Posted in RaQueeFA_House #Project

Oleh-Oleh Liburan Ramadhan bersama KELOPAQ (Keluarga Pecinta Al Quran)

Menghafal 99 Asmaul Husna dengan metode bercerita bersama KELOPAQ, Jln H. Baing, Kelurahan Tengah, Kramat, Jakarta Timur.

Sesi memanah

Pada hari ke-2 adalah sesi pengumpulan poin. Alhamdulillah Haura mengumpulkan 50 poin untuk 6 kali memanah di babak penyisihan dan mengumpulkan 43 poin untuk 6 kali memanah di babak final. Dan, jadi runner up utk sesi memanah..

Salika Farih masih di tahap coba-coba. Alhamdulillah Farih seneng banget bisa nyoba memanah beneran.

PR bersama demi Mahkota di surga

Semoga PR ini bisa diselesaikan dengan baik, aamiin..

Posted in Stories of My Class

Miniatur Free Trade Area dalam Economic Display Competition 71’18

Era Perdagangan Bebas yang sudah di depan mata adalah tantangan tersendiri bagi Indonesia. Saya merasa perlu untuk mengangkat topik ini dalam pembelajaran Ekonomi di kelas XI. Terlebih, 2 Kompetensi Dasar yang harus dikuasai peserta didik di kelas XI akhir semester ini adalah tentang Kerjasama Internasional dan Perdagangan Internasional.

Menurut Saya, generasi Indonesia kini harus dibekali dengan ilmu dan strategi menghadapi pasar bebas serta dilatih untuk siap berkompetisi di pasar internasional secara fairplay dengan tetap memupuk kecintaan mereka pada bangsanya. Semangat berkolaborasi dengan sesama pengusaha Indonesia harus didengungkan, karena semangat kolaborasi ini lah yang menjadi modal penting dalam memenangkan persaingan pasar internasional.

Latar belakang ini menginspirasi saya untuk membuat Free Trade Project yang berlanjut dengan Economic Display Competition 71’18.

Intinya Setiap tim (1 team @3 orang peserta didik) dalam 1 kelas  diasumsikan sebagai perusahaan Indonesia yang sedang merencanakan produk yang mampu bersaing dalam persaingan pasar internasional.

Masing-masing tim harus merencanakan bisnis terbaik mereka yang berbasis 7P (Product, Price, Place, Promotion, People, Proses, Physical Evidence) demi bersaing di pasar internasional. Gambaran 7P dalam Marketing Mix adalah sebagai berikut :

marketing-mix-4-7ps-7-638 (1).jpg

Detail mengenai 7P bisa dilihat disini

Selanjutnya, setiap tim harus membuat persiapan presentasi produk dan poster produk yang akan dipajang di kelas masing-masing dalam Economic Display Competition.

Setiap perusahaan dalam 1 kelas, nantinya harus berkolaborasi dengan sesama perusahaan lainnya di kelas dalam Economic Display Competition. Setiap perusahaan harus membuat poster produk unggulan dan brand perusahaan masing-masing kemudian dikolaborasikan dengan hasil karya perusahaan lainnya untuk ditempel di kelas.

Setiap kelas bebas menentukan tema dan media (Boleh 2D dan 3D) dalam mendisplay poster perusahaan. Kriteria penilaian dalam Economic Display Competition ini adalah kreativitas, kerjasama tim, kelengkapan tim yang menempelkan poster, dan ketepatan waktu pengerjaan.

Berikut dokumentasi persiapan rencana bisnis beberapa tim siswa yang saya rekam :

Berikut ini dokumentasi Presentasi Tim dalam International Trade Project 71’18

 

Dokumentasi Economic Display Kelas XI MIPA 3, dan beberapa moment persiapannya :

Dokumentasi Economic Display Kelas XI IPS 1, dan beberapa moment persiapannya :

Dokumentasi Economic Display Kelas XI IPS 2, dan beberapa moment persiapannya :

Dokumentasi Economic Display Kelas XI IPS 3, dan beberapa moment persiapannya :

Dokumentasi Economic Display Kelas XI IPS 4, dan beberapa moment persiapannya :

And The Winner is..

