyarat) mengingatkan saya pada masa-masa kuliah, maupun tahapan belajar mengajar. Dalam kehidupan, ternyata banyak hal yang menjadi prasyarat untuk hal berikutnya.

Prasyarat ini lah yang membuat kita semestinya merenungi setiap tahap proses yang kita lalui, juga setiap tantangan dan masalah yang kita hadapi saat ini, karena bisa jadi, semua masalah yang kita hadapi saat ini adalah sebuah prasyarat untuk menguji kompetensi kita dalam menghadapi hal besar lain setelahnya.

Berkaitan dengan Melatih Kemandirian anak, saya jadi mengingat materi sebelumnya, yaitu Komunikasi Produktif.
Saya gagal memenuhi tantangan pada level ini. Jeleknya, ketika akhirnya menyerah pada tantangan kali ini, saya jadi kurang konsisten mengaplikasikan materi ini dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Tantangan10Hari ini kan sebenarnya ibarat games bintang biru dan bebek manyun tempo hari. Challange ini adalah pengantar latihan konsistensi. Meski sudah lewat dari masa tantangan, akan sangat baik jika saya tetap berusaha konsisten melatih dan mengaplikasikan materi ini dalam keseharian.

Ketika memulai tantangan baru di level 2, saya baru lah menyadari bahwa ternyata,.. dalam melatih kemandirian anak akan jauh lebih efektif dan efisien jika saya bisa berkomunikasi secara produktif. Prerequisite kan?!

Saat mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan saya di level ini, saya menemukan bahwa keberhasilan melatih kemandirian anak justru sering terjadi ketika saya memperhatikan diksi, bahasa tubuh dan ekspresi positif serta intonasi yang baik dalam mengkomunikasikan maksud dan instruksi saat melatih anak mandiri.

Dan sebaliknya, ketika saya tidak mampu mengendalikan emosi, salah memilih kata, serta menyampaikan instruksi/maksud dengan intonasi dan bahasa tubuh yang negatif, anak-anak cenderung mengabaikan atau malah memantulkan reaksi negatif atas perlakuan saya sebelumnya.

Catatan evaluasi materi level 2 hari ini adalah :
1. Latihlah kemandirian anak dengan melatih kemandirian dirimu terlebih dahulu.
2. Aplikasikan materi 1 dengan baik sebelum masuk ke materi 2.
3. Tantangan yang sebenarnya bukan hanya 10 hari melainkan setiap hari. Latihlah terus konsistensimu.. Makin Banyak Latihan = Makin Banyak Jam Terbang,Ingat Milestone di Kelas Matrikulasi!
4. Cepat bangkitlah ketika gagal dan segera buat strategi baru yang lebih baik. Jangan sampai mati dalam keadaaan berputus asa dari rahmat Alloh dan berhenti berusaha!

#Tantangan10Hari
#Hari9
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Namai Perasaanmu!

IMG_20170319_000517.JPGSore ini, Salika tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan muka cemberut. Ketika saya bertanya “Kenapa?” Dia cuma bilang “Nggak ada apa-apa.” lalu mlipir masuk kamar dan menutup pintu.

Diantara 4 anak kami, Salika termasuk yang paling Baper aka Bawa Perasaan. Agak aneh juga.. Sebenarnya dia bisa becanda, malah kadang jail.. cuma.. Ketika dibalas mendadak ngambek.

Sikapnya itu sering membuat saya introspeksi diri, saat hamil Salika, saya memang bawaannya sensi, dan sering merajuk karena minta lebih diperhatikan oleh suami yang saat itu sedang sibuk dinas ke luar kota ataupun sibuk dengan hobby barunya : Mancing.

Seiring berjalannya waktu, saya berusaha belajar banyak tentang pengasuhan anak karena saya merasa banyak sekali kesalahan, kelalaian, dan kecerobohan saya pada masa awal menjadi Ibu. Kini, masalah pengasuhan sering saya jadikan tantangan praktek ilmu parenting yang sudah dipelajari sekaligus menebus dosa pengasuhan di masa lalu.

