Posted in Resume Materi Kuliah Bunda Sayang IIP Jkt #2

Catatan Level 6 “Menstimulus Matematika Logis pada Anak”

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang sesi #6_

*MENSTIMULUS MATEMATIKA LOGIS PADA ANAK*

Semua anak lahir cerdas, masing-masing diberikan potensi dan keunikan yang menjadi jalan mereka untuk cerdas di bidangnya masing-masing. Dua macam kecerdasan dasar yang memicu munculnya kecerdasan yang lain adalah kecerdasan bahasa dan kecerdasan matematis logis. Dimana di dua kecerdasan ini banyak orangtua yang salah menstimulus, tidak paham tujuannya untuk apa, ingin anak-anaknya segera cepat menguasai dua hal tersebut, sehingga banyak diantara anak-anak BISA menguasai dua kecerdasan tersebut tetapi mereka TIDAK SUKA. Sebagaimana kita ketahui di materi sebelumnya bahwa

” *Membuat anak BISA itu mudah, membuatnya SUKA baru tantangan* ”

*MATEMATIKA LOGIS*

Pada dasarnya setiap anak dianugerahi kecerdasan matematika logis. Gardner mendefinisikan kecerdasan matematis logis sebagai _kemampuan penalaran ilmiah, perhitungan secara matematis, berpikir logis, penalaran induktif/deduktif, dan ketajaman pola-pola abstrak serta hubungan-hubungan_.

Dapat diartikan juga sebagai *_kemampuan menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan kebutuhan matematika sebagai solusinya_*

Menurut Gardner ada kaitan antara kecerdasan matematika logis dan kecerdasan bahasa. Pada kemampuan matematika, anak menganalisa atau menjabarkan alasan logis, serta kemampuan mengkonstruksi solusi dari persoalan yang timbul. Kecerdasan bahasa diperlukan untuk merunutkan dan menjabarkannya dalam bentuk bahasa.

*CIRI-CIRI ANAK DENGAN KECERDASAN MATEMATIKA LOGIS*

a. Anak gemar bereksplorasi untuk memenuhi rasa ingin tahunya seperti menjelajah setiap sudut

b. Mengamati benda-benda yang unik baginya

c. Hobi mengutak-atik benda serta melakukan uji coba

d. Sering bertanya tentang berbagai fenomena dan menuntut penjelasan logis dari tiap pertanyaan yang diajukan.

e. Suka mengklasifikasikan berbagai benda berdasarkan warna, ukuran, jenis dan lain-lain serta gemar berhitung

Yang sering salah kaprah di dunia pendidikan dan keluarga saat ini adalah buru-buru menstimulus matematika logis anak dengan cara memberikan pelajaran berhitung sejak dini. Padahal berhitung adalah bagian kecil dari sekian banyak stimulus yang harus kita berikan ke anak untuk merangsang kecerdasan matematika logisnya.Dan harus diawali dengan berbagai macam tahapan pijakan sebelumnya.

Yang perlu kita pelajari di Ibu Profesional adalah Bagaimana kita merangsang kecerdasan matematis logis anak sejak usia dini? Bagaimana kita menanamkan konsep matematis logis sejak dini? bukan buru-buru mengajarkan kemampuan berhitung ke anak.

*STIMULASI MATEMATIKA LOGIS DI SEKITAR KITA*

*Bermain Pasir*
Dengan bermain pasir anak sesungguhnya belajar estimasi dengan menuang atau menakar yang kelak semua itu ada dalam matematika.

*Bermain di Dapur*

a.Saat berada di dapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan konsep logika matematika, misalnya dengan cara anak diminta mengelompokkan sayuran berdasarkan warna.

b. Mengasah kemampuan berhitung dalam pengoperasian bilangan sederhana, misalnya ketika tiga buah apel dimakan satu buah maka sisanya berapa.

c. Membuat bentuk-bentuk geometri melalui potongan sayuran.

d. Membuat kue bersama, selain dapat menambah keakraban dan kehangatan keluarga, anak-anak juga dapat belajar matematika melalui kegiatan menimbang, menakar, menghitung waktu.

