Posted in Resume Materi Kuliah Bunda Sayang IIP Jkt #2

Catatan Level 5 “Menstimulasi Anak Suka Membaca”

*Institut Ibu Profesional, Kelas Bunda Sayang, Materi ke #5*

_MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA_

Mari kita mulai dengan bermain peran terlebih dahulu. Bayangkan kita adalah seorang dewasa dengan bahasa yang kita gunakan sehari-hari adalah bahasa Indonesia, belum pernah mengetahui bahasa mandarin kemudian tiba-tiba kita diberi Koran berbahasa mandarin dengan tulisan mandarin semua. Apa yang kebayang di benak kita semua?
Pusing? Tidak tahu maksudnya? Lalu kita hanya melihat-lihat gambarnya saja?

Hal tersebut akan sama halnya dengan anak-anak`yang belum dibiasakan mendengarkan berbagai dialog bahasa ibunya, belum belajar berbicara bahasa ibunya dengan baik, tiba-tiba dihadapkan dengan berbagai cara belajar membaca bahasa ibunya tersebut yang berisi dengan deretan-deretan huruf yang masih asing di benak anak, diminta untuk mengulang-ngulangnya terus menerus dengan harapan anak bisa cepat membaca.

🍒 *KETRAMPILAN BERBAHASA*
Sebelum lebih jauh membahas tentang teknik menstimulasi anak membaca kita perlu memahami terlebih dahulu tahapan-tahapan yang perlu dilalui anak-anak dalam meningkatkan ketrampilan berbahasanya.

🍒 Tahapan tersebut adalah sebagai berikut :

a. Keterampilan mendengarkan ( listening skills)
b. Ketrampilan Berbicara ( speaking skills)
c. Ketrampilan Membaca ( reading skills)
d. Ketrampilan Menulis ( writing skills)

Keempat tahapan tersebut di atas harus dilalui terlebih dahulu secara matang oleh anak. Sehingga anak yang *BISA MENDENGARKAN* ( Menyimak) komunikasi orang dewasa di sekitarnya dengan baik, pasti *BISA BERBICARA* dengan baik, selama organ pendengaran dan organ pengecapnya berfungsi dengan baik.

Mendengarkan dan berbicara adalah tahap yang sering dilewatkan orangtua dalam menstimulasi anak-anaknya agar suka membaca. Sehingga hal ini mengakibatkan anak yang *BISA MEMBACA, belum tentu terampil mendengarkan dan berbicara dengan baik dalam kehidupan sehari-harinya.*
Padahal dua hal ketrampilan di atas sangatlah penting.
Banyak orang dewasa yang menggegas anaknya untuk bisa cepat-cepat membaca, padahal Anak yang BISA BERBICARA dengan baik, pasti akan BISA MEMBACA dengan baik, tetapi banyak yang mengesampingkan 2 tahap sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya mengapa banyak anak bisa membaca tetapi sangat sedikit yang menghasilkan karya dalam bentuk tulisan, bahkan diantara kita orang dewasapun sangat susah menuangkan gagasan-gagasan kita, apa yang kita baca, kita pelajari dalam bentuk tulisan?

Padahal kalau melihat tahapan di atas anak yang BISA MEMBACA dengan baik pasti akan BISA MENULIS dengan baik.
Mengapa? Karena selama ini anak-anak kita hanya distimulus untuk *BISA* membaca tidak *SUKA MEMBACA*. Sehingga banyak diantara kita BISA MENULIS huruf (melek huruf) tetapi tidak bisa menghasilkan karya dalam bentuk tulisan (
MENULIS KARYA)
Terbukti berdasarkan survey UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001 persen. Artinya dalam seribu masayarakat hanya ada satu masayarakat yang memiliki minat baca. Berdasarkan studi _”Most Littered Nation In the World”_ yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.
Padahal program membaca ini tidak hanya digencarkan oleh pemerintah dalam program literasinya, melainkan juga sudah diperintahkan di dalam salah satu kitab suci agama yang sebagaian besar dianut oleh bangsa Indonesia. Disana tertulis IQRA’( bacalah), perintah membaca adalah perintah pertama sebelum perintah yang lain turun.
Mengapa kita perlu membaca? Biasanya jawabannya klise yang muncul adalah agar kita bisa menambah wawasan kita, bisa membuka cakrawala dunia dll.

Jawaban di atas baik, tapi ada yang kita lupakan tentang tujuan membaca ini yang jauh lebih penting, yaitu agar anak-anak kita lebih mengenal pencipta nya, karena membaca akan lebih membuat anak-anak mengenal “siapakah dirinya”, maka disitulah dia mengenal siapa Tuhannya.

*MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA*

Sekarang kita akan belajar bagaimana tahapan-tahapan agar anak-anak kita *SUKA MEMBACA tidak hanya sekedar BISA. Agar ke depannya mereka SUKA MENULIS.*

🌼🌸🌼🌸🌼🌸

Kita akan memulai dengan berbagai tahap ketrampilan Berbahasa.

🍒 *TAHAP MENDENGARKAN*

a. *Sering-seringlah berkomunikasi* dengan anak, baik saat mereka di dalam kandungan, saat mereka belum bisa berbicara dan saat mereka sudah mulai mengeluarkan kata-kata dari mulut kecilnya.

b. Buatlah berbagai *forum keluarga* untuk memperbanyak kesempatan anak mendengarkan berbagai ragam komunikasi orang dewasa di sekitarnya.

c. *Setelkan berbagai lagu anak*, cerita anak yang bisa melatih ketrampilan mendengar mereka.

d. *Bacakan buku-buku anak dengan suara yang keras* agar anak – anak bisa melihat gambar dan telinganya bekerja untuk mendengarkan maksud gambar tersebut.

e. *Sering-seringlah mendongeng/membacakan* buku sebelum anak-anak tidur. Jangan pernah capek, meski anak meminta kita mendongeng/membaca buku yang sama sampai puluhan kali. Begitulah cara menyimak,

🍒*TAHAP BERBICARA*

a. Di tahap ini anak belajar berbicara, kita sebagai orang dewasa belajar mendengarkan. Investasikan waktu kita sebanyak mungkin untuk mendengarkan *SUARA ANAK*

b. *Jadilah pendengar yang baik*, disaat anak-anak ingin membacakan buku untuk kita, dengan cara mengarang cerita berdasarkan gambar, apresiasi mereka.

c. Jadilah murid yang baik, disaat anak-anak kita ingin menjadi guru bagi kita, dengan cara *membuat simulasi kelas*, dan dia menjadi guru kecil di depan.

d. *Ajaklah anak-anak bersilaturahim* sesering mungkin, bertemu teman sebayanya dan orang lain yang di atas usianya bahkan di bawah usianya untuk mengasah ketrampilan mendengar dan berbicaranya.

🍒*TAHAP MEMBACA*

a. *Tempelkan tulisan-tulisan dan gambar-gambar* yang jelas dan besar di sekitar rumah, terutama tempat-tempat yang sering di singgahi anak-anak

b. *Tempelkan tulisan/kata* pada benda-benda yang ada, misalnya, tempelkan kata- “televisi” pada pesawat televisi.

c. Buatlah *acara membaca bersama* yang seru, misalnya perpustakaan di bawah meja makan

d. Sekali waktu, *ajaklah* anak-anak ke pangkalan buku-buku bekas, pameran buku dan toko buku

e. Siapkan alat perekam dan *rekamlah* suara anak kita yang sedang membaca buku

f. Biasakanlah *surat-menyurat* dengan anak di rumah. Misalnya , dengan menempelkan pesan-pesan di kulkas atau buatlah parsi (papan ekspresi) di rumah

g. Dorong dan ajak anak kita untuk *membaca apapun* label-label pada kemasan makanan, papan reklame dan masih banyak lagi

h. Berikan *buku-buku berilustrasi* tanpa teks. Warna mencolok dan menarik akan merangsang minat untuk membaca, sekaligus membangkitkan rasa ingiin tahunya. Selanjutnya berikan buku full teks dengan ukuran huruf yang besar-besar.

i. *Komik* juga menarik sebagai pemancing rasa ingin tahu dan gairah membaca anak (tentunya perlu selektif dalam memilih komik yang tepat).

j. Ajaklah anak *bertemu* dengan pengarang buku, ilustrator, komikus, penjual buku, bahkan penerbit buku.

k. *Dukung hobi anak* kita dan sangkut pautkan dengan buku.
Misalnya, buku tentang perangko untuk anak yang hobi mengkoleksi perangko, buku cerita tentang boneka untuk anak yang suka boneka dan sebagainya

l. *Budaya baca* bisa ditumbuhkan dari ruang keluarga yang serba ada. Ada buku-buku yang mudah diambil anak, ada mainan anak, ada karya-karya anak dalam satu ruangan tersebut.

m. Ajaklah anak untuk *memilih bukunya sendiri*, tapi tentunya dibawah bimbingan kita agar tidak salah pilih

n. *Contohkan kebiasaan membaca* dan mengkoleksi buku dengan sungguh-sungguh dan konsisten

o. *Buatlah pohon literasi keluarga*, caranya:
📌Masing-masing anggota keluarga memiliki pohon dengan gambar batang dan ranting, tempelkan di dinding.
📌Siapkanlah daun-daunan dari kertas sebanyak mungkin, setiap kali anak-anak selesai membaca, tuliskan judul buku dan pengarangnya di daun tersebut.
📌kemudian tempelkan di pohon dengan nama anak tersebut.