Kadang saya merasa senang karena berhasil mengaplikasikan ilmu parenting dan cukup puas dengan hasilnya. Namun, pernah juga saya gagal karena tidak bisa mengendalikan emosi.

Kembali ke Salika.
Tidak berapa lama dari Salika masuk ke kamar, datanglah dua orang temannya memanggil nama Salika dari balik pagar. Salika tiba-tiba keluar dan berkata “Bilang aja aku gak ada ya!”
Lah,.. saya jadi nyengir sendiri.
“Ada apaan lagi nih?!”, Batin saya.

Lalu saya menyuruh kedua teman Salika masuk, dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka bilang, tadi tuh mereka sedang main sepeda bersama, tidak sengaja, Salika menabrak salah satu temannya sampai jatuh, tapi jatuhnya tidak mengkhawatirkan. Namun anehnya, saat itu Salika malah pulang ke rumah padahal temannya masih mau main. Wah,..ini mah, Salika mungkin merasa bersalah tapi gak paham dengam perasaannya, Dia hanya merasa tidak enak lalu malah meninggalkan temannya, bukannya minta maaf.

Kemudian akhirnya Salika saya panggil keluar kamar dan Saya ceritakan bahwa saya sudah tau kejadian sore ini. Saya sampaikan bahwa perasaan yang dialami Salika adalah rasa bersalah, dan obatnya adalah meminta maaf, menjelaskan yang terjadi, memastikan temannya tidak dalam kondisi bahaya/ mencari pertolongan, dan tidak mengulang kesalahannya lagi.

Saya meminta Salika menamai perasaannya, seperti yang pernah saya lakukan saat praktek materi “Bahasa Cinta, Bahasa Ibu” bersama Ibu Septiani Murdiani.

Tak lama Salika terlihat mulai paham dengan perasaannya, Ia kemudian minta maaf dan akhirnya kembali bermain dengan teman-temannya.

Namai Perasaan ternyata cukup efektif dalam melatih kemandirian emosi anak. Dengan menamai perasaan, anak mengenal berbagai macam emosi dan cara menyikapinya.

#Tantangan10Hari
#Hari8
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Bintang Biru dan Bebek Manyun, Our Stamp Collecton Game :)

Setelah saya memasuki setengah perjalanan Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian, terbersit lah ide untuk memberikan Stamp Collection Game pada anak-anak. Intinya sih konsep Reward and Punishment.. tapi ada sedikit modifikasi.

Aturannya seperti ini :

  1. Setiap anak punya lembar pengumpulan stempelnya masing-masing.
  2. Lembar pengumpulan stempel diisi setiap hari.
  3. Masing-masing anak menuliskan kebaikan dan kesalahan yang mereka lakukan pada hari itu dengan JUJUR.
  4. 1 kebaikan = 1 stamp “Bintang Biru” dan 1 kesalahan = 1 stamp “Bebek Manyun”
  5. Skor akhir = Total Bintang Biru – Bebek Manyun
  6. Anak dengan skor akhir Bintang Biru yang terbanyak pada setiap minggunya akan mendapat reward tabungan Rp 10,000

Ternyata anak-anak sangat antusias dengan game ini. Masing-masing dari mereka berusaha melakukan banyak kebaikan dan sprotif untuk jujur mengakui kesalahan. Dan, sesi yang paling ditunggu oleh mereka adalah saat menyetempel Lembar Pengumpulan Stiker kemudian menghitung jumlah Bintang Biru dan Bebek Manyun yang mereka peroleh pada hari itu.

Mba Haura yang sedang semangat menabung untuk beli sepatu makin rajin nyuci piring, bebenah dan jadi lumayan cepat tanggap kalau disuruh. He..he.. mungkin saat ini Haura masih di tahap mengharap pamrih, tapi biarlah sambil memotivasinya di tahap awal. Harapan saya, secara tidak sadar, Haura akan terbiasa semangat melakukan kebaikan dan mengurangi kesalahan.

