Posted in Sekolah Kewirausahaan SMAN 71 Jakarta #2017

# Cerita Level 5 : Presentasi Bisnis dan Penyerahan Dana Kelompok Usaha Siswa (KUS)

 

Cerita Level 5 ini adalah tentang kegiatan Presentasi Bisnis. Kami mengibaratkan kegiatan ini sebagai aktivitas “Meet the Investor” dimana para wirausahawan harus mampu meyakinkan Investor bahwa bisnis mereka memiliki prospek yang terbaik sebelum memperoleh dana investasi sebesar Rp 1,000,000.

Presentasi Bisnis ini berlangsung pada tanggal 30 dan 31 Agustus 2017. Kami membaginya menjadi 2 hari karena ada 40 tim yang harus di uji dengan waktu Presentasi masing-masing tim 15 menit. Agar tidak mengganggu proses belajar, panitia membuat jadwal presentasi yang disosialisasikan pada peserta, wali kelas, dan guru piket 2 hari sebelum kegiatan di mulai. Siswa yang belum mendapat giliran mengisi waktu menunggu dengan tetap belajar di kelas. Setiap tim bersiap di depan ruang AV 15 menit sebelum jadwal presentasinya. Adapun jadwal presentasinya sebagai berikut :

Jadwal Presentasi Bisnis, ok

Pointer yang wajib muncul dalam materi presentasi tim adalah Design thinking, Lean canvas, dan struktur serta company profile tim. Tim yang siap dengan prototype mau pun tester akan lebih disukai. Fokus penguji dalam presentasi bisnis ini adalah memberi evaluasi dan saran terhadap materi presentasi tim. Penguji akan melampirkan catatan di akhir kegiatan presentasi yang dapat menjadi masukan bagi tim untuk melakukan persiapan bisnis yang lebih baik lagi. Adapun rubrik evaluasi dan penilaian presentasi dan business plan sebagai berikut : RUBRIK EVALUASI PRESENTASI BISNIS,ok

Design thinking merupakan pendekatan yang perlu dilakukan dalam berinovasi. Inovasi tidak lah sekedar menciptakan produk baru, barang atau jasa baru. Inovasi lebih dari itu. Inovasi adalah keberhasilan, secara sosial dan ekonomi, karena diperkenalkannya cara baru atau kombinasi baru dari cara lama dalam mengubah proses produksi sehingga konsumen merasakan MANFAAT yang lebih besar dari HARGA atau pengorbanan yang ia keluarkan.

design thinking.jpg

 

Pendekatan pemikiran desain menuntut produsen innovator untuk melakukan proses inovasi secara bertahap dalam merubah keinginan menjadi permintaan. Adapun pada setiap tahapannya melibatkan pandangan, perspektif serta konteks lingkungan sosial ekonomi budaya di mana pelanggan berada.

https://www.linkedin.com/pulse/design-thinking-business-strategy-customer-centered-kosasih

Tahapan Design Thinking :

  1. Emphatize (Empati) ; Mempelajari dan mencoba memahami kebutuhan pelanggan dan konteks di mana kebutuhan itu muncul melalui observasi dan interview pada pelanggan.
  2. Define (Menetapkan) ; Mengamati bagaimana pelanggan biasa berperilaku dan menggunakan produk-produk yang sudah ada dan menetapkan solusi untuk permasalahan dan kebutuhan pelanggan berdasarkan hasil obeservasi sebelumnya.
  3. 3. Ideate (Bertukar pikiran/Ide) ; Menggali ide sebanyak mungkin yang bertujuan memberikan nilai manfaat sebesarnya untuk pelanggan yang sudah dipilih atau diputuskan. Brainstormingpenting dilakukan pada setiap tahap dalam proses inovasi, mulai dari penggalian inspirasi, pengumpulan ide hingga seleksi ide.
  4. Prototype (Membuat produk replika) ; Membuat produk replika yang merupakan solusi permasalahan pelanggan yang ditetapkan berdasarkan 3 tahapan sebelumnya.
  5. Test (Menguji replika produk) ; Menguji manfaat produk bagi pelanggan dengan cara menunjukkan replika produk pada pelanggan dan menganalisa tanggapan pelanggan sebelum mengambil keputusan produksi.

Bagi perusahaan-perusahaan baru, metode design thinking ini sangat membantu ketika mereka memutuskan untuk menjadi bagian dari produsen innovator. Design thinking ini merupakan gerbang awal produsen innovator sebelum merancang usaha mereka dengan model bisnis Lean Canvas.

Adapun fungsi dari sebuah Model bisnis adalah sebagai rancangan usaha yang akan dibuat oleh produsen. Dengan kata lain, kita bisa menganggap model bisnis sebagai alat pembangun dan penggali ide bisnis. Salah satu model bisnis yang paling disarankan dan banyak digunakan oleh para entrepreneur pada dasawarsa terakhir adalah model Lean Canvas.

Alexander Osterwalder, salah seorang pencipta Lean Canvas, mengoptimalkan model bisnis ini dalam bentuk visual yang sangat ringkas, mudah dibuat, mudah dikomunikasikan, dan terutama mudah dimodifikasi. Lean Canvas mendokumentasikan sembilan blok bangunan dasar yang memperlihatkan cara berpikir tentang bagaimana sebuah perusahaan mempertahankan pertumbuhan bisnis. Kesembilan blok tersebut mencakup empat bidang utama dalam suatu bisnis, yaitu: pelanggan, penawaran, infrastruktur dan kelangsungan finansial.