XI IPS 4 : Best Team

XI IPS 2 : Runner Up Team

Partisipant : XI MIPA 3, XI IPS 1, XI IPS 3

Silahkan simpan Reward Badge masing-masing ya..

Selamat Berkompetisi dan Berkolaborasi dalam kenyataan ya 🙂

Indonesia, JUARA !!

Posted in Stories of My Class

Economic Writing Challange 71’18

 

IMG_20170612_090740
Reward Badge for EWC 71’18 Winners

“Today a Reader, Tomorrow a Leader”

Kemampuan literasi erat kaitannya dengan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang senang membaca akan jauh lebih berwawasan dibanding dengan pemimpin yang tidak senang membaca.

Membaca membuat seseorang kaya akan ide, memahami sudut pandang orang lain dalam penyelesaian masalah, serta dapat menginspirasi seseorang untuk melakukan kebaikan.. atau keburukan 😦

“You are What You Read!”

Maka baca lah yang baik-baik agar buah pikiran yang anda keluarkan juga yang baik-baik.

Kemampuan literasi yang diharapkan di abad 21 adalah bukan sekedar bisa membaca namun mampu memverifikasi kebenaran sumber berita, menganalisis informasi dengan teliti, dan menuangkannya dalam tulisan dan perkataan dengan etika yang terbaik. Bijak menentukan sikap, kapan harus bicara dan kapan memilih diam karena itu lebih baik. Paham benar mana informasi yang penting dan baik untuk di bagi sekaligus memahami mana yang cukup menjadi konsumsi pribadi.

“Jangan jadi Generasi Penebar Fitnah!”

Sebuah keprihatinan terhadap begitu maraknya tulisan hoax, fitnah, sindiran-sindiran kurang terpuji, serta tulisan-tulisan provokatif di media sosial belakangan ini menginspirasi saya membuat event Economic writing Challange 71’18 untuk anak-anak didik saya di SMAN 71 Jakarta pada mata pelajaran Ekonomi Peminatan kelas XI IPS 1-4 dan Ekonomi Lintas Minat XI MIPA 3.

Saya berfikir event ini cukup strategis untuk “memaksa” anak-anak senang membaca, melatih kemampuan analisis mereka, serta belajar menuangkan ide lewat tulisan di blog mengenai topik Ekonomi Internasional dan Perdagangan Internasional. Kebetulan, 2 topik tersebut adalah kompetensi dasar yang harus mereka kuasai di akhir semester ini.

Adapun untuk pengumpulan tugas, saya sengaja menginisiasi mereka untuk memilih 1 orang kordinator kelas dalam pengumpulan tugas. kordinator tidak harus ketua kelas namun boleh siapa pun yang berinisiatif untuk mengambil tanggung jawab kordinator dengan sebaik-baiknya.

Lalu, seperti apa teknis pelaksanaan Economic writing challange 71’18 ini?

Teknis Pelaksanaan Economic Writing Challange 71’18

  1. Buatlah essai bebas min 300 kata di blog pribadi anda.
  2. Topiknya adalah kerjasama ekonomi internasional dan perdagangan internasional.
  3. Ide beberapa paragrafnya harus bisa menjawab 3 pertanyaan di bawah ini :
  • Kerjasama ekonomi internasional yang ideal menurut anda yg seperti apa?
  • Bagaimana strategi anda dalam menghadapi era perdagangan bebas?
  • Kalau boleh memilih negara/wilayah kerjasama ekonomi internasional, anda akan pilih negara/wilayah mana? Jelaskan alasannya!
  1. Gaya penulisan dan font bebas.
  2. Wajib melampirkan referensi.
  3. Jangan lupa tulis hashtag di akhir tulisan ya..