Lain lagi dengan Kakak Salika yang masih terjebak di urusan Baper alias BawaPerasaan. Sore ini, Kakak Salika tutup kuping saat dinasehatin Bunda dan marah-marah saat diingatkan untuk sholat Ashar. Saat itu, Bunda hanya bisa diam namun ketika Kakak Salika ngajak ngomong Bunda, gantian deh..Bunda pura-pura nggak denger. Alhamdulillah si Kakak peka dan langsung minta maaf karena udah ngerasain bahwa dicuekin itu sangat tidak enak. Setelah Kakak Salika mengakui kesalahannya, baru deh dia bisa menyimak nasehat dengan baik. Dan tetap sportif menyetempel Bebek Manyun di Lembar Pengumpulan Stempelnya.

Kalau Farih, salah satu hal yang masih harus selalu diingatkan adalah tentang bersikap sopan saat dinasehati bukannya malah meledek. Terkadang bagi Farih, nasehat Bunda atau Neneknya bisa dijadikan becandaan. Kalau sudah begitu kembali saya mengulang cerita tentang Rasulullah SAW tidak pernah bercanda melampaui batas, agaknya cerita itu masih harus saya ulang-ulang. Tapi Farih cukup kooperatif untuk urusan membantu buang sampah ataupun belanja ke warung.

Reward and punishment lumayan efektif untuk memotivasi anak-anak agar terbiasa melakukan kebaikan dan meminimalisir kesalahan. Namun, yang jauh lebih penting adalah mengingatkan mereka bahwa setiap tindakan yang kita lakukan memiliki konsekuensi. Konsekuensi ini bisa positif maupun negatif.

Reward and punishment hanya contoh kecil dari konsekuensi tersebut. Konsekuensi positif, yang anak-anak rasakan setelah melakukan kebaikan, jauh lebih utama dari reward dalam contoh kecil tersebut.

#Tantangan10Hari
#Hari7
#Level2
#MelatihKemandirian
#KulianBunSayIIP

 

Posted in Melatih Kemandirian Anak

ART FreeDay Challange

Hari Minggu di rumah kami adalah “ART Free Day”. Artinya, semua pekerjaan dari pagi hingga hari berakhir ya… tanggung jawab bersama. Dulu mungkin pernah jadi tanggung jawab Bunda, doang. Tapi setelah mengingat dan menimbang bahwa bunda akan kesulitan kalau harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah seorang diri maka diputuskan lah beberapa peraturan ini di rumah kami.

Aturan ART Free Day ;
Syarat boleh main ke luar rumah adalah :
1. Sudah mandi pagi
2. Sudah sarapan
3. Sudah melaksanakan tugas harian, minimal 1 tugas
4. Main harus sambil menjaga adik (main bersama adik)
5. Memakai pakaian yg baik
6. Memperhatikan adab bermain
7. Pulang sebelum pukul 11.00

Awalnya, aturan ini sulit diterapkan. Minggu pagi kami dilalui dengan drama omelan karena anak-anak masih mau leyeh-leyeh di hari libur, atau omelan karena bangun tidur cuma pindah tempat tidur ke depan TV, dan omelan karena anak-anak rebutan kamar mandi begitu disamper teman-temannya untuk bermain, dan banyak drama-drama lainnya di sela kerepotan bunda menyiapkan sarapan, dan beberes rumah. Belum lagi kalo Baby Fatih rewel, Argh.. langsung deh, berbagai tanduk muncul di kepala Bunda.

Sampai satu waktu saya berfikir, “Gak bisa begini terus nih!” dan akhirnya kami menyepakati aturan-aturan di atas.

Saat ART FreeDay, Haura lebih mandiri daripada adik-adiknya karena, secara usia, Ia juga lebih tua dari adik-adiknya. Hanya saja kepedulian untuk bermain bersama adik-adik masih sangat kurang. Setelah selesai dengan dirinya, Ia langsung main dengan teman-teman tanpa mempedulikan adiknya.

Salika malah jauh lebih care pada Farih. Memperhatikan dan mengingatkan agar Farih segera mandi, kemudian lanjut sarapan bersama. Salika juga sering membantu Farih menyalakan lampu kamar mandi. Mungkin jarak usia yang dekat lah yang membuat mereka berdua lebih kompak bermain bersama, apalagi teman-teman bermainnya juga sama.