Cara ini bisa untuk melihat seberapa besar minat baca masing-masing anggota keluarga kita, hanya dengan melihat seberapa rimbun daun-daunan di pohon masing-masing.

🍒*TAHAP MENULIS*

a. *Siapkan satu bidang tembok* di rumah kita, tempelkan kertas flipchart besar disana dan ijinkan anak-anak untuk menuangkan gagasannya dalam bentuk tulisan atau coretan.

b. Berilah kesempatan dan dorong anak kita untuk *menulis apapun* yang dia lihat, dengar, pegang dan lain-lain

c. *Siapkan buku diary keluarga*, masing-masing anggota keluarga boleh menuliskan perasaaannya di buku diary tersebut, sehingga akan membentuk rangkaian cerita keluarga yang kadang nggak nyambung tapi seru untuk dibaca bersama.

d. *Buat buku jurnal/ buku rasa ingin tahu* anak dari kertas bekas, ijinkan setiap hari anak menuliskan apa yang dia alami apa yang memunculkan rasa ingin tahunya di dalam buku tersebut.

e. *Hiraukanlah* tanda baca, huruf besar, huruf kecil dll, saat anak-anak mulai belajar menulis. Biarkanlah anak merdeka menuangkan isi pikirannya, hasil bacaannya, tanpa terhenti berbagai kaedah –kaedah menulis yang harus mereka pahami. Setelah anak-anak lancar menulis baru setahap demi setahap ajarkanlah berbagai macam kaedah ini.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

Sumber Bacaan :

Kontributor Anatalogi Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, Gaza Press, 2014

Pengalaman Bunda Septi dalam mengembangkan ketrampilan berbahasa di keluarganya, Wawancara, Kelas Bunda Sayang, Institut Ibu Profesional, 2017
Andi Yudha Asfandiyar. Creative Parenting Today : Cara praktis memicu dan memacu kreatifitas anak melalui pola asuh kreatif. Bandung : Kaifa. 2012
http://www.supernanny.co.uk/…/4-to-13-…/Help.-My-child-doesn’t-like-reading.aspx

________________________________________________________________________________________

Tanya Jawab Bunda Sayang #level 5

MENSTIMULASI ANAK SUKA MEMBACA

Penanya 1: Indah Puspita Sari
Menurut teori parenting yang saya baca, banyak yang melarang mengajarkan anaknya membaca diusia dini. Saya tidak pernah meminta anak saya belajar membaca, hanya saja saya membelikan beberapa buku, mulai dari huruf2, buku belajar membaca yang warna warni, buku2 cerita dan komik, yang sering saya bacakan. Jadinya, anak pertama saya yang usia 5 tahun, sekarang sudah bisa membaca, meskipun masih perlahan. Dia juga rajin membaca tulisan2 yang dia temui, seperti papan iklan dll.
1. Apakah apa yg saya lakukan termasuk memaksa anak saya belajar membaca di usia dini, lalu adakah dampak negatif jika anak saya usia 5 thn ini sudah bisa membaca?
2. Dan bagaimana membuat anak saya ini tetap suka membaca, dan tidak hanya sudah bisa membaca.
Terima kasih 🙏🏻

Jawab:
Betul sekali mba. Memang mengajarkan anak tuk membaca disarankan pada usia 5 tahun ke atas. Namun, yg dimaksud membaca di sini adalah *bisa* membaca bukan suka membaca. Nah inilah yg terkadang terjadi kesalahpahaman pd orang tua ttg bagaimana mengajarkan membaca pada anak (silakan dikunyah lagi materi #5)
1. Mengajarkan anak belajar membaca di usia dini memang kurang bagus dr segi psikologis. Dampaknya mmg tidak terlihat saat ini, tapi nanti ketika dia sudah masuki jenjang kelas tinggi di sekolah dasar, dia akan mengalami kejenuhan dlm belajar (silakan dibuka kembali cemilan rabu 1 pada materi #2, pd poin kemandirian belajar).
2. Membuat anak suka membaca hingga dia bisa membaca ada beberapa tahapan yg harus dilewati. Apa saja tahapan itu, nah ditunggu yaa cemilan rabu pekan ini 😀

Penanya 2 : Rita F
1. Bagaimana menghadapi anak anak yang “moody” atau cepat bosan bila diajak membaca dan lebih anteng bila main games online?