#TheNextIndonesianLeader
#InspiringAndInnovative
#EconomicWritingChallange
#71’18

  1. Pengumpulan link tulisan di blog pribadi via koordinator kelas maks tanggal 19 April 2017 pukul 20.00
  2. Koordinator merekap dan mengirim via Email ke starbox71@gmail.com maks tanggal 20 April 2017 pukul 15.00

Rubrik penilaian

  1. Ide tulisan (Originalitas inspirasi dan inovasi)
  2. Relevansi referensi dengan ide tulisan dan keshahihan informasi dalam referensi.
  3. Penggunaan bahasa yang komunikatif namun tetap sesuai kaidah yang berlaku.
  4. Gaya bahasa

Reward

# Akan dipilih 1 tulisan terbaik dari setiap kelas, dan link tulisan tsb akan di publish di blog pribadi Event Coordinator (Ibu Annisa M.Gumay : catatanbuguru.wordpress.com )

# Penulis terbaik akan dapat badge “I’m The Next Indonesian Leader” dan sertifikat elektronik yang bisa di download via blog Event Coordinator.

# Seluruh penulis (setiap siswa) akan mendapatkan nilai ketrampilan utk KD 4.8 dan 4.9 sesuai rubrik penilaian yang ditetapkan.

# Ada tambahan nilai utk koordinator yg menjalankan tugas dengan baik dan penuh tanggung jawab, yaitu tambahan nilai sebesar 5 poin

Kordinator Kelas untuk Economic Writing Challenge 71’18
XI IPS 1 : Waki
XI IPS 2 : M. Raihan
XI IPS 3 : Laurencius
XI IPS 4 : Aliff
XI MIPA 3 : Yuri

Selamat berkompetisi !

Show your innovation and inspiring other !

You are the Next Indonesian Leader !

And The Winners are..

XI IPS 1 : Aqillah Ridha Parahita dengan link http://aqillahridhap.blogspot.co.id/?m=1

XI IPS 2 : Farrah Alfarani Nur H. dengan link https://farrahalfarani.wordpress.com/

XI IPS 3 : Nurfathiyah Mualifah Qalbi dengan link  https://fashionisartby.wordpress.com/2017/04/14/kerjasama-internasional/

XI IPS 4 : Rania Qalbi Hamida dengan link ranfloeur.wordpress.com

XI MIPA 3 : Bryant Santoso dengan link http://bryantkeynes.blogspot.co.id/

Selamat menyimpan sertifikat elektroniknya ya 🙂

Semoga bisa memotivasi untuk melakukan banyak hal positif dengan lebih baik lagi.

Untuk partisipan yang belum berhasil memenangkan tantangan ini, tetaplah berlatih dan melakukan hal terbaik di setiap kesempatan !

Sampai bertemu di event selanjutnya 🙂

 

 

Posted in RaQueeFA Cuisine Note

Rujak Kangkung pesanan Haura

Copas dari :
Jika melihat makanan satu ini pasti serasa pengen nyobain banget rasa rujaknya, karena rasanya yang sangat pedas dan asam juga dikombinasikan dengan aroma terasi dari adonan sambalnya.

Sebenernya kalau mendengar kata rujak kita pasti langsung tertuju ke rujak buah-buahan tapi kita malah di buat bingung kok rujak bahannya malah sayuran , bahan utama dari rukak ini adalaha sayur kangkung, yups kangkung salah satu jenis sayuran yang keberadaanya paling banyak di sekeliling kita, umumnya dijadikan berbagai macam olahan saat hendak memasaknya. Kangkung juga sangat mudah diperoleh dengan harga yang sangat murah. Mungkin kalau dikampung seharga 500-1000 per ikatnya, jadi cukup murah kan melihat harga cuma segitu.

Langsug saja saya akan tulis resep bumbu apa saja yang di perlukan dalampembuatan rujak yang aneh tapi enak enak ini, liat daftar bumbu dan caranya dibawah ini
Rujak Kangkung