Adapun Farih, kalau untuk urusan main mah nomer 1, Ia akan segera bergegas mandi, tidak mau ketinggalan. Lumayan mudah memotivasi Farih untuk mandi dan makan saat ART FreeDay kalau rewardnya adalah main keluar.

Saya memang lebih memilih anak bermain dengan teman-temannya di ruang terbuka daripada stay di rumah, nonton TV atau pun pegang gadget.
Penggunaan TV dan gadget di rumah kami memang sangat terbatas. Selain bermain di luar, terkadang anak-anak dan temannya memainkan mainan edukatif ataupun membaca buku di rumah kami.
Pernah juga Haura menginisiasi teman-teman dan adiknya untuk proyek craft, entah bikin hiasan dari flanel, dan kardus bekas, ataupun membuat slime di rumah.

Resikonya, rumah memang seperti kapal pecah, ditambah lagi dengan suara “ceria” anak-anak membuat Baby Fatih gak mau tidur, akibatnya Emaknya anak-anak yang kecapean karena standby terus mulai bertanduk lagi 🙂

Alhamdulillah lama-lama anak-anak juga paham sendiri, kapan mereka rame-rame main di rumah dan kapan memilih main di luar rumah. Saat jam istirahat Fatih, kakak-kakak dan teman-temannya memilih bermain di luar rumah.

ART FreeDay ini sebenarnya cukup melelahkan bagi saya. Setelah full kerja Senin-Jumat, ingin istirahat weekend saja sepertinya sulit sekali. Namun, ART FreeDay ini sangat membantu program latihan kemandirian bagi anak-anak dan juga emaknya anak-anak.

Awalnya mungkin sangat melelahkan, karena kami semua berproses untuk mandiri. Tapi sekali saja ada celah untuk inkonsistensi, artinya kami kembali turun level dan harus mengulang proses melelahkan dari awal lagi. Itu lah sebabnya, meski lelah.. Saya tetap berusaha bersyukur dengan keriwehan ini dan tetap konsisten menikmati proses serta memilih bersahabat dengan masa-masa repot ini.

Ada kalanya menyelusup perasaan khawatir kalau harus menitip Baby Fatih pada Farih saat saya harus sholat atau pun ke toilet sebentar. Namun, setelah melihat Baby Fatih dan Mas Farih happy-happy aja.. saya jadi berfikir, kadang-kadang kita perlu juga memberikan kepercayaan saat melibatkan anak-anak dalam berbagi pengasuhan. Sering saya katakan pada mereka bahwa saat ini saudara terdekat mereka ya hanya mereka berempat, yang harus saling sayang, peduli dan menjaga satu sama lain. Mereka harus belajar saling menjaga karena Ayah Bunda tidak akan selamanya ada.

collage-1488899911606

Kalau dulu, saya gak PD menghadapi ART FreeDay, Alhamdulillah sekarang saya sudah mulai berani menghadapinya. Kuncinya sebenarnya simple : Memaksa diri keluar dari zona nyaman, banyak latihan dan konsisten!

Dan,.. pilihan sikap kita terhadap masalah akan sangat menentukan hasil yang kita terima.

Masalah atau Tantangan? It’s Your Choice!

#Tantangan10Hari
#Hari6
#Level2
#MelatihKemandirian
#KulianBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Bunda juga masih Latihan Mandiri, lho..

Tidak terasa sudah 1 tahun 4 bulan suami “pulang” duluan..

Hari ini saya merenungi apa saja hal yang berubah dalam diri saya, bagaimana saya juga dipaksa berproses oleh keadaan untuk jadi pribadi yang lebih mandiri dari sebelumnya.

Ternyata, melatih kemandirian bukan hanya untuk anak-anak. Saya sebagai Ibu dengan status single parent pun masih perlu terus belajar dan melatih kemandirian untuk diri sendiri.