*Belajar di Meja Makan*
Saat dimeja makan pun kita bisa mengajarkan pembagian dengan bertanya pada anak, misalnya supaya kita sekeluarga kebagian semua, roti ini kita potong jadi berapa ya? Lalu bila roti sudah dipotong-potong, angkat satu bagian dan tanyakan seberapa bagiankah itu? Hal ini terkait dengan konsep pecahan.

*Belajar Memahami Kuantitas*

a. ketika melihat akuarium, tanyakan berapa jumlah ikan hias di akuarium tersebut?

b.Ketika duduk di depan ruma atau sedang jalan-jalan, tanyakan berapa jumlah sepeda motor yang lewat dalam jangka waktu 1 menit?

*Belajar mengenalkan konsep perbandingan, kecepatan, konsep panjang dan berat*

a. Menanyakan pada anak roti mana yang ukurannya lebih besar, roti bolu atau donat?

b. Mengenalkan dan menanyakan pada anak, mana yang lebih cepat, mobil atau motor?

c. Mengenalkan dan menanyakan ke anak mana yang lebih tinggi pohon kelapa atau pohon jambu?

d. Menanyakan ke anak mana yang lebih berat, tas kakak atau tas adik?

*Kegiatan di Luar Rumah*

a.Mengajak anak berbelanja
ketika kita mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga semakin melatih keterampilan pengoperasian seperti penjumlahan dan pengurangan.

b. Bisa juga dengan permainan toko-tokoan atau pasar-pasaran dengan teman-temannya.

c. Kita juga dapat memberikan anak mainan-mainan yang edukatif seperti balok-balok, tiruan bentuk-bentuk geometri dengan dihubungkan dengan benda-benda disekitar mereka Ada bentuk-bentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi panjang dan lain-lain. Pengenalan bentuk geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik. Saat melihat roda mobil misalnya anak akan tahu kalau bentuknya lingkaran, meja bentuknya segiempat, atap rumah segitiga dan sebagainya.

d. Permainan Tradisional
Permainan-permainan tradisional pun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti permainan congklak atau dakon sebagai sarana belajar berhitung, permainan patil lele, permainan lompat tali, permainan engklek dll.

e.Belajar Memecahkan Masalah ( problem solving) melalui mainan
Menyusun lego atau bermain puzzle adalah cara agar anak berlatih menghadapi masalah, tetapi bukan masalah sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan yang membuat anak tanpa sadar dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini akan memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah. Misalnya ketika sedang menalikan sepatu, anak akan berusaha menggunakan seluruh kemampuannya untuk menyelesaikan hingga tuntas.

Dengan memberikan stimulus-stimulus tersebut diharapkan anak akan menyukai pelajaran matematika karena matematika ternyata ada disekitar mereka dan mereka mengetahui tujuan belajar matematika. Dengan model stimulus ini anak-anak akan paham makna kabataku (kali, bagi, tambah, kurang) sebagai sebuah proses alamiah sehari-hari, bukan deretan angka yang bikin pusing. Mereka jadi paham bahwa :

Menambah  proses menggabungkan

Mengurangi  proses memisahkan

Mengalikan  proses menambah/menjumlahkan secara berulang.

Membagi  proses mengurangi secara berulang.

Tentu hal ini harus didukung dengan pola pengajaran matematika di rumah dan di sekolah yang menyenangkan, kreatif, kontekstual, realistik, menekankan pada proses dan pemahaman anak dan problem solving (pemecahan masalah).

Kreatif dalam mengenalkan dan mengajarkan konsep matematika serta dengan berbagai macam permainan dan alat peraga yang menarik.

Dengan demikian matematika akan menjadi pelajaran yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.