Bahan-bahan

  • 2-3 ikat kangkung
  • Kerupuk
Bumbu sambal yang di haluskan
  • 15 buah cabai rawit
  • 10 buah cabai keriting
  • 15 buah cabai merah besar
  • 2 buah tomat segar
  • 3 buah batang asam
  • Terasi secukupnya
  • Gula merah secukupnya
  • Garam secukupnya
Cara pembuatan
  1. Kukus kangkung jangan terlalu matang supaya kandungan vitamin zat besi dan lainnya tidak hilang dari sayur
  2. Kukus bahan-bahan sambalnya seperti cabai rawit, cabai keriting, cabai merah, asam, tomat dan terasi sebelum di ulek
  3. Setelah bahan sambal layu setelah di kukus ulek bahan-bahan tersebut seperti membuat sambal pada umumnya
  4. Masukan garam, dan gula dan sesuaikan sambal dengan selera masing-masing
  5. Letakan kangkung yang sudah di kukus kedalam piring, dan siram dengan sambal yang sudah di buat di atas kangkung
  6. Rujak kangkung siap di hidangkan
Rujak kangkung sangat enak di nikmati saat siang hari atau makan siang, rasanya yang segar dengan minuman es kelapa muda menambah kenikmatan, biasanya dalam penyajian rujak ini di tambah beberapa gorengan dan kerupuk mie.
Posted in RaQueeFA Cuisine Note

Mozarella Cheese Stick

FB_IMG_1491749244127.jpg

Resep  Mba Erma Birantika (fb)

Bahan yang harus di siapkan :
– Keju Mozzarella (SAYA JUAL MOZARELA IMPOR EURIAL HALAL, 200 grm harga 30 rb)
– Telur + Air (dikocok lepas)
– Tepung Roti
– Minyak Goreng
– Saos Sambal

Cara Memasak :
1. Celupkan keju mozzarella yang sudah di potong kedalam campuran telur kemudian angkat dan baluri ke dalam tepung roti,
2. Ulangi lagi cara pertama, masukan keju mozzarella yang sudah di baluri tepung roti ke dalam campuran telur, dan kemudian baluri ke tepung roti lagi, simpan d dalam lemari es (15menit) terlebih dahulu agar saat di goreng tepung roti tidak lepas,
3. Panaskan Minyak dengan api sedang
4. Goreng Mozzarella Stick yang sudah di siapkan hingga kecoklatan, kemudian tiriskan,
5. Siapkan di hidangkan, dengan Saos sambal

Posted in Today's Insight

Belajar dari Ibu Pendidik Peradaban: “Ibunda Para Ulama”

Copas dari: https://sunnmoon.wordpress.com/tag/para-ibu-yang-melahirkan-generasi-hebat/

Seorang ibu adalah pintu pembuka bagi pendidikan seorang anak. Pertama kali seorang anak menerima pendidikan setelah lahir kedunia, bisa dipastikan seorang ibu-lah yang mengambil peran yang dominan. Pepatah Islam bahkan menyebutkan bahwa seorang ibu ibarat sebuah madrasah, sekolah buat buah hatinya.

Berikut ini kisah heroik beberapa ibu yang telah melahirkan, mendidik, dan membina anak-nya sehingga menjadi generasi yang hebat, generasi yang selalu dikenang oleh jutaan umat manusia. Selamat membaca!

Ibu Yang Mendidik Dengan Segala Kekurangan
Imam  Syafi’i yang dilahirkan pada tahun 150 H di Jalur Gaza, Palestina terlahir dari keluarga yang tidak mampu. Saat lahir, ayahnya telah meninggal. Tinggal sang ibu yang hidup dalam kemiskinan. Tetapi miskin harta tidak pernah membuatnya miskin orientasi hidup, orientasi pendidikan dan miskin semangat. Karena ini yang sering kita jumpai. Orangtua yang miskin harta, mewariskan semangat dan orientasi yang juga miskin. Sehingga lahirnya anak-anak miskin yang semakin sulit untuk keluar dari kemiskinannya karena semangat dan orientasinya sudah hampir mati. Tidak untuk ibunda Imam Syafi’i. Bahkan walau telah ditinggal meninggal mati suaminya, tidak pernah ada kata: seperti burung yang patah sebelah sayapnya. Dia tetap tegar. Dalam sebuah tekad menjaga amanah yang ditinggalkan suaminya. Tidak ada amanah harta. Tetapi ada amanah anak. Ibunya yang miskin itu, mulai menyusun rencanya. Berikut rencana ibunda Imam Syafii dalam mendidik buah hatinya:

  1. Harus segera pindah ke Mekah untuk menyambung nasab Quraisy Syafi’i kecil.
  2. Harus belajar bahasa Arab yang baik dari suku yang dikenal paling fasih dan baik berbahasa Arab.
  3. Harus duduk belajar dengan para ulama di Masjidil Haram Mekah.
  4. Harus belajar dari para ulama di luar Mekah terutamanya Madinah.

Itulah yang bisa terbaca dari sejarah dari langkah yang direncakan oleh ibunda Syafi’i kecil. Maka dari usia 2 tahun, ibunda Syafi’i memboyong Syafi’i keluar dari negerinya. Ditinggalkan semua kenangan negeri itu untuk kebesaran anaknya di kemudian hari. Tujuannya ke Mekah. Syafi’i dipertemukan dengan keluarga Quraisy yang merupakan nasab ayahnya.

Selanjutnya Syafi’i belajar bahasa di Suku Hudzail yang memang dikenal paling fasih. Sehingga kelak Imam Syafi’i tidak saja dikenal sebagai ahli fikih tetapi juga sebagai ahli sastra terbukti dengan kumpulan puisi gubahannya.

Kemudian ia sudah menghapal al-Qur’an sejak usia 7 tahun di tangan para ulama besar Mekah. Sekaligus mulai belajar berbagai ilmu. Bgitulah hingga ia berangkat untuk melanjutkan perjalanan ilmunya di Madinah berguru kepada guru besar Madinah Imam Malik. Begitulah ibunda yang telah melahirkan seorang imam besar yang dikenang hingga hari akhir.

Ibu Yang Mendidik Anaknya Sendirian
Farrukh ayah dari Rabiah ar-Ra’yi. Rabiah adalah salah seorang guru tempat Imam Malik belajar lama. Suatu saat Farrukh termasuk salah satu dalam pasukan yang dikirim ke Khurasan pada masa Bani Umayyah. Saat itu, istri Farrukh sedang hamil Rabiah. Ia meninggalkan untuk bekal istri harta sejumlah 30.000 dinar. Lama sekali ia menghilang sejak tugas itu. Sangat lama. Tidak ada kabar beritanya. 27 tahun ia baru kembali. Dengan mengendarai kuda dan dengan tombak di tangannya, ia memasuki Madinah kota tempat anak dan istrinya berada. Begitu sampai di depan rumahnya, Farrukh turun dari kuda dan mendorong pintu dengan tombaknya. Rabiah yang sudah dewasa keluar dari rumah itu. Rabiah langsung meneriaki orang yang sesungguhny ayahnya itu, “Hai musuh Allah apakah kamu akan memaksa masuk ke rumah saya?”. Farrukh menjawab, “Tidak.” Kini Farrukh justru yang menyerang balik, “Hai musuh Allah, kamu laki-laki masuk dengan tidak sah ke istri saya.” Tidak lama kemudian keduanya terlibat pergumulan dan saling mencoba mengalahkan lawannya. Hingga para tetangga berdatangan untuk melerai. Malik bin Anas dan beberapa syekh lainnya juga datang membantu Rabiah. Rabiah berkata, “Demi Allah saya tidak akan biarkan. Akan saya adukan ke negara.” Farrukh pun menjawab, “Saya juga akan lakukan hal yang sama.” Perang mulut terjadi. Ketika mereka melihat Malik, semuanya terdiam. Malik berkata, “Wahai bapak tua, engkau bisa memilih selain rumah ini.” Farrukh menjawab, “Ini rumah saya! Saya Farrukh.” Istri Farrukh yang ada di dalam rumah bergegas keluar, dia berkata, “Ini suami saya.” Ia kemudian berkata kepada Farrukh, “Ini adalah anakku yang kau tinggalkan saat aku hamil dulu.” Akhirnya ayah anak itu pun berpelukan erat sekali. Air mata tak tertahankan. Dalam pertemuan yang sangat mengharukan dan dramatik. Farrukh masuk ke dalam rumah, sambil tidak percaya melihat anaknya yang sudah dewasa, “Ini anakku itu?” Istrinya menjawab, “Ya.” Farrukh, “Terus mana uang yang dulu aku berikan kepadamu? Ini aku membawa 4000 dinar.” Istri, “Uang itu aku pendam, aku berikan beberapa hari lagi.” Rabiah kemudian berangkat menuju masjid. Di duduk di halaqah ilmu yang diajarnya. Anas bin Malik datang, Hasan bin Zaid, Ibnu Abi Ali, al-Masahiqi, para penduduk Madinah pun berdatangan untuk duduk mendengarkan Rabiah mengajarkan ilmu. Istri Farrukh berkata kepada suaminya, “Keluarlah ke masjid untuk shalat di masjid Rasulullah. Farrukh berangkat ke masjid untuk shalat. Di masjid ia melihat sebuah majlis ilmu yang dihadiri banyak sekali jamaah. Dia berhenti dan mengamati majlis ilmu itu. Rabiah sang guru menundukkan kepalanya seakan dia tidak melihat kehadiran ayahnya. Ayahnya ragu apakah yang ada di depan itu benar-benar Rabiah, maka ia bertanya kepada seorang jamaah: siapa guru itu? Orang itu menjawab: Rabiah bin Abu Abdurahman. Farrukh berkata, “Allah telah mengangkat anakku.” Farrukh kemudian kembali ke rumah menemui istrinya dan berkata, “Sungguh aku melihat anakmu ada di majlis ilmu dengan ilmu yang luar biasa.” Istrinya kemudian berkata, “Mana yang lebih engkau sukai: 30.000 dinar atau keadaan putramu yang mulia itu?” Farrukh, “Tidak demi Allah. Keadaan dia seperti ini yang lebih aku sukai.” Istri, “Aku sudah habiskan harta itu untuk mendidiknya.” Farrukh, “Demi Allah, engkau tidak menghamburkannya.

Ibu Yang Berorentasi Surga
Anas bin Malik bercerita: Pada waktu perang Badar, Haritsah termasuk yang menjadi menjadi korban. Ibunya Haritsah datang ke Rasulullah dan bertanya, “Ya Rasulullah, engkau tahu betapa tingginya posisi Haritsah di sisiku, kalau dia berada di surga maka aku bisa bersabar (kehilangan dia). Jika kalau tidak, entah apa yang akan aku lakukan.” Rasul menjawab, “Satu surga saja buat dia?! Tidak, untuknya surga-surga yang banyak. Dia ada di Firdaus yang tinggi.”

Ibu Yang Meneguhkan Anaknya Dalam Kebenaran
Seorang ibu yang sudah tua dan buta, hari itu mendengarkan keluhan anaknya. Kata-kata sang anak jelas mengambarkan suasana rasa takut yang sedang menyelimuti hati anaknya. Sang ibu pun bisa merasakannya, walau matanya tak lagi bisa melihat. Ibu yang dimaksud adalah Asma putri Abu Bakar dan putranya adalah Abdullah bin Zubair. Dialog itu terjadi ketika Abdullah bin Zubair dikepung pasukan Hajjaj di Mekah. Dialog yang harus menjadi pelajaran untuk keluarga muslim, terutama para ibu. Berikut dialog itu: Abdullah “Bunda, orang-orang merendahkanku termasuk anak dan keluargaku, tidak ada yang tinggal bersama kecuali sedikit saja dari mereka yang kesabarannya hanya sesaat dan mereka yang memberiku kesenangan dunia. Apa pendapatmu, bunda?” Asma’ “Kamu lebih tahu tentang dirimu sendiri. Kalau kamu yakin berada dalam kebenaran dan menyeru kepadanya maka lanjutkan, teman-temanmu telah terbunuh karenanya maka jangan memberi kesempatan untuk dipermainkan oleh anak-anak Bani Umayyah. Tetapi jika kamu hanya ingin dunia, maka kamu seburuk-buruk hamba, kamu hancurkan dirimu dan siapa saja yang telah terbunuh bersamamu. Jika kamu katakan  bahwa kamu berada dalam kebenaran, ketika teman-temanku lemah aku pun menjadi lemah, maka itu bukanlah perbuatan orang-orang merdeka dan ahli agama. Berapa lama kamu berada di dunia ini! Terbunuh lebih baik!” Abdullah “Bunda, saya takut jika penduduk Syam membunuhku mereka akan memutilasi mayatku dan menyalibku.” Asma “Anakku, seekor kambing tidak lagi merasakan sakit dikuliti setelah disembelih. Maka bergeraklah di atas petunjuk dan memohonlah pertolongan kepada Allah.” Abdullah mencium kepala ibunya dan berkata “Inilah pendapatku, yang selama ini aku pegang kuat sampai hari ini adalah ketidakinginan untuk tinggal dan mencintai kehidupan dunia. Tidak ada yang mendorongku mengadakan perlawanan kecuali kemarahan karena Allah. Aku ingin mengetahui pendapat bunda dan sungguh bunda telah menambahi jalan terang. Maka bunda, hari ini mungkin aku akan terbunuh, jangan sampai kesedihanmu berlebihan dan serahkan seluruh urusan kepada Allah. Putramu ini belum pernah sengaja melakukan kemungkaran dan kekejian, tidak lari dari hukum Allah, tidak khianat saat aman, tidak sengaja mendzalimi seorang muslim atau non muslim yang damai, tidaklah aku mendengar ada kedzaliman yang dilakukan oleh para pejabatku kecuali pasti aku menghilangkannya, tidak ada yang paling aku dahulukan kecuali keridhaan tuhanku. Ya Allah aku tidak mengatakan ini untuk menyatakan bahwa diriku bersih, tetapi aku katakan ini untuk menghibur bundaku hingga beliau terhibur!” Asma’ ” Cukuplah, aku berharap kehilanganku atas dirimu sangat baik. Jika kamu mendahuluiku aku mohon pahala dari Allah, jika kamu menang aku bahagia dengan kemenanganmu. Keluarlah, agar aku lihat apa akhir dari urusanmu.” Abdullah “Jazakallahu khairan, jangan lupa berdoa untukku.” Asma’ “Aku tidak akan pernah lupa selamanya. Ya Allah rahmatilah shalat pada malam panjang itu, menahan dahaga di teriknya Makah dan Madinah dan baktinya kepada ayah bundanya! Ya Allah aku sudah serahkan kepada-Mu, aku ridha dengan keputusan-Mu, maka berilah aku pahala orang-orang yang sabar dan bersyukur!” Abdullah mengambil kedua tangan bundanya dan menciumnya. Asma’ memeluknya dan menciumnya. Hari itu adalah hari gugurnya putra Asma’.

Ibu Yang Selalu Hadir Pada Setiap Masalah Anaknya
Saat Aisyah sedang tertimpa tuduhan dusta, ia kembali ke rumah orangtuanya untuk menenangkan diri. Sudah dua malam satu hari, Aisyah tidak henti-hentinya menangis. Terus menangis. Matanya tak kunjung bisa dipejamkan. Ia menahan rasa perih di hati karena tersebar isu dusta tentang dirinya di masyarakat. Aisyah berkata, “Ibuku selalu ada di sampingku. Beliau berkata: sabarlah, nak. Kalau ada wanita yang disayangi suaminya dan dia adalah salah seorang dari sekian istrinya, pasti banyak perbincangan tentang dia. Pada suatu saat Rasul hadir menjenguk Aisyah yang sedang sakit di rumah orangtuanya. Rasul berkata, “Aku sudah mendengar tentang kamu di luar. Jika kamu bersih Allah akan membersihkanmu. Tetapi jika kamu salah, minta ampunlah dan bertaubatlah. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun.”
Aisyah berkata kepada ayahnya, “Jawablah, yah.” Ayahnya berkata, “Aku tidak tahu harus berkata apa.” Aisyah berkata kepada ibunya, “Jawablah, bu.” Ibunnya menjawab, “Aku tidak tahu harus berkata apa.”

Sumber: http://www.cahayasiroh.com/index.php?option=com_content&view=article&id=123:ibu-orang-besar-ibu-2&catid=38:untukmu-muslimah&Itemid=69