Pada fase awal kepergian suami, Qodarulloh, Mbo’e, ART andalan yang sudah lama ikut dengan keluarga kami juga harus pulang kampung. Keluarga di kampung saat ini sangat membutuhkan kehadirannya.

Berat rasanya harus kehilangan 2 orang andalan di saat yang hampir berdekatan, tapi..Mbo’e kan sudah puluhan tahun kerja terpisah dari keluarga, pasti di sisa usianya, Ia juga ingin merasakan mendampingi anaknya karena suami Mbo’e juga sudah lama meninggal. Gak beda jauh lah dengan saya yang sering ngarep jadi IRT aja supaya bisa fulltime dengan anak-anak..

Akhirnya, jurus pamungkas saya saat itu hanya berbaik sangka pada Alloh.. dan bertekad untuk memaksa diri melatih kemandirian dalam pengurusan anak.

Lalu, kematian suami justru menjadi cambuk bagi saya untuk memanfaatkan sisa hidup dengan sebaik-baiknya. Mengejar ladang pahala terdekat saya : Meramut 4 anak yatim sebagai amalan andalan.

Berbaik sangka pada Alloh ini jua lah yang menjadi charger saya untuk bergerak, mengubah kerepotan menjadi kenikmatan.

Ternyata, bersyukur sekali dipaksa keadaan. Seumur hidup saya, baru tuh saya bisa masang regulator tabung gas untuk kompor. Prestasi selanjutnya adalah lulus ngangkat galon air mineral ke dispenser, sesuatu yang disangsikan Arham Kendari mampu dilakukan para emak-emak, he..he..

Kalau dulu saya bisanya manyun doang saat suami telat jemput, dan ngedumel dalam hati: “kenapa..sih saya takut mengendarai motor?!”
Sekarang alhamdulillah udah bisa ngacir meski cuma pake sepeda listrik (tetep belum PD pake motor, he..he..).

Lumayan lah gak ribet-ribet amat kalau darurat perlu beli obat, belanja ke pasar, ke tukang fotocopy, anter jemput anak, ngaji, atau mondar-mandir daerah duren sawit dan sekitarnya..

Bersyukur lagi karena di saat suami meninggal, kami masuk di era transportasi online. Sangat membantu kalau lagi laper tapi gak sempat masak. Saat mau silaturahim bawa pasukan banyak kini pun makin dipermudah dengan aplikasi transportasi online tersebut. Maka Nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan?

Kepergian suami adalah momentum saya bebenah diri untuk lebih mandiri, melatih kecerdasan emosi dan ketahanmalangan pribadi,
#halah..bahasanya macem lagi bikin tesis aja 🙂

Adakalanya saya berhasil dengan tantangan kesabaran namun sering juga gagal 😦

Pernah,.. nyesel sendiri pas ngeliat 4 bocah tidur lelap. Wondering : “Kenapa ya.. hari ini saya masih gagal nahan emosi untuk gak bentak-bentak anak, padahal udh berusaha sa pol kemampuan?”. Trus besoknya berusaha utk berubah. Kadang satu waktu terkendali namun pernah juga ada waktu dimana semua terasa lepas dari kendali saya.

Di sini lah perlunya keluarga, tetangga, sahabat, dan komunitas yang mendukung. Sungguh, Alloh telah menitipkan kasih sayang dan pertolongan-Nya lewat orang-orang baik yang kita temui dalam episode hidup ini. Jadi janganlah kita berputus asa dari rahmat-Nya.

Sadar diri masih miskin ilmu, dan sadar diri ini masih perlu berlatih untuk menaklukkan tantangan hidup membuat hari-hari saya menjadi dinamis. Selalu saja ada hal baru yang diajarkan Alloh lewat episode kehidupan saya setiap harinya..

“Never Stop Learning because Life Never Stop Teaching”

Jauh-jauh ah,..dari pikiran putus asa. Tetap berusaha melakukan yang terbaik sa pol kemampuan meski kadang hasilnya belum maksimal.

Setidaknya, kalau nanti saya “dipanggil pulang” semoga dalam keadaan sedang berusaha jadi orang yang lebih baik, dan semoga kelak pada saatnya nanti saya bisa dipertemukan dengan husnul khotimah.