_Salam Ibu Profesional_

/ _Tim Fasilitator Bunda Sayang_/

📚Sumber bacaan:

_Hernowo, Menjadi Guru yang Mampu dan Mau Mengajar dengan Menyenangkan, MLC, 2005_

_Howard Gardner, Multiple Intelligence, Gramedia, 2000_

_Septi Peni Wulandani, Jarimatika, Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Agromedia, 2009_

_________________________________________

*Tantangan 10 hari*
*Level 6*

Matematika bukan hanya tentang angka dan hitungan namun juga ada hubungannya pada kelogisan berpikir dan pemecahan masalah.

Matematika tersebar di sekitar kita, seperti saat hebohnya bersama anak anak mencari segala sesuatu yang berbentuk bulat di dalam rumah, semua berlarian, melihat sekeliling dan berebutan menyebutkan benda yang ditemukannya.

Atau saat seru ngobrol dengan si kakak sambil menghitung jumlah rumah di 1 blok komplek sehingga menemukan jumlah rumah seluruh cluster yang terdiri dari 6 blok.

Atau saat indahnya si kecil memotong kue supaya cukup dibagi bersama kakak kakaknya.

Atau saat cerianya bersama anak anak menghitung jumlah langkah kaki ke masjid terdekat.

Saat saat menunggu kakak selesai mengerjakan desain interior kamarnya sendiri,
dan seterusnya …dan seterusnya.

🌸Tantangan 10 hari level 6🌸
*Temukan Matematika di sekitarmu*

 Bagi yang sudah menikah dan memiliki anak, temukan matematika dalam aktivitas sehari-hari bersama ananda. Jadikan momen aha! Tuliskan keseruannya.

💛 Bagi yang belum mempunyai anak dan belum menikah, temukan matematika dalam aktivitas keseharian mu, tuliskan kisah menariknya.

Bagi anda yang menggunakan blog, berikan label:
IIP
KuliahBunsay
ILoveMath
MathAroundUs

_________________________________________

‪Manfaat Belajar Matematika Untuk Anak-anak Dan Dewasa

Banyak orang tidak suka belajar matematika. Sulit, begitulah alasannya. Soal-soal di buku matematika tidak berhubungan dengan problem di kehidupan nyata. Begitu alasan lainnya.

Belajar matematika sebenarnya mendatangkan banyak manfaat dan keuntungan. Apa saja?

🌸Simak di bawah ini:
🔹Pola Pikir Yang Sistematis
Dengan mempelajari matematika, kita terbantu berpikir sistematis karena kita jadi terbiasa berhitung & menimbang. Secara tidak sadar kita telah melatih otak terbiasa berpikir secara runut sehingga mudah dalam mengorganisasi sesuatu.

🔹Logika berpikir Lebih Berkembang

Semua bahasan matematika yg kita pelajari mencakup atau mencerminkan kemampuan berpikir logis. Kita dilatih untuk tidak bersandar pada asumsi dan praduga. Semua kesimpulan harus kita hasilkan melalui penghitungan yang tepat & pembuktian yang logis.

🔹Terlatih Berhitung

Semua orang pasti membutuhkan kemampuan berhitung, bahkan dalam skala yang sederhana seperti menghitung uang jajan atau uang belanja 😊. Dengan terampil berhitung, maka kita akan terbiasa melakukannya dengan tepat dan cepat.

🔹Mampu Menarik Kesimpulan Secara Deduktif

Matematika sering disebut sebagai ilmu yang bersifat deduktif. Artinya, matematika membantu seseorang dalam menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum, sehingga membiasakan otak untuk berpikir secara obyektif dan rasional.

Kemampuan berpikir obyektif dan rasional ini adalah kemampuan soft skill yg berguna untuk memecahkan masalah dalam semua lini kehidupan.

🔹Menjadi Teliti, Cermat Dan Sabar

Pelajaran matematika melatih kita menjalani proses yang panjang dengan penuh kesabaran dan kecermatan. Kualitas ini sangat dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah dalam semua bidang kehidupan.

Jadi, pelajaran matematika itu beririsan dengan berbagai bidang kehidupan. Mulailah mencintai matematika dan nikmatilah manfaatnya dalam kehidupan.