Jawab:
Mba rita sudahkan anak diberi jadwal tuk bermain game? Btw berapa usianya?
Berikut usia yg diperbolehkan tuk menonton dan bermain game sumber dr ykbh

Klo blm terjadwal, coba dijadwalkan main gamenya ya mba, begitu juga dengan membaca buku. Baiknya mmg kita punya jadwal tertentu tuk membacakan buku/membaca buku bersama anak2. Bila perlu agendakan tuk membeli buku bersama juga, dgn cara spt ini anak akan belajar mencintai buku. Klo tidak salah ada gerakan membacakan buku selama 15 menit tuk anak setiap malam sblm mereka tidur. Gerakan ini sangat bagus sekali, selain bisa menumbuhkan kecintaan terhadap buku, juga dpt memperat hubungan ortu dan anak. Silakan dicoba

Penanya 3 : Leila
1. Tentang bisa berbicara dan bisa membaca…. Dikatakan bila bisa berbicara dengan baik maka akan bisa membaca dengan baik. Apakah berlaku juga sebaliknya, bisa membaca itu seharusnya bisa bicara juga? Untuk diri saya sendiri, saya sangat suka membaca dan menulis (kalau klaim ‘bisa’ atau ‘pandai’ rasanya saya tidak berhak menilai diri sendiri), tapi gagap berbicara di depan umum, kalaupun bicara atau membacakan akan cenderung ngebut, sampai pernah ditegur oleh ayah saya, nanti kan bakal ngajarin anaknya bicara, gimana kalau kamu bacanya ngebut begitu. Sekarang sudah mendingan kalau untuk kalangan sendiri (termasuk membacakan ke anak sendiri di tempat umum/bukan kepada orang banyak), tapi untuk bicara di depan publik nanti dulu. Apakah saya seharusnya juga mengejar keterampilan berbicara atau ada yang salah dari penanaman kecintaan membaca saya di masa lalu?

2. Anak kedua saya berusia 2,5 tahun, ada masanya punya buku favorit yang setiap malam mintanya dibacakan yang itu terus, padahal buku yang lain banyak. Sekarang sudah berlalu sih, sudah ganti-ganti bukunya. Tapi dulu sempat terpikir, tidak apa-apakah menuruti saja apa yang dimintanya, jadi tiap hari sama terus bukunya? Atau aktif ditawarkan terus buku yang lain?

3. Berkaitan dengan no.2, anak saya bisa menirukan/mengulangi beberapa kalimat kunci dalam buku favoritnya di waktu terpisah (dalam keadaan tidak sedang dibacakan buku). Lalu saya terpikir, salah nggak ya saya ‘membiarkan’ anak menghafal isi buku cerita ketimbang misalnya, surat-surat pendek? Untuk surat pendek ada pembiasaan juga dengan diperdengarkan tanpa menggegas (dan akhir-akhir ini dia mulai mengulang sendiri juga sambil bermain misalnya), tapi ada rasa gimana gitu, semacam rasa bersalah bahwa anak saya duluan hafal isi buku cerita fiksi (meski isinya juga kebaikan dan Islami) ketimbang firman Allah swt. Salahkah saya merasa demikian?

Jawab:
1. Idealnya kemampuan membaca berbanding lurus dengan kemampuan menulis. Kemampuan berbicara pada anak adalah yang terkait kemampuan anak mengemukakan apa yang diinginkan, serta berkomunikasi dengan teman sebaya dan orang sekitar. Sementara publik speaking atau berbicara di depan umum ini butuh banyak latihan dan ilmu yang terkait. Seperti halnya belajar sepeda, semakin sering latihan, semakin mahir. Jadi sering seringlah “manggung”, awalnya mungkin grogi, lama lama akan terlatih.
2. Untuk tahap awal, tak masalah mengikuti apa yang diinginkan, yang penting anak *gemar* membaca, bukan hanya *bisa* membaca. Sambil dikenalkan serunya buku buku lain yang tak kalah menarik isinya.
3. Terkait membaca Alquran, memang butuh proses, bisa dimulai dengan sering memperdengarkan alquran, sering membacakan berulang ulang surat surat pendek, menceritakan kisah menarik dalam Alquran hingga anak tertarik untuk.belajar membaca Alquran. Metode mengajarkan membaca juga perlu bervariasi agar anak tak bosan. Bisa jadi anak tak tertarik, karena *cara* atau *metode* nya yang begitu begitu saja. Buku iqro saja mayoritas polos، tak semenarik buku buku bacaan lain kan? Mungkin bisa dicoba membuat media yang lebih menarik.

Penanya 4 : Kartini
1. Kalau anak masih dibawah 2th dan cenderung kinestetik, anak cepat bosan melihat buku, bagaimana kiat2 nya?
2. Saya yang sudah dewasapun, kesulitan dalam belajar bahasa lain, misalnya bahasa inggris. Bagaimana supaya saya ini semangat juga untuk belajar bahasa inggris? Saya lebih suka hitungan dibandingkan belajar bahasa.
Makasih

Jawab:
1. Mba kartini, tuk usia anak spt itu umumnya gaya belajarnya blm bisa terlihat mba, krn anak seusia mereka masih suka bereksplorasi dengan lingkungannya. Terkadang kita keliru mengartikan ini. Tuk anak usia 2 tahun memang baiknya tidak dipaksakan untuk melihat2 buku, mengajarkan anak suka membaca sejak usia dini tidak harua langsung mengenalkannya pada buku. Bisa juga dengan hal2 lain spt gambar2 pada poster, karpet, pada mainannya. Nah baiknya ditunggu cemilan rabu nanti terbit ya hehe. Biar lebih paham bagaimana thapan membaca pd anak usia dini itu

2. Bagi orang dewasa, belajar bhasa itu berkaitan dengan passion mba. Bahkan dalam teori otak kiri dan kanan, dapat terlihat perbedaan bagaimana org dengan tipe otak kiri mmg cenderung lemah dlm menguasai bahasa beda dgn otak kanan. Jd menurut sy, tidak perlu dipaksakan tuk berlatih berbagai macam bahasa asing bila mmg passion kita bukan di situ, apalagi kita bukan termasuk tipe otak kanan. Jalankan saja apa yg sudah menjadi passion kita, asah kemampuannya dan pertinggi jam terbangnya. Maka kita akan ahli di bidang itu.

Penanya 5 : Rimawanti
1. Yuna 5 tahun suka cerita macam-macam, dengan antusias dan suara tergesa-gesa, sehingga suaranya malah terputus-putus. Apakah Yuna perlu diajari untuk mengatur intonasi suara agar bercerita dengan perlahan? Atau dibiarkan saja?

Jawab:
Perlu, agar kecerdasan linguistiknya dpt terasah dengan baik

_______________________________________________________________________________________

*Tantangan Level 5*
(8-24 jUNI 2017)

Iqra! Bacalah! Perintah Tuhan pertama kali ini mengingatkan kita bahwa membaca merupakan sebuah proses penting dalam mengenal diri.

Membaca merupakan jembatan ilmu, makanan bagi otak, dan juga bisa melatih imajinasi. Serta banyak lagi manfaat dari membaca.

Yuk, jadikan diri kita teladan bagi anak dan keluarga!

🌴 *Jadilah teladan*
 Jadwalkan _family reading time_, membacalah bersama anggota keluarga
 Buatlah pohon literasi untuk masing-masing anggota keluarga, rimbunkan dengan judul buku yang telah dibaca
 Diskusikan dengan anggota keluarga tentang buku yang telah dibaca, gunakan untuk menambah pengetahuan dan merekatkan hubungan dengan anggota keluarga lainnya

👨‍👩‍👧‍👦 *Bagi yang sudah memiliki anak*
📖 Jadilah ibu teladan, membacalah bersama anak (sesuai dengan tahapan usia anak).
📷 Dokumentasikan kegiatan membaca anda
📝 Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

👫 *Bagi anda yang belum memiliki anak*
📖 Membacalah!
📷 Dokumentasikan kegiatan membaca anda
💭 Diskusikan dengan suami tentang buku yang sudah dibaca
📝 Tempelkan judul buku yang telah dibaca pada pohon literasi

👰🏻 *Bagi anda yang belum menikah*
📖 Membacalah!
📷 Dokumentasikan kegiatan membaca anda
📝 Rimbunkan pohon literasi dengan buku-buku yang sudah anda baca.

Gunakan hashtag
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunsayIIP
#ForThisChangeIMustChangeFirst

Bagi anda yang menggunakan blog, tambahkan label
*Bunda Sayang*
*Ibu Profesional*
*IIP*
*For Thing To Change, I Must Change First*

Kirimkan tugas anda melalui :

1. Facebook di group Bunda Sayang 2
2. Mengisi Gform
http://bit.ly/2qOI1yX

________________________________________________________________________________________

Cemilan Rabu

*Materi #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca*

*Tahap Perkembangan Anak Suka Menulis*

 Menulis merupakan ekspresi/ungkapan dari bahasa lisan ke dalam suatu bentuk goresan/coretan.
Kegiatan awal menulis dimulai ketika anak pura-pura menulis di atas kertas, pasir atau media lainnya dalam bentuk coretan-coretan sampai anak mampu menirukan bentuk tulisan yang sesungguhnya.
Beberapa tahap perkembangan menulis anak dapat digambarkan sebagai berikut:

 *Tahap Mencoret atau Membuat Goresan (Scrible Stage)*
Pada tahap ini, anak mulai membuat tanda-tanda dengan menggunakan alat tulisnya. Mereka mulai belajar tentang bahasa tertulis dan bagaimana mengerjakan tulisan tersebut. Anak membuat coretan-coretan acak (tidak teratur), coretan- coretan seringkali digabungkan seolah-olah coretan itu tidak pernah lepas dari kertas.

💡Orang tua dan guru pada tahap mencoret seharusnya menyediakan jenis-jenis bahan untuk menulis seperti pensil, spidol, buku, kertas, dan krayon.

 *Tahap Pengulangan secara Linear (Linear Repetitive Stage)*
Tahap selanjutnya dalam perkembangan menulis adalah tahap pengulangan secara linear. Pada tahap ini, anak menelusuri bentuk tulisan yang mendatar (horizontal) ataupun garis tegak lurus. Dalam tahap ini, anak berpikir bahwa suatu kata merujuk pada sesuatu yang besar mempunyai tali yang panjang dari pada kata yang merujuk pada sesuatu hal yang kecil

 *Random/Acak (Random Letter Stage)*
Pada tahap ini, anak belajar tentang berbagai bentuk yang dapat diterima sebagai suatu tulisan dan menggunakan itu semua agar dapat mengulang berbagai kata dan kalimat. Anak-anak menghasilkan garis yang berisi pesan yang tidak mempunyai keterkaitan pada suatu bunyi dari berbagai kata.

 *Tahap Berlatih Huruf (Menyebutkan Huruf – Huruf)*
Kebanyakan anak-anak, biasanya sangat tertarik huruf-huruf yang membentuk nama mereka sendiri.

 *Tahap Menulis Tulisan Nama (Letter-Name Writting or Phonetic Writing)*
Pada tahap ini, anak mulai menyusun hubungan antara tulisan dan bunyi. Permulaan tahap ini sering digambarkan sebagai menulis tulisan nama karena anak-anak menulis tulisan nama dan bunyi secara bersamaan. Misalnya mereka menulis ”kamu” dengan tulisan ”u”. Anak senang menuliskan nama pendek panggilan mereka sendiri melalui contoh yang mereka lihat dengan huruf-huruf besar atau kecil.

Mereka mulai menghadirkan berbagai kata dengan suatu bentuk grafik yang secara refleks menunjukkan tentang apa yang didengar.

Semakin berkembangnya penguasaan kosa kata anak serta kemampuannya dalam berkomunikasi dengan orang lain, akan memiliki dampak terhadap perkembangan fungsi kognitifnya. Kemampuan mengkomunikasikan sesuatu seperti nama benda, orang atau binatang dengan menggunakan kosa kata yang banyak dan teratur akan mencerminkan kemampuan berpikir anak tentang hal tersebut.

 *Tahap Menyalin Kata-kata yang Ada di Lingkungan*
Anak-anak menyukai menyalin kata-kata yang terdapat pada poster di dinding atau dari kantong kata sendiri.

 *Tahap Menemukan Ejaan*
Anak telah menggunakan konsonan awal (misal L untuk Love). Konsonan awal, tengah dan akhir untuk mewakili huruf misal DNS pada kata dinosaurus.

 *Tahap Ejaan Sesuai Ucapan*
Anak mulai dapat mengeja suatu tulisan berupa kata- kata yang dikenalnya sesuai dengan ucapan yang didengarnya.

Sumber:

http://paudjateng.xahzgs.com/…/5-tahapan-perkembangan-menul…

http://www.membumikanpendidikan.com/…/tahapan-perkembangan-…

Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang/

_____________________________________________________________________________________

*CEMILAN RABU*

*_Materi #5: Menstimulasi Anak Suka Membaca_*

*Pendekatan Permainan dalam Mengajar Membaca*

🌟Pada hakikatnya membaca adalah proses memahami dan merekonstruksi makna yang terkandung dalam bahan bacaan.

🌟Kemampuan membaca yang diperoleh seseorang pada tahap membaca permulaan, akan sangat berpengaruh terhadap kemampuan membaca lanjut kelak.

🌟Karenanya, para ahli merancang berbagai metode permainan untuk mengembangkan kemampuan membaca anak usia dini dalam rangka memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan.

*Berikut adalah beberapa metode permainan membaca yang dimaksud:*

1⃣*Metode sintesis*
Metode ini berdasarkan pada teori asosiasi. Metode ini menekankan pemahaman bahwa suatu unsur (dalam hal ini: unsur huruf) akan bermakna apabila unsur tersebut bertalian atau dihubungkan dengan unsur lain (huruf lain) sehingga membentuk suatu arti.

Unsur huruf tidak akan memiliki makna apa-apa kalau tidak bergabung (bersintesis) dengan unsur (huruf) lain, sehingga membentuk suatu kata, kalimat atau cerita yang bermakna. Karenanya, dalam permainan ini, membaca dimulai dari unsur huruf.

Permainan membaca ini dilakukan dengan menggunakan bantuan gambar pada setiap kali memperkenalkan huruf, misalnya huruf a disertai gambar ayam, angsa, anggur, apel.

2⃣*Permainan membaca metode global*
Metode ini dibuat berdasarkan teori ilmu jiwa keseluruhan (gestalt).

Dalam metode ini, anak pertama kali memaknai segala sesuatu secara keseluruhan. Keseluruhan memiliki makna yang lebih dibandingkan dengan unsur-unsurnya. Kedudukan setiap unsur, hanya berarti jika memiliki kedudukan fungsional dalam suatu keseluruhan.

Contohnya: unsur “a” hanya bermakna, jika “a” ini fungsional dalam kata atau kalimat, misalnya “ayam berlari.”

Maka, metode global memperkenalkan membaca permulaan pada anak yang dimulai dengan memperkenalkan “kalimat.”

Kalimat dalam permainan membaca permulaan ini dipilih dari kalimat perintah agar anak melakukan hal-hal yang ada dalam perintah tersebut, seperti “ambil apel itu”. Permainan ini dapat dilakukan dengan menggunakan kartu kalimat, kata, pecahan suku kata, dan huruf. Kegiatan permainan ini juga dapat dilakukan dengan menggunakan papan flanel dan karton yang dapat ditempel.

3⃣ *Permainan membaca metode _whole-linguistic_*
Dalam pendekatan ”whole-linguistic” permainan membaca tidak dilakukan dengan menggunakan pola kata atau kalimat yang berstruktur melainkan dengan menggunakan kemampuan linguistik (bahasa) anak secara keseluruhan.

Kemampuan linguistik secara keseluruhan akan melibatkan kemampuan anak dalam melihat (mengamati), mendengar (menyimak dan memahami), meng- komunikasikan (mengungkapkan atau memberi tanggapan), membaca gambar dan tulisan yang menyertainya. Dalam menggunakan pendekatan ini, lingkungan dan pengalaman anak menjadi sumber permainan yang utama.

Pendekatan ini juga tidak hanya menfokuskan pada pengembangan bahasa saja tetapi juga intelektual dan motorik anak.

Contoh: pada tema ”tanaman” dengan subtema buah-buahan, orang tua mengenalkan buah apel. Ortu bertanya pada anak tentang pengetahuan buah apel dari segi warna dan bentuk, rasa, jumlah buah apel. Pengenalan membaca permulaan dalam pendekatan _”whole-linguistic”_ ini dilakukan secara terpadu tanpa mengenal struktur pada anak, misalnya setelah anak menggambar atau mewarnai sesuatu, misalnya rumah atau binatang, ortu meminta anak memberi nama dari gambar tersebut dan ortu membantu menuliskan nama dari gambar yang diinginkan anak. Dan untuk mengembangkan kemampuan komunikasi, anak masih diminta untuk menceritakan tentang isi gambar yang telah dibuatnya itu.

*Sumber:*
http://windaulfah-pgsd11.blogspot.co.id/…/metode-membaca-pe…

http://www.membumikanpendidikan.com/…/pendekatan-permainan-…

http://susipebrianti1300682.blogspot.co.id/…/rancangan-perm…

*Salam Ibu Profesional*
//Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang//

______________________________________________________________________________________

_Institut Ibu Profesional_
_Review Materi Bunda Sayang sesi #5_

📚 *MEMBANGUN KELUARGA LITERASI* 📚

Selamat untuk anda para bunda di kelas bunda sayang yang sudah berhasil menyelesaikan tantangan game level 5.

Banyak kreasi literasi yang muncul, mulai dari pohon literasi, pesawat literasi, galaksi literasi dll. Semua yang sudah bunda kerjakan di tantangan kali ini sesungguhnya bukan hanya melatih anak-anak dan seluruh anggota keluarga untuk SUKA MEMBACA, melainkan melatih diri kita sendiri agar mau berubah.

Seperti tagline yang kita gunakan di tantangan level 5 kali ini, yang menyatakan

” *_for things to CHANGE, I must CHANGE FIRST_*”

Sebagaimana yang kita ketahui, tantangan abad 21, tidak cukup hanya membuat anak sekedar bisa membaca, menulis dan berhitung, melainkan kita dan anak-anak dituntut untuk memiliki kemampuan membaca, menulis, berhitung, berbicara dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat di sekitar kita. Kemampuan inilah yang saat ini sering disebut literasi ( _National Instiute for Literacy, 1998_ )

Institut Ibu Profesional akan mendorong munculnya gerakan literasi yang nyata yaitu mulai dari dalam keluarga kita. Apabila seluruh keluarga Ibu Profesional sudah menjalankan gerakan literasi ini maka akan muncul _rumah literasi_, muncul _kampung literasi_, dan insya Allah negara kita dipenuhi masyarakat yang literat. Tidak gampang mempercayai dan menyebarkan berita yang baik tapi belum tentu benar, makin memperkuat struktur berpikir kita, sehingga selalu mengutamakan “berpikir terlebih dahulu, sebelum berbicara, menulis dan menyebar berita ke banyak pihak”

*KOMPONEN LITERASI*

 *Literasi Dini ( Early literacy)*
_Kemampuan untuk menyimak, memahami bahasa lisan, dan berkomunikasi melalui gambar dan lisan yang dibentuk oleh pengalamannya berinteraksi dengan lingkungan sosialnya di rumah_. Pengalaman anak-anak dalam berkomunikasi dengan bahasa ibu menjadi fondasi perkembangan literasi dasar.

 *Literasi Dasar ( Basic Literacy)*
_Kemampuan untuk mendengarkan, berbicara, membaca, menulis, dan menghitung (counting) berkaitan dengan kemampuan analisis untuk memperhitungkan (calculating), mempersepsikan informasi (perceiving), mengkomunikasikan, serta menggambarkan informasi (drawing) berdasarkan pemahaman dan pengambilan kesimpulan pribadi_

 *Literasi Perpustakaan (Library Literacy)*
_Kemampuan memberikan pemahaman cara membedakan bacaan fiksi dan nonfiksi, memanfaatkan koleksi referensi dan periodikal, memahami Dewey Decimal System sebagai klasifikasi pengetahuan yang memudahkan dalam menggunakan perpustakaan, memahami penggunaan katalog dan pengindeksan, hingga memiliki pengetahuan dalam memahami informasi ketika sedang menyelesaikan sebuah tulisan, penelitian, pekerjaan, atau mengatasi masalah_

 *Literasi Media (Media Literacy)*
_Kemampuan untuk mengetahui berbagai bentuk media yang berbeda, seperti media cetak, media elektronik (media radio, media televisi), media digital (media internet), dan memahami tujuan penggunaannya_.

 *Literasi Teknologi (Technology Literacy)*
_Kemampuan memahami kelengkapan yang mengikuti teknologi seperti peranti keras (hardware), peranti lunak (software), serta etika dan etiket dalam memanfaatkan teknologi_

_Kemampuan dalam memahami teknologi untuk mencetak, mempresentasikan, dan mengakses internet_

 *Literasi Visual (Visual Literacy)*
_Pemahaman tingkat lanjut antara literasi media dan literasi teknologi, dengan memanfaatkan materi visual dan audio-visual secara kritis dan bermartabat_

*_Keluarga hebat adalah keluarga yang terlibat_*

Maka libatkanlah diri kita dalam gerakan literasi di dalam keluarga terlebih dahulu.

Pahami komponen-komponen literasi, dan lakukan perubahan yang paling mungkin kita kerjakan secepatnya.

Pohon literasi janganlah berhenti hanya sampai di tantangan materi kali ini saja. mari kita lanjutkan sehingga gerakan ini akan membawa dampak bagi keluarga dan masyarakat sekitar kita.

_Salam Ibu Profesional_

*/Tim Fasilitator Bunda Sayang/*

📚Sumber bacaan :

http://dikdas.kemdikbud.go.id/…/Desain-Induk-Gerakan-Litera…

_Clay dan Ferguson_ (www.bibliotech.us/pdfs/InfoLit.pdf) , 2001

_Beers, dkk, A Principal’s Guide to Literacy Instruction, 2009_

_National Institute for Literacy, 1998_

______________________________________________________________________________________

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s