IMG_20170307_232546.JPG

#AnnisaMirantyGumay
#Hari5
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Setan, siapa takut?!

“Wahai orang-orang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqoroh: 208)

Seperti apa sih gambaran setan menurut pandangan anak?
Saya lumayan penasaran dengan jawaban pertanyaan ini. Karena duo krucil ; Kakak Salika dan Mas Farih penasaran banget kalau dalam urusan nonton film atau denger cerita setan (baca: kisah misteri yang seram bin horor).

Mereka berdua sibuk ngintip-ngintip kalau ada film seram di TV atau dengar kisah horor oleh-oleh dari mba Haura. Ujung-ujungnya, setelah nonton, ada.. aja alasan duo krucil untuk minta ditemanin ngambil minum di dapur, ditemanin buang sampah di dapur, di temanin naruh piring kotor ke bak cucian piring, bahkan untuk urusan sekedar ngambil buku di perpustakaan atau ke toilet aja jadi ikut-ikutan minta ditemanin karena takut setan.

Berkali-kali saya sampaikan bahwa kita gak perlu takut pada setan jika selalu minta perlindungan Alloh, Alloh kan selalu menjaga kita.

Eh, dengan polosnya, Salika menimpali “Aku kan takut kalo ada pocong atau kuntilanak yang serem, kl minta tolong sama Alloh trus Alloh lagi sibuk sama urusan penting gimana?”
Lah.. jadi ngakak denger komentarnya. Lalu saya sampaikan bahwa Alloh Maha mengetahui dan Maha Hebat, Alloh mampu mengurus semua mahluk ciptaannya, Alloh tau semua hal dan keadaan mahluknya, dan Alloh akan memberi pertolongan pada hamba-Nya yang taat dan selalu berdoa memohon pertolongan-Nya.

Kemudian.. lumayan deh, duo krucil mulai berkurang takutnya.
“Kayak Ade dong Kak, Ade pemberani, kan kata Bunda Kita anak Ayah, Ayah aja pemberani gak penakut”, sambung Farih..

Statement dari Farih tersebut agaknya hanya berlaku kurang dari 2 jam. Setelah itu ya.. Podo wae, pada ketakutan lagi, terutama kalau menjelang tidur, saat semua lampu dipadamkan.

Sempat saya sampaikan pada anak-anak “Ngapain nonton film serem kalau cuma bikin ketakutan?!” lalu saya matikan TV dan mengalihkan pada aktivitas membaca buku.

Sempat mikir juga, gimana.. cara mengatasi atau minimal mengurangi rasa takut anak-anak pada setan ya..

Kemudian, saya teringat salah satu metode favorit yang menurut saya lumayan efektif dalam menanamkan karakter baik serta menginspirasi penerapan akhlak mulia pada anak. Agaknya, saya juga bisa pakai metode ini saat melatih kemandirian mengelola emosi pada anak-anak.

Dan,.. pilihan saya jatuh pada buku “Setan, Siapa takut?!”.
Dalam buku tersebut dijelaskan tentang setan yang sebenarnya yaitu setan-setan yang biasa mengganggu manusia. Ada setan yang membuat malas bangun subuh, ada setan yang menjauhkan manusia dari adab makan ala Rasulullah SAW, Setan yang menggoda agar manusia tidak menyempurrnakan wudhu atau malah boros air wudhu. Tentang setan yang membuat kita berbuat tidak baik pada orang lain, dan sebagainya.

Di buku ini juga diresumekan tentang adab-adab ibadah Rasulullah SAW dan cara mengatasi godaan setan.

Alhamdulillah, dengan bercerita, anak-anak jadi punya gambaran tentang setan yang sesungguhnya, dan yang terpenting mereka jadi berusaha untuk mengalahkan setan-setan yang menggodanya.

Dan, meski konsistensi anak-anak dalam melawan godaan setan masih harus terus dilatih, tapi lumayan lah.. Minimal sekarang mereka bisa berkata: “Setan, siapa takut?!”