 

Sumber Bacaan:
– Rudi S. – 6 Agustus 2016
http://www.educenter.id/5-manfaat-pelajaran-matematika-untuk-masa-depan/

– Effective Teaching: Teori Dan Aplikasi, Daniel Muijs and David Reynolds, Pustaka Pelajar, 2008

_______________________________________
🍪Cemilan Rabu Bunda Sayang Institut Ibu Profesional. 26 Juli 2017 🍪

🔅Tahapan perkembangan Kognitif (Logis-matematis)🔅

Kemampuan Logis matematis merupakan ranah kognitif. Kognitif adalah salah satu domain atau wilayah ranah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesengajaan, dan keyakinan. Ranah kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin, 1972).

Jauh sebelum anak berurusan dengan simbol abstrak dan rumus, ia akan menemukan matematika dalam berbagai benda yang dilihat dan disentuhnya. Semakin berkembang pengetahuan anak, apalagi dengan stimulasi yang tepat dari orangtua dan lingkungannya, anak akan semakin mampu menerapkan dasar-dasar konsep matematika seperti mengklasifikasi, membandingkan, menyusun urutan dan berhitung.

Tahap Perkembangan Kognitif manusia (versi Piaget) dan capaian Logis matematisnya (dari berbagai sumber)

🔅Tahap Sensori-motor (0-2 tahun)
Biarkan anak berinteraksi dengan lingkungannya, mengenal berbagai benda, suara dan keadaan. Anak akan mengasimilasikan skema sensori-motor sedemikian rupa dengan mengerahkan kemampuan akomodasi yang ia miliki hingga mencapai ekuilibrium yang memuaskan kebutuhannya,

Usia 0-1 tahun, anak suka mengamati apa saja yang ada disekitarnya yang dapat dijangkau dengan mudah.

Usia 1,5 – 2,5 tahun anak memiliki kemampuan _object permanence_ (ketetapan adanya benda) sehingga dapat mulai mengklasifikasikan obyek berdasarkan warna, bentuk dan fungsi. Apabila anak mulai berbicara, kesadaran terhadap konsep besar dan kecil akan berkembang dan memasuki tingkatan konsep lebih besar atau lebih kecil dengan membandingkan berbagai benda.

🔅Tahap praoperasional (2-7 tahun)
Muncul kapasitas kognitif baru yaitu _representation_ (representasi), atau gambaran mental. Anak dapat berpikir dan menyimpulkan eksistensi sebuah benda atau kejadian tertentu walaupun benda atau kejadian itu berada di luar jangkauan panca inderanya.

Pada usia ini muncul gejala belajar berdasarkan titian akal _(insight learning)_, anak mulai mampu melihat situasi problematik (memahami bahwa sesuatu mengandung masalah) dan berfikir sesaat, sehingga muncul reaksi ‘aha’ dan ia mampu memecahkan masalahnya.

Kemampuan logis-matematis:
– mengenal konsep persamaan dan perbedaan (laki-laki perempuan, siang-malam,)
– mengelompokkan benda berdasarkan warna, jenis,
– menentukan posisi (luar-dalam, atas-bawah, kiri-kanan, depan-belakang)
– mengenal dan mengidentifikasi bangun geometri,
– menghubungkan ukuran dengan benda yang ada di sekitarnya,
– memperkirakan ukuran jumlah (panjang-pendek, berat-ringan, penuh-kosong)
– mengurutkan benda berdasarkan ukuran,
– mengamati perubahan bentuk cair-beku-uap-embun
– mengidentifikasi perubahan benda (rasa, bau, warna)
– Mengenal konsep waktu berkan kegiatan
– mengenal konsep hari
– mengenal konsep dan lambang bilangan 1-20

🔅Tahap Konkret-Operasional (7-11 tahun)
Pada tahap ini anak memperoleh tambahan kemampuan yang disebut system of operation (satuan langkah berpikir). Kemampuan ini berfungsi untuk mengoordinasikan pemikiran dan idenya dengan peristiwa tertentu ke dalam sistem pemikirannya sendiri.

Sistem operasi kognitif yang meliputi:
🍡 _Conservation_ (konservasi/pengekalan) adalah kemampuan anak dalam memahami aspek-aspek akumulatif materi seperti volume dan jumlah. Anak yang mampu mengenali sifat kuantitatif benda akan tahu bahwa sifat kuantitatif benda tersebut tidak akan berubah secara sembarangan.
🍡 _Addition of classes_ (Penambahan golongan benda), kemampuan anak dalam memahami cara mengombinasikan beberapa golongan benda yg dianggap berkelas lebih rendah, seperti mawar dan melati lalu menghubungkannya dengan bunga. Juga sebaliknya, dari tinggi ke rendah. Misalnya bunga menjadi mawar, melati dan seterusnya.
🍡 _Multiplication of classes_ (pelipatgandaan golongan benda), kemampuan yang melibatkan pengetahuan mengenai cara mempertahankan dimensi-dimensi benda (misalnya warna dan tipe bunga) untuk membentuk gabungan golongan benda (misalnya mawar merah, mawar putih, dan seterusnya), juga kemampuan sebaliknya yaitu memisahkan gabungan golongan benda menjadi dimensinya tersendiri. Warna bunga mawar terdiri atas merah, putih dan kuning., dan seterusnya

🔅Tahap Formal-Operasional (11-15 tahun)
Disebut sebagai perkembangan kognitif tahap akhir, pada usia ini anak menginjak remaja. Pada tahap ini seorang remaja dapat mengatasi keterbatasan pemikiran konkret-operasional sehingga ia memiliki kemampuan mengoordinasikan dua ragam kemampuan kognitif :
🍡Kapasitas menggunakan hipotesis. Dalam hal ini seorang remaja berpikir mengenai sesuatu khususnya dalam hal pemecahan masalah dengan menggunakan anggapan dasar yang relevan dengan lingkungan yang ia respons
🍡 Kapasitas menggunakan prinsi-prinsip abstrak. Seorang remaja akan mampu mempelajari materi-materi pelajaran yang abstrak, seperti ilmu agama (misalnya ilmu tauhid), ilmu matematika dan ilmu-ilmu abstrak lainnya dengan luas dan lebih mendalam.

Dua Kapasitas kognitif ini sangat berpengaruh terhadap kualitas skema kognitif karena pada tahap inilah seseorang dianggap telah mulai dewasa dan memiliki kedewasaan berpikir.

DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin. 2015. Psikologi Belajar. Rawajali Pers. Jakarta.

Kecerdasan logika-matematika Anak Usia Dini.http://ekacahyamaulidiyah.blogspot.co.id/2014/02/kecerdasan-logika-matematika-anak-usia.html

_____________________________________

🍕🧀Cemilan Rabu🍕🧀

*Materi #6*
*🔹Menstimulus Kecerdasan Logis Matematis Anak🔹*

Dalam pendidikan anak, peran orangtua tidak tergantikan dan rumah merupakan tempat pendidikan anak yang utama.

Banyak permainan eksplorasi yang bisa dilakukan bersama-sama antara orangtua dan anak yang bisa dilakukan didalam rumah atau diluar rumah untuk mengasah kemampuan logis matematis anak.

👶🏼Saat anak balita bermain pasir atau benda kecil halus lainnya (beras, tepung, biji2an, dll) sesungguhnya ia tengah menghidupkan otot tangannya dan melatih motorik halusnya sehingga anak akan mampu memegang pensil, menggambar, dll. Dengan bermain pasir dan benda kecil halus lainnya, sesungguhnya anak belajar estimasi dengan menuang & menakar.

🔢Saat mengenalkan konsep angka, orang tua mesti menyediakan suatu angka dengan simbolnya, misalnya mama mempunyai 3 buah apel. Maka orangtua mengenalkannya dengan buah yang sesungguhnya dengan jumlah yang sama, sehingga anak paham tentang konsep angka dan bilangan.

🎶Lagu juga bisa menjaDi media untuk mengenalkan berbagai tema tentang angka. Contoh: lagu Satu-Satu Aku Sayang Ibu. Lagu ini tidak hanya mengenalkan angka tapi juga subyek yang ada di sekitar anak tersebut.

0⃣ Setelah anak mengenal bilangan 1 sampai 10, maka kenalkanlah anak dengan bilangan nol. Memberikan pemahaman konsep nol pada anak tidaklah mudah. Bisa dilakukan dengan menghitung hiasan magnet yang ditempel dikulkas. Cobalah mengambil satu persatu dan mintalah anak menghitung yang tersisa. Lakukan berulang sampai magnet di kulkas tidak ada lagi yang melekat. Saat itu
kita tunjukkan bahwa yang dilihat pada kulkas adalah 0 (nol) magnet

🍳Saat berada didapur, kita bisa mengenalkan konsep klasifikasi dan pengelompokan yang berkaitan dengan logika matematika, misalnya mengelompokkan sayur dan buah berdasarkan bentuk dan warna

🥘Di dapur juga anak bisa belajar dan mengenal konsep membagi, menambah dan mengurangi dari aktivitas memasak🍜 dan membuat kue, membagi hasil masakan dan membagi kue 🍕. Anak juga bisa belajar menimbang, menakar dan menghitung waktu. Memasak sambil melihat resep juga melatih keterampilan membaca dan belajar kosakata baru.

🏡Di rumah, kita juga bisa memberikan pemahaman konsep kuantitas dalam matematika. Misalnya dengan menghitung berapa jumlah ikan hias di kolam atau aquarium, menghitung berapa banyak motor yang lewat didepan rumah dalam 15 menit.
Mengenalkan konsep perbandingan seperti besar-kecil, cepat-lambat, panjang-pendek dan sebagainya, misalnya dengan menanyakan roti donut dan roti bolu lebih besar mana, yang lebih cepat bergerak mobil atau motor, lebih tinggi mana pohon kelapa atau pohon belimbing, atau lebih berat mana tas kakak atau tas adik, dan sebagainya.

🛍Untuk kegiatan diluar rumah, kita bisa mengajak anak berbelanja, libatkan ia dalam transaksi sehingga melatih keterampilan aritmatika sederhana (kali, bagi, tambah, kurang).

🥁Kita juga bisa memberikan anak mainan yang berbentuk geometri seperti segitiga, segiempat, lingkaran, persegi, persegi panjang, dan lain-lain serta mengajak mereka mengamati benda-benda disekitarnya yang berhubungan dengan bentuk geometri, misalnya: ban mobil, papan iklan, dan lain-lain. Pengenalan geometri yang baik, akan membuat anak lebih memahami lingkungannya dengan baik.

⚽ Permainan tradisionalpun dapat merangsang dan meningkatkan kecerdasan matematis logis anak seperti main congklak atau dakon, bermain bola bekel, dan lain-lain, sebagai sarana belajar berhitung dan bermanfaat untuk melatih kemampuan manipulasi motorik halus terutama melatih kemampuan jari tangan yang bermanfaat untuk kekuatan tangan saat menulis. Selama bermain, anak dituntut fokus mengikuti alur permainan, hal ini berguna melatih konsentrasi dan ketekunan.

🌟Mengapa stimulasi untuk kecerdasan logis matematis anak, banyak melalui permainan dan kegiatan bermain yang menyenangkan?
🎨Karena dengan bermain akan membuat anak dapat mengekspresikan gagasan dan perasaan, serta membuat anak lebih kreatif.
🔍Dengan bermain, juga akan melatih kognisi atau kemampuan belajar anak berdasarkan apa yang dialami dan diamati dari sekelilingnya
💡Saat memainkan permainan yang menantang, anak memiliki kesempatan untuk memecahkan masalah, misalnya menyusun lego atau puzzle. Anak dihadapkan pada masalah, tetapi bukan masalah yang sebenarnya, melainkan sebuah permainan yang harus dikerjakan anak. Masalah yang mengasyikkan, membuat anak tanpa sadar bahwa ia tengah dilatih untuk memecahkan sebuah masalah. Hal ini memperkuat kemampuan anak keluar dari masalah.

🌸Dengan menstimulus kecerdasan logis matematis di rumah dan di lingkungan sekitar tempat tinggal anak, dengan pendekatan yang menyenangkan, kreatif, kontekstual dan realistik, maka anak akan menyukai matematika, karena matematika ada disekitar mereka *(I Love Math, Math Around Us)* dan mereka mengetahui tujuannya untuk apa mereka belajar matematika.

 

Matematika ternyata mengasyikkan ya 💡
Selamat belajar matematika bersama keluarga 🏡👨‍👩‍👦‍👦

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

 

🔹Sumber Bacaan:
http://uihanamizuki.blogspot.co.id/2014/12/makalah-kecerdasan-logis.html?m=1

Thomas Amstrong, In Their Own Way: Discovering and Encouraging your child’s Multiple Intelligence, 2000

___________________________________

_Institut Ibu Profesional kelas_ _Review kelas Bunda Sayang sesi #6_

🌐♦♥
*MENSTIMULUS KECERDASAN MATEMATIS LOGIS*
🔢🥇🎗

💝💝Bunda setelah kurang lebih selama 1 bulan kita belajar bersama tentang bagaimana menstimulus kecerdasan matematis logis pada diri kita dan anak-anak, maka sekarang kita bisa merasakan bahwa matematika itu bukanlah sesuatu yang jadi momok buat anak-anak.

🔣🔢♥ Matematika itu sangat dekat dengan kita. Kalau dulu bahkan sampai saat ini kita merasakan bahwa “matematika” itu adalah pelajaran yang sulit, kemungkinan besar karena kita  menjalani proses yang salah. Itulah pentingnya mengapa kita harus mengubah konsep pemahaman kita tentang matematika di Institut ibu Profesional ini, sehingga anak-anak kita akan selalu bahagia dengan matematika.

 

Sebagaimana kita tahu, matematika adalah sarana agar anak-anak kita memiliki kemampuan:

a. Berpikir logis

b. Berpikir Kritis

c. Memecahkan masalah secara sistematis

d.Melatih ketelitian, kecermatan dan kesabaran

e.Menarik kesimpulan secara deduktif  (menarik kesimpulan berdasarkan pola yang umum. Hal ini akan membiasakan otak kita untuk berpikir secara objektif)

🔢❣💞Apabila melihat kelima hal diatas, sudah selayaknya kita sebagai orangtua tidk terpaku dan bahkan stress untuk hal-hal kecil di konten matematikanya. Misal ketika anak-anak kita latih perkalian saja tidak hafal-hafal. Jangan sampai gagal fokus,  karena yang kita sasar adalah kemampuan life skill anak melalui matematika, bukan kemampuan anak menghafal ilmu di matematika. Sehingga kita harus pandai untuk mencari celah dan mencari jalan lewat ilmu matematika yang mana agar anak-anak kita memiliki life skill seperti yang disebutkan di atas.

*⃣Contoh :
Studi Kasus: Ketika ada seorang anak yang sudah kelas 3 ke atas, sangat susah menghafal perkalian.

⚛Solusi : maka kita tidak akan memaksa anak tersebut setiap hari dengan berbagai hafalan. Kita akan melatih kemampuan berpikir logisnya.

🏵🎨Kegiatan : Ambil matematika dalam kehidupan sehari-hari, misal, label obat, kemudian lihat di label tersebut,  apoteker menuliskannya adalah 3 x 1. Kira-kira menurut kakak apa artinya 3 x1 di aturan minum obat ini? Anak-anak akan berpikir dan mencari jawaban berdasarkan pengalamannya minum obat saat sakit : pagi minum 1 kapsul, siang 1 kapsul dan malam 1 kapsul

 

🎲🎬Stimulus  : Setelah jawaban berpikir logisnya berjalan, kita stimulus dengan berpikir kritisnya.

” Andaikata apoteker itu menulisnya 1 x 3, apa kira-kira yang harus kita lakukan, apakah ada bedanya dengan 3 x 1?”

 

🤹‍♀Kegiatan : Anak mulai melatih kemampuan memecahkan masalahnya secara sistematis. Berikan ruang anak untuk menyampaikan gagasannya tentang 3 x 1 dan 1 x 3, tanpa kita buru-buru menyalahkan atau mengoreksi.

☃🎏Kegiatan bermain:

a. Siapkan pernak-pernik yang berjumlah 6, (bisa 6 kerikil, 6 permen atau  6 buah mainan yang sama) dan 6 piring kecil-kecil

b. Ibu memberikan perintah, yuk kita lomba menata perkalian 3 x 1 dengan piring dan pernak-pernik.

c. Ibu menata piring dan kerikilnya sendiri, anak menata piring dan kerikilnya sendiri.

d. Ibu melihat apa yang ditata anak misal anak menata 3 piring, masing-masing diisi 1 kerikil. Ibu memberikan komentar “Aha, keren banget Ina sudah bisa membuat perkalian 3 x 1”

Kemudian anak diminta lihat apa yang ditata ibu, misal ibu mengambil 1 piring, diisi 3 kerikil.

“Kalau milik ibu ini model perkaliannya seperti apa ya kak?’

Anak mulai menyambungkan informasi satu persatu dan menjawab “1 x3″

e.Ibu memberikan tantangan baru, ” Sekarang kita coba buat perkalian 3×2, yuk

 

🔮🔍Makin terasa ringan kan, kalau matematika kita dekatkan dengan hal-hal yang realistik di kehidupan anak-anak.

🎱Pendekatan matematika secara realistik ini harus bunda jadikan modal belajar agar anak-anak suka belajar matematika. Kalau anak-anak sudah suka, mereka akan menjadi pembelajar mandiri, dan kita cukup menjadi teman belajarnya saja.

 

Yang perlu kita ingat dalam pembelajaran matematika secara realistik adalah :

a.Anak-anak diajak untuk menemukan kembali bagaimana para ahli dulu menemukan rumus matematika dan ilmu matematika dengan bimbingan kita  ( Guided Reinvention).  Anak-anak akan mengalami proses menemukan kembali konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika sebagaimana ketika konsep, prinsip, sifat-sifat dan rumus-rumus matematika itu dulu ditemukan. Sebagai sumber inspirasi untuk merancang pembelajaran  matematika yang menekankan prinsip penemuan kembali (re-invention), dapat digunakan sejarah penemuan konsep/prinsip/rumus matematika.

 

b. Pengetahuan matematika dan pengetahuan lain secara umum,  tidak dapat ditransfer atau diajarkan melalui pemberitahuan dari ibukepada anak, melainkan anak sendirilah yang harus mengkontruksi (membangun) sendiri pengetahuan itu melalui kegiatan aktif dalam belajar.

 

c, Menyiapkan model-model yang dibangun sendiri ( self-Developed Models). Sehingga kita bisa  mengaktualisasikan masalah kontekstual ke dalam bahasa matematika, yang merupakan jembatan bagi anak  untuk membuat sendiri model-model dari situasi nyata ke abstrak atau sebaliknya.

 

🎗🎲Semoga dengan pemahaman ini kita makin paham untuk apa anak-anak kita perlu belajar matematika. Bukan sekedar angka  yang tertulis di rapot, bukan juga sekedar menambah hafalan anak-anak tentang rumus-rumus matematika, tapi lebih dari itu matematika merupakan salah satu pintu masuk anak untuk mendapatkan ketrampilan hidupnya sehingga bisa lebih siap menjalankan peran di dalam kehidupannya kelak.

 

Salam Ibu Profesional,

 

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

 

Sumber Bacaan:

_Fauzan, A. (2002). Applying realistic mathematics education in teaching geometry in Indonesian primary schools. Doctoral dissertation. Enschede: University of Twente_

_Septi Peni (2004) Jarimatika : Mengenalkan Konsep Perkalian Secara Mudah dan Menyenangkan, Kawan Pustaka, Jakarta_

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s