Gambar diagram model bisnis lean canvas, sumber : https://www.reppy.co/lean-canvas/

Canvasreppy.jpg

Sembilan blok bangunan dasar tersebut yaitu:

  1. Problem (Masalah)

Problem menggambarkan permasalahan yang akan dipenuhi oleh organisasi atau perusahaan.

Pada blok ini siswa dapat diminta meluangkan waktu untuk secara rinci merumuskan permasalahan yang ada di masyarakat. Permasalahan yang diangkat tidak harus permasalahan yang paling rumit di masyarakat, melainkan permasalahan yang dapat diatasi oleh perusahaan. Di bagian ini dapat juga dituliskan solusi yang sudah ada di masyarakat namun belum sepenuhnya dapat menyelesaikan permasalahan.

  1. Customer Segment (Segmen Pelanggan)

Menggambarkan kelompok orang yang memiliki permasalahan di bagian Problem di atas dan hendak dijangkau dan dilayani oleh perusahaan.

Siswa dapat memilih segmen ini dari kelompok perseorangan atau organisasi. Kelompok perseorangan dapat dipilih berdasar kelompok umur, wilayah geografis, kondisi sosial-ekonomi, profesi, agama, atau pilihan lain. Kelompok organisasi dapat dipilih berdasar jenis organisasi, jenis usaha, dan lain-lain.

  1. Solution (Pemecahan Masalah)

Menggambarkan satu atau beberapa pilihan pemecahan masalah yang diambil oleh perusahaan untuk mengatasi masalah yang dipilih pada segmen pelanggan yang dipilih.

Jika siswa belum dapat menemukan solusi yang tepat maka mereka diperkenankan mengubah masalah atau segmen pelanggan yang telah ditentukan sebelumnya.

  1. Unfair Advantage

Menggambarkan hal-hal yang dimiliki oleh perusahaan tetapi tidak dimiliki oleh perusahaan lainnya. Bagian ini menggambarkan kekuatan kompetitif perusahaan. Sebagai contoh, memiliki penguasaan atas pengetahuan yang unik, kepemilikan hak paten, hubungan yang baik (dan legal) dengan pihak lain, dan sebagainya.

  1. Unique Value Preposition

Menggambarkan bentuk bisnis, produk, atau jasa yang diusulkan; terutama berkait dengan nilai yang akan dirasakan oleh pelanggan dan masyarakat. Nilai dalam hal ini tidak harus berupa angka, namun dapat berupa pencapaian tujuan yang lain.

  1. Key Metrics

Menggambarkan metode evaluasi yang akan digunakan secara berkala untuk menentukan apakah bisnis ini sudah tepat dijalankan.

Siswa dapat mengisi key metric dengan misalnya pendapatan yang (diperkirakan) diperoleh, jumlah pelanggan, jumlah saluran distribusi yang mau bekerja sama, dan lain-lain. Pengukuran harus bersifat kuantitatif. Jika pengukuran tak tercapai, siswa harus melakukan re-evaluasi pada bisnisnya.

  1. Channels

Menggambarkan saluran distribusi yang akan digunakan untuk melakukan promosi dan pemasaran.

Pada blok ini siswa diarahkan untuk memiliki beberapa alternatif saluran pemasaran dan mengurutkan daftar saluran sesuai potensi yang dapat dicapai.

  1. Cost Structure

Menggambarkan semua pos-pos pembiayaan yang akan dikeluarkan untuk mengoperasikan bisnis.

  1. Revenue Stream

Menggambarkan semua pos-pos pemasukan yang akan dihasilkan dari bisnis.

Dokumentasi sebagian Design Thinking yang dibuat oleh tim KUS :

 

Dokumentasi contoh Lean Canvas tim KUS :

 

Dokumentasi beberapa Business Plan dan Prototype tim KUS saat presentasi Bisnis :

 

Dokumentasi presentasi bisnis hari pertama :

 

Dokumentasi Presentasi bisnis hari ke-2 :

 

Lembar evaluasi dan saran dari penilai :

DSC_0020_18.JPG

Beberapa contoh business plan dapat di lihat di :

ASTROFOOD MEMPERKENALKAN

joy’s (1)

Moonship Project Kewirausahaan

youcrocket

naninanidome real

Kerajinan Akrilik, kelp 2

Setelah kegiatan presentasi bisnis dilakukan maka tiba lah saatnya kami memberikan dana KUS pada siswa. Dana sebesar Rp 1,000,000 diberikan via CFO (Chief Financial Officer) masing-masing tim yang berjumlah 40 tim.

Berikut dokumentasi penyerahan dana Kelompok Usaha Siswa :

 

Serah terima dana KUS ini kami ibaratkan sebagai serah terima amanah, kepercayaan, support, dan harapan kami selaku panitia Sekolah Kewirausahaan pada siswa-siswa kami. Semoga dana tersebut dapat dimanfaatkan dengan amanah dan memberi keberkahan pada banyak pihak.

Di akhir cerita level 5, kami sisipkan quotes dan tips untuk memulai presentasi. Semoga bermanfaat.

 

#sekolahkewirausahaan71-17 #jurnalkewirausahaan2017 #thenextentrepreneur

 

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s