#AnnisaMirantyGumay
#Hari4
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunsayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Get Organized! All the Cool Kids are Doing It :)

“KITA adalah apa yang kita LAKUKAN BERULANG-ULANG, KEUNGGULAN bukanlah sebuah TINDAKAN melainkan KEBIASAAN.”

“Pola pikir membentuk Kebiasaan, Kebiasaan membentuk Karakter, Karakter membentuk Nasib, Nasib menentukan Pola Pikir kembali”. Hal ini lah yang melandasi pentingnya membuang kebiasaan buruk dan membangun kebiasaan baik.

Alhamdulillah, saya bersyukur anak-anak sudah bisa mandi dan makan sendiri. Lumayan lah bisa meringankan tugas saya karena di rumah kami tidak ada ART yang menginap dan waktu saya banyak terfokus di Baby Fatih.

Tantangan berikutnya bagi saya adalah bagaimana mematahkan kebiasaan buruk anak-anak dan menumbuhkan kebiasaan baik pada mereka.

Untuk Haura, saya memfokuskan diri untuk melatihnya bangun pagi, membuat jadwal harian sendiri dan, tentunya, mematuhi jadwal harian tersebut. Di dalam jadwal harian, wajib dituliskan tugas rumah tangga rutin yang Haura pilih untuk dilakukan minimal 1 kali sehari.

Untuk Salika dan Farih, saya juga masih terfokus pada pendampingan bangun pagi, kesadaran untuk mengurus kepentingan pribadi secara mandiri, dan melakukan satu tugas rumah tangga rutin yang dipilihnya untuk dilakukan minimal 1 kali sehari.

Kenapa HARUS BANGUN PAGI?

Jawabannya ada pada gambar berikut ini :

berkah-umat-rasulullah-di-pagi-hari

Semoga dengan terbiasanya anak-anak bangun pagi maka mereka akan terhindar dari sifat malas, memiliki tubuh yang lebih sehat, dapat menyelesaikan checklist harian dengan lebih cepat dan tentunya menjadi pribadi yang diberkahi oleh Alloh.

Demi melancarkan program bangun pagi, saya akhirnya membeli jam weker untuk anak-anak. Lumayan menghibur, melihat ekspresi anak-anak saat ngoprak-ngoprek jam weker tersebut. Maklum kalau sedikit norak, karena biasanya Bunda yang jadi alarm. Alhamdulillah cukup memotivasi untuk bangun pagi mumpung lagi seneng-senengnya mematikan alarm, he..he..

Tak lupa Saya pun menitipkan whiteboard note set pada Haura untuk dipakai menulis jadwal harian sehingga memudahkannya men-cheklist tugas harian yang sudah dilaksanakan.

Untuk tugas rumah tangga harian, Haura memilih mencuci piring. Salika memilih jadi seksi beberes, terutama beberes sendal di teras. Sementara Farih, tugasnya membuang sampah. Namun hal yang paling urgent untuk dirubah oleh Farih adalah membiasakannya membereskan mainan/barang setelah selesai dipergunakan.

Alhamdulillah anak-anak semangat mengikuti program bangun pagi dan kerja sama urusan rumah tangga ini. Berikut beberapa portofolio yang sempat terekam :

Jam weker dan To-Do-List Haura.

dsc_1466

Hasil tugas harian salika, membereskan sendal di teras rumah.

dsc_1462

Farih belajar membereskan mainannya sendiri

Tadinya saya sempat kurang yakin dengan program ini, dan masih dalam proses memotivasi diri untuk mulai memdampingi anak berlatih mandiri. Tapi, kalau tidak dimulai sekarang, mau nunggu sampai kapan?

Meskipun hasil yang terealisasi mungkin belum sesempurna harapan namun setidaknya saya dan anak-anak sudah berproses untuk membangun kebiasaan baik. Berusaha mengatur diri untuk lebih efektif dan efisien dalam memanfaatkan waktu. Agar kami tidak termasuk golongan orang yang tertipu oleh waktu luang.

Let’s Get Organized ! All the Cool Kids are Doing It 🙂

#AnnisaMirantyGumay
#Hari3
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP