Posted in Resume Materi Kuliah Bunda Sayang IIP Jkt #2

Catatan Level 4 “Memahami Gaya Belajar Anak”

Materi dan Tanya Jawab
Kuliah Bunda Sayang
17-18 April 2017

Fasilitator :
Bunda Evi Wiliyanti
Bunda Henifa Andriana

Koordinator :
Bunda Winarti

_Institut Ibu Profesional_
_Kelas Bunda Sayang Materi #4_

*MEMAHAMI GAYA BELAJAR ANAK, MENDAMPINGI DENGAN BENAR*

Dulu kita adalah anak/murid yang selalu menerima apa saja yang diberikan orangtua/guru kita, apabila ada hal-hal yang belum kita pahami, lebih cenderung diam, tidak berani untuk menanyakan kembali. Karena paradigma yang muncul saat itu, banyak bertanya dianggap bodoh atau mengganggu proses pembelajaran.

Itu baru tingkat pemahaman, guru/orangtua kita sangat sedikit yang mau memahami bagaimana cara kita bisa belajar dengan baik, yang ada kita harus menerima gaya orangtua/guru kita mengajar.

Sehingga anak yang gaya belajarnya tidak sesuai dengan gaya mengajar guru/orangtuanya, akan masuk kategori “siswa dengan tingkat pemahaman rendah” dan kadang mendapat label “bodoh”.

Jaman berubah, dan terus akan berubah. Sudah saatnya kita harus mengubah paradigma baru di dunia pendidikan.

Dari sisi orangtua/pendidik:

*Apabila anak tidak bisa belajar dengan cara/gaya kita mengajar, maka kita harus belajar mengajar dengan cara mereka BISA belajar*

Dari sisi anak/siswa:

*Setiap anak/siswa PASTI BISA belajar dengan baik, setiap anak akan belajar dengan CARA yang BERBEDA*

Sudah saatnya kita belajar memahami gaya belajar anak-anak ( Learning Styles) dan memahami gaya mengajar kita sebagai pendidik ( Teaching Styles ) karena kedua hal tersebut di atas akan berpengaruh pada gaya bekerja kita dan anak-anak ( Working Styles ).

Karena kalau tidak, kita dan anak-anak akan masuk kategori masyarakat buta huruf abad 20, yang didefinisikan Alvin Toffler sbb :

*Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar*

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang gaya belajar ada baiknya kita memahami terlebih dahulu untuk apa anak-anak ini harus belajar.

Ada 4 hal penting yang menjadi tujuan anak-anak belajar yaitu :

a.Meningkatkan Rasa Ingin Tahu anak ( Intellectual Curiosity)

b. Meningkatkan Daya Kreasi dan Imajinasinya ( Creative Imagination)

c. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu ( Art of Discovery and Invention)

d.Meningkatkan akhlak mulia anak-anak ( Noble Attitude)

Fokuslah kepada 4 hal tersebut selama mendampingi anak-anak belajar. Buatlah pengamatan secara periodik, apakah rasa ingin tahunya naik bersama kita/selama di sekolah? Apakah kreasi dan imajinasinya berkembang dengan bagus selama bersama kita /selama di sekolah? Apakah anak-anak suka menemukan hal baru, dan keluar *Aha! Moment*( teriakan “Aha! Aku tahu sekarang” atau ekspresi lain yang menunjukkan kebinaran matanya) selama belajar?

Apakah dengan semakin banyaknya ilmu yang anak-anak dapatkan di rumah/di sekolah semakin meningkatkan akhlak mulianya?

Setelah memahami tujuan anak-anak belajar baru kita memasuki tahapan-tahapan memahami berbagai gaya belajar anak-anak.Gaya belajar dapat menentukan prestasi belajar anak. Jika diberikan strategi yang sesuai dengan gaya belajarnya, anak dapat berkembang dengan lebih baik.

Gaya belajar otomatis tergantung dari orang yang belajar. Artinya, setiap orang mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda.

Modalitas belajar adalah cara informasi masuk ke dalam otak melalui indra yang kita miliki.

Tiga macam modalitas belajar anak:

Auditory : modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.

 Visual : modalitas ini mengakses citra visual, warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lain yang terkait.

 Kinestetik: modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.
Mari kita pahami gaya belajar tersebut secara detil, kita pahami ciri-cirinya dan bagaimana strategi kita untuk mendampingi anak-anak dengan gaya belajarnya masing-masing.
📌GAYA BELAJAR VISUAL ( Belajar dengan cara melihat)

Lirikan keatas bila berbicara, berbicara dengan cepat. Bagi anak yang bergaya belajar visual, mata / penglihatan (visual) memegang peranan penting dalam belajar, dalam hal ini metode pengajaran yang digunakan ibu/guru sebaiknya lebih banyak / dititikberatkan pada peragaan / media, ajak mereka ke obyek-obyek yang berkaitan dengan pelajaran tersebut, atau dengan cara menunjukkan alat peraganya langsung pada siswa atau menggambarkannya di papan tulis.

Anak yang mempunyai gaya belajar visual harus melihat bahasa tubuh dan ekspresi muka gurunya/ibunya untuk mengerti materi pelajaran. Mereka cenderung untuk duduk di depan agar dapat melihat dengan jelas. Mereka berpikir menggunakan gambar-gambar di otak mereka dan belajar lebih cepat dengan menggunakan tampilan-tampilan visual, seperti diagram, buku pelajaran bergambar, dan video.

📌 Ciri-ciri gaya belajar visual :

🌷Bicara agak cepat

🌷Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

🌷Tidak mudah terganggu oleh keributan

🌷Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

🌷Lebih suka membaca dari pada dibacakan

🌷Pembaca cepat dan tekun

🌷Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

🌷Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

🌷Lebih suka musik

🌷Mempunyai masalah untuk mengingat instruksi verbal kecuali jika ditulis, dan seringkali minta bantuan orang untuk mengulanginya.

📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak visual :

📝Gunakan materi visual seperti, gambar-gambar, diagram dan peta.

📝Gunakan warna untuk menghilite hal-hal penting.

📝Ajak anak untuk membaca buku-buku berilustrasi.

📝Gunakan multi-media (contohnya: komputer dan video).

📝Ajak anak untuk mencoba mengilustrasikan ide-idenya ke dalam gambar.

📌GAYA BELAJAR AUDITORI (belajar dengan cara mendengar)

Lirikan kekiri/kekanan mendatar bila berbicara. Anak yang bertipe auditori mengandalkan kesuksesan belajarnya melalui telinga ( alat pendengarannya ), untuk itu maka ibu/ guru sebaiknya harus memperhatikan siswa/anaknya hingga ke alat pendengarannya. Anak yang mempunyai gaya belajar auditori dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru/ibu katakan.

Anak auditori dapat mencerna makna yang disampaikan melalui tone suara, pitch (tinggi rendahnya), kecepatan berbicara dan hal-hal auditori lainnya. Informasi tertulis terkadang mempunyai makna yang minim bagi anak auditori dibandngkan dengan mendengarkannya.

Anak-anak seperi ini biasanya dapat menghafal lebih cepat dengan membaca teks dengan keras dan mendengarkan kaset.
📌Ciri-ciri gaya belajar auditori :

🌷Saat bekerja suka bicara kepada diri sendiri

🌷Penampilan rapi

🌷Mudah terganggu oleh keributan

🌷Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

🌷Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

🌷Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

🌷Biasanya ia pembicara yang fasih

🌷Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

🌷Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

🌷Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual

🌷Berbicara dalam irama yang terpola

🌷Dapat mengulangi kembali dan menirukan nada, berirama dan warna suara

📌 Strategi untuk mempermudah proses belajar anak auditori :

📝Ajak anak untuk ikut berpartisipasi dalam diskusi baik di dalam kelas maupun di dalam keluarga.

📝Dorong anak untuk membaca materi pelajaran dengan keras.

📝Gunakan musik untuk mengajarkan anak.

📝Diskusikan ide dengan anak secara verbal.

📝Biarkan anak merekam materi pelajarannya ke dalam kaset dan dorong dia untuk mendengarkannya sebelum tidur.

📌 GAYA BELAJAR KINESTETIK (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)

Lirikan kebawah bila berbicara, berbicara lebih lambat. Anak yang mempunyai gaya belajar kinestetik belajar melalui bergerak, menyentuh, dan melakukan. Anak seperti ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Anak yang bergaya belajar ini belajarnya melalui gerak dan sentuhan

📌 Ciri-ciri gaya belajar kinestetik :

🌷Berbicara perlahan

🌷Penampilan rapi

🌷Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

🌷Belajar melalui memanipulasi dan praktek

🌷Menghafal dengan cara berjalan dan melihat

🌷 Menggunakan jari sebagai petunjuk ketika membaca

🌷Merasa kesulitan untuk menulis tetapi hebat dalam bercerita

🌷Menyukai buku-buku dan mereka mencerminkan aksi dengan gerakan tubuh saat membaca

🌷Menyukai permainan yang menyibukkan

🌷Tidak dapat mengingat geografi, kecuali jika mereka memang pernah berada di tempat itu

🌷Menyentuh orang untuk mendapatkan perhatian mereka Menggunakan kata-kata yang mengandung aksi.

📌Strategi untuk mempermudah proses belajar anak kinestetik:

📝Jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam.

📝Ajak anak untuk belajar sambil mengeksplorasi lingkungannya (contohnya: ajak dia baca sambil bersepeda, gunakan obyek sesungguhnya untuk belajar konsep baru).

📝Izinkan anak untuk mengunyah permen karet pada saat belajar.

📝Gunakan warna terang untuk menghilite hal-hal penting dalam bacaan.

📝 Izinkan anak untuk belajar sambil mendengarkan musik

Ketika belajar memahami anak-anak, sejatinya kita sedang belajar memahami diri kita sendiri. Apabila bunda semuanya bisa melihat gaya belajar anak-anak karena sering mengamati perkembangan mereka, maka kitapun akan dengan mudah mengamati gaya belajar kita, gaya mengajar kita dan gaya bekerja kita.

Hal ini akan lebih membuat kita bahagia menjalankan proses belajar. Dijamin proses belajar juga tidak akan pernah berhenti dari buaian sampai ke liang lahat.

Anak-anak sangat menyukai bermain, karena energi yang dimunculkan ketika bermain tidak akan pernah habis. Apabila kita bisa memaknai belajar dan bekerja selayaknya anak-anak bermain, sudah dapat dibayangkan betapa asyiknya belajar dan bekerja dalam kehidupan ini. Karena setiap saat anak-anak akan menemukan energi yang terbarukan dalam proses belajarnya dan kita akan mendapatkan energi yang terbarukan dalam proses bekerja.

*Don’t Teach me , I Love to Learn*

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber Bacaan:

_Gordon Dryden and JeanetteVos, The Learning Revolution, ISBN-13: 978-1929284009_

_Barbara Prashing, The Power of Learning Styles, Kaifa, 2014_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Memahami Gaya Belajar Anak, GazaMedia, 2016_

————————————————————————————————————————

_SESI TANYA JAWAB_

1. Bunda Leila

T : 1.Kalau gaya belajar kita berbeda dengan anak bahkan mungkin kita menganggap gaya belajar anak bikin tidak nyaman (bagi kita, sih), dengan mendengar musik misalnya, bagaimana cara menyiasatinya? Apakah cukup dengan pemakaian earphone? Mengganggu di sini bisa dalam arti value keluarga (dan mengarahkan selera musik anak misalnya dengan cara mengalihkan ke genre yang Islami misalnya, perlu waktu lagi) maupun mengganggu anggota keluarga lain yang juga sedang belajar dengan gaya berbeda (opsi pembagian waktu bisa jadi sedikit sulit karena keterbatasan waktu yang tersedia).
2. Disebutkan bahwa untuk anak kinestetik jangan paksakan anak untuk belajar sampai berjam-jam. Nah, sejauh mana proses belajar bisa disebut dengan memaksa? Mengingat yang dibahas ini adalah anak kinestetik yang memang sangat aktif. Apakah jika diselingi break lalu kita ajak mulai belajar lagi (yang ‘lebih fokus’, tidak harus duduk diam juga sih), masuk ke memaksa karena inisiatif datang bukan dari anak sendiri?

3. Sedikit lebih teknis, saya biasa mencari tahu lebih jauh (meskipun kebanyakan hanya dengan cara googling) kutipan dalam materi IIP, khususnya kalau akan saya post ulang di blog, supaya lebih valid, tanpa mengurangi rasa hormat kepada tim penulis. Misalnya memastikan penulisan nama penulis tepat atau kalau ada dalam bahasa aslinya (misalnya bahasa Inggris) saya kadang ingin membaca versi sebelum diterjemahkan. Kali ini saya tertarik dengan perkataan Alvin Toffler yang diterjemahkan sebagai:
“Mereka yang dikategorikan buta huruf di abad 20 bukanlah individu yang tidak bisa membaca dan menulis, melainkan orang yang tidak mampu belajar, tidak mau belajar dan tidak kembali belajar.” Kalimat asli dari penulis yang saya temukan adalah “The illiterate of the 21st century will not be those who cannot read and write, but those who cannot learn, unlearn, and relearn.”
a. ‘Unlearn’ ini apakah tepat dialihbahasakan sebagai ‘tidak mau belajar’?
b. Yang saya tangkap dari teks aslinya, ketiganya merupakan satu rangkaian: orang yang tidak bisa “belajar kemudian melupakan/meninggalkan apa yang ia pelajari untuk lalu belajar lagi”. Barangkali setara dengan adab menuntut ilmu yang pernah dijadikan materi pembuka kuliah matrikulasi IIP dulu, membersihkan hati dan pikiran serta tidak merasa paling tahu ketika sedang belajar. Mohon koreksi jika saya salah.

J : 1⃣ bunda Leila
1. Apabila gaya belajar kita ternyata berbeda dengan gaya belajar anak kita, maka tugas kita adalah tidak mengganggunya, atau tidak memaksakan gaya belajar kita ke anak-anak.

Apabila berseberangan value, maka cukup kita ajak bicara dengan mengubah konten musiknya saja, tanpa mengubah gaya.

2. Untuk anak-anak kinestetik rentang konsentrasinya memang pendek. Pernah diteliti rata-rata anak rentang konsentrasinya itu 1 menit x umurnya. Anak kinestetik dg gaya belajar yg tidak pas dengan dirinya akan menjadi lebih pendek lagi.

Tetapi kita bisa mensiasatinya dengan setiap 5 menit break. Shg kalau belajar selama 30 menit, maka kita menyiapkan break permainan sebanyak 6 buah unt mengisi masa transisi konsentrasinya

3. Kemudian unt koreksi atas learn, unlearn dan relearn, terima kasih mbak. Ini kesempatan belajar kita untuk lebih detil lagi.

Nanti akan dikupas lagi lebih dalam, di dapur fasil dalam pekan ini ya mb

#tim fasilitator bunsay

2. Bunda Kartini

T : 1. Dari umur berapa anak-anak bisa kita lihat model belajarnya. Apakah jika anak aktif sekali, sudah termasuk kategori kinestetik? Bagaimana membangun rasa ingin tahu anak kita sedari kecil?

2. Jika saya sebagai orangtua mempunyai gaya belajar visual. Apakah nanti sy bisa mengajari anak sy yang berbeda gaya belajar misalnya auditory/kinestetik?

3. Saya sulit sekali menghapal nama orang, suka lupa nama orang dan ini juga yang dialami ibu saya. Tetapi saya malah mudah menghapal rumus-rumus yang sulit. Apakah sya yg tipe visual, diharuskan mencatat rapi shg sy bs dengan mudah mengingat nama orang baru bertemu dengan saya. (suka malu dah diceritain lupa)😁

J : 2⃣ Gaya belajar anak-anak itu akan mudah kita kenali ketika seluruh panca indra sudah berfungsi secara optimal. Kalau masih di bawah 2 tahun diperkaya dulu dengan berbagai eksplorasi stimulus. Kalau terlalu kecil kita belum bisa mendeteksi gaya belajar anak. Ketika anak sudah banyak berinteraksi dan eksplorasi maka akan lebih mudah kita mengenali gaya belajarnya.

Jadi, bisa dimulai di usia diatas 2 tahun.

Anak yang aktif sekali bisa jadi memang gaya belajarnya kinestetik, tapi perlu pengamatan lebih lanjut. Bisa menggunakan tabel untuk membantu (nanti saya posting saat memposting game level 4)

Sebenarnya anak lahir dengan fitrah belajar dan rasa ingin tahu yang besar. Yang perlu kita lakukan adalah membersamai ananda, melakukan pengamatan dan menjadi fasilitator nya.

2. Bisa bunda 😊

3. Boleh. Bisa dengan memvisualisasi dengan deskripsi detail tentang orang yang bunda baru temui 

#tim fasilitator kelas bunsay

3. Bunda Sari

T : Dalam mengamati gaya belajar anak, mungkin kadang orang tua bingung atau bahkan salah menilai. Apalagi jika usia anak masih kecil. Kadang gaya belajarnya pun berubah-ubah. Adakah patokan batas usia dimana gaya belajar anak akan tetap konsisten dan tidak berubah2 lagi?

J : 3⃣ bunda sari
Betul bunda, gaya belajar usia anak bisa jadi berubah-ubah. Secara usia, tidak ada patokan khusus. Karena anak yang satu dengan yang lain bisa jadi berbeda-beda.

4.Bunda Kusendra yunika :

T : 1. Apakah anak pasti memiliki 1 metode belajar saja atau bisa lebih atau bahkan berganti ganti metode belajarnya?

2. Apakah ada batasan waktu belajar anak? kalau anak hanya mau belajar 5 menit saja bagaimana?

J : 4⃣ bunda kusendra

1. 2⃣ mbak rima Belajar akan sangat menarik bila menggunakan sebanyak mungkin gaya. Bila hanya dijelaskan secara lisan, saya akan lupa, bila diberi contoh, saya akan ingat, bila diberi kesempatan untuk mencobanya, saya akan memahaminya, merupakan ungkapan yang sangat terkenal dalam proses belajar. Dalam belajar, yang ideal, caranya adalah mendengarkan, melihat, dan mencoba selalu dilakukan bersama-sama, bukan hanya menggunakan salah satu cara saja.

Cobalah cara kombinasi, jangan hanya mengandalkan cara belajar dengan mendengarkan. Cara kombinasi artinya menggunakan berbagai cara yang dimungkinkan sesuai dengan tuntutan. Otak akan berstimulasi melalui panca indra. Telinga, mata, dan kulit/anggota tubuh akan menstimulasi otak dengan cara yang berbeda. Dengan mengkombinasikan stimulasi yang berbeda, kita akan memberikan kesan yang lebih dalam ke otak.

Bagaimana cara melatihnya? Mulailah dari dominasi gaya belajar anak terlebih dahulu, kemudian kombinasikan dg gaya yg lain. Nanti kita akan melihat perpaduan mana yang paling tepat

2. Tidak ada batasan lama belajar. Kalau anak hanya mau belajar 5 menit bisa jadi objek belajarnya tidak membuat anak berbinar-binar. Bisa juga karena faktor lain, misalnya karena faktor fisik (capek, sakit, dsb). 

5. Bunda Fina
T : 1. gaya belajar anak yg unik dengan cara pengajaran di sekolah kadang berbeda. Bagaimana orangtua di rumah bisa membantu anak belajar yang efektif sesuai dengan kebutuhannya sedangkan waktu di sekolah cukup lama dan di rumah hanya beberapa jam karena orangtua bekerja?

2. waktu belajar untuk anak-anak yang kecil kadang sangat tergantung dengan PR atau ulangan. Jika tidak ada PR/ulangan, anak cenderung tidak belajar. Bagaimana menjaga waktu belajar dan anak-anak bisa disiplin dalam belajar baik ada atau tidak ada PR/ulangan

J :
5⃣ 1. Dengan kita membantu anak menemukan gaya belajarnya, harapannya anak akan bisa belajar dengan bahagia.
Untuk detail efektivitasnya, bisa dibaca di materi ya bunda tentang strategi belajar anak 

2. Setiap anak sejatinya memiliki fitrah belajar. Kalau anak tidak mau belajar bisa jadi karena beberapa faktor misal fisik atau hal lain

_____________________________________________________________________________________

GAME LEVEL 4

*📖 Gaya belajar anak 📖*

Setiap anak itu cerdas. Hanya saja kemampuan anak untuk mengerti hal yang berbeda tergantung pada gaya belajar anak. Bisa dominan hanya pada 1 gaya belajar saja, namun bisa juga gabungan dari beberapa gaya belajar dengan urutan belajar yang berbeda.

Dengan mengetahui gaya belajarnya anak akan lebih mudah mempelajari sesuatu.

🔍Pengamatan mendalam terhadap keseharian anak bisa membantu orangtua mengenali gaya belajar anak
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸

*Tantangan 10 hari level 4*

📝Bagi yang sudah mempunyai anak
1. Lakukan pengamatan terhadap anak pada saat kegiatan sehari-hari. Gunakan tabel untuk memudahkan pengamatan (tabel terlampir)
2. Tuliskan hasil pengamatan setiap harinya
3. Cermati gaya belajar anak berdasarkan hasil pengamatan

📝Bagi yang single dan belum punya anak lakukan pengamatan terhadap diri sendiri ataw orang terdekat

📝Bagi yang sudah berhasil menemukan gaya belajar anak dan diri sendiri bisa menuliskan hasil pengamatannya (dari mulai proses sampai berhasil menemukan gaya belajarnya)

#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KuliahBunsayIIP

______________________________________________________________________________________

Cemilan Rabu
Materi #4 Memahami Gaya Belajar Anak

Fitrah Belajar
——————————-

“Anakku malas belajar”
Pernah dapat keluhan ini dari teman-teman sejawat?, atau dari tetangga?Saudara? atau kita sendirilah yang mengeluhkan hal ini.

Benarkah anak-anak kita malas belajar?. Atau jangan-jangan kitalah yang terlalu mengkotak-kotakkan pengertian belajar, sehingga menjadi “duduk diam di meja belajar sambil baca buku atau menulis/menyalin”.

Fitrahnya setiap anak adalah pembelajar sejati, bagaimana tidak?.
Setiap bayi yang lahir adalah pembelajar tangguh, bayi tidak memutuskan merangkak seumur hidupnya, namun ia menuntaskan belajar berjalan dengan gigih, sampai bisa berlari dan melompat. Setiap bayi yang dilahirkan adalah penjelajah yang penuh rasa ingin tahu (discoverer, curiousity)setiap sudut rumah jadi targetnya. Setiap bayi yang lahir juga penuh dengan daya imajinasi kreatif. Lihat saja, di tangan kanak-kanak kita, sangkutan baju jadi pesawat, kursi jadi kuda pacu, awan dicat berwarna ungu, matahari berubah pink (merah muda) dan lain sebagainya. Tugas kita hanya memberi kesempatan, ruang yang aman dan semangat.

Lalu mengapa bisa berubah menjadi enggan atau malas belajar?. Jangan-jangan kitalah yang telah mengubur dan menyimpangkan fitrah belajarnya.

Apa saja yang bisa mencerabut fitrah belajar anak-anak kita?

1. pendidik (orangtua/guru) yang terlalu menyetir proses belajar anak, sehingga daya kreatif anak lumpuh.

2. pendidik yang terlalu banyak menyarikan materi, anak-anak tidak berkesempatan memaknai dan menemukan asosiasi antara ide-ide, sehingga daya pikirnya tidak terlatih

3. Buku teks yang digunakan tak mengandung ide-ide menggugah

4. Dipakainya kompetisi dan rasa takut sebagai pelecut belajar, sehingga anak-anak bukan belajar karena “rasa ingin tahunya”.

*Kita tidak bisa memastikan buku mana yang akan menggetarkan jiwa seorang anak; lukisan atau komposisi mana yang akan memantik apresiasi seninya; kunjungan ke tempat historis mana yang akan membangkitkan kesadaran sejarahnya. Setiap anak akan memberi respon secara berbeda-beda sesuai keunikan minat dan kepribadian mereka. Yang bisa kita lakukan adalah membuka akses selebar-lebarnya untuk mereka pada seberagam mungkin ide yang berharga (Charlotte Mason)*

Banyak orang mengira, kemampuan manusia yang utama dalam belajar adalah adaptasi, padahal semua binatang dan tumbuhanpun, Allah ciptakan mampu beradaptasi. Demikian juga, jika kita menganggap kemampuan utama manusia itu adalah kompetisi, karena sesungguhnya hewan dan jin pun berkompetisi.

*Ketahuilah bahwa kemampuan manusia yang utama adalah mengelola, mengklasifikasi, menginovasi dan mewariskan pengetahuan sebagai produk dari potensi fitrah belajarnya.* Seribu kera bisa dilatih memancing ikan, namun tidak satupun dari mereka mampu menciptakan kail dan mewariskan pada anak-anaknya.

Sesungguhnya setiap anak yang lahir telah memiliki potensi fitrah belajar. Para orang tua/pendidik tidak perlu panik menggegas kemampuan belajar anak-anaknya. Anak-anak hanya memerlukan sebuah ruang terbuka di alam dan hati orangtuanya yang terbuka bagi imajinasi kreatifnya, bagi curiousity-nya, bagi ketuntasan eksplorasi belajarnya, bagi penjelajahan dan petualangan belajarnya, bagi kesempatan untuk semakin menjadi dirinya.

sumber bacaan:
Fitrah based Education, 2016, Harry Santosa, Yayasan Cahaya Mutiara Timur.

_______________________________________________________________________________________

Cemilan Rabu

Materi #4 Memahami Gaya Belajar Anak

🌱 *ANAK ADALAH BENIH KEHIDUPAN* 🌱

Banyak orang tua mengeluhkan anak tidak mau mengikuti perintah atau malah melakukan hal yang dilarang. Pada prinsipnya, anak bukanlah kertas kosong yang akan pasif menerima semua perintah atau perlakukan dari lingkungan sekitar.Sebaliknya anak memiliki gambar dan warna sendiri yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Maka pendidikan seharusnya tidak menyamaratakan anak, tetapi memahami keistimewaan anak dan mengembangkannya.

🐥 *Motivasi Eksternal & Motivasi Internal* 🐣

Penelitian yang dilakukan oleh Daniel Pink memberikan hasil bahwa dorongan dari luar berupa ganjaran dan hukuman pada anak, tidak efektif dalam mendidik anak. Apabila seorang anak diberikan iming-iming saat berhasil dengan satu tantangan, anak memang bisa lebih cepat bertindak, namun dampaknya cepat menghilang dan menimbulkan ketergantungan. Motivasi Internal berarti menumbuhkan kesadaran pada diri anak, menghargai anak sebagai benih kehidupan. Hasilnya tidak terlihat langsung, karena lebih lambat dalam membentuk perilaku. Namun motivasi internal ini memberikan dampak yang lebih lama, membangun kemandirian anak dan bisa membantu anak dalam menyelesaikan tugas yang kompleks dan butuh kreativitas.

Anak lahir dengan kecerdasan tertentu yang butuh ditumbuhkembangkan secara optimal. Keberagaman potensi anak perlu dipahami oleh orang tua dan kemudian mendidik anak sesuai dengan potensinya tersebut. Pendidikan yang menumbuhkan meyakini bahwa anak adalah benih kehidupan. Benih yang mempunyai karakteristik tertentu, bukan kertas kosong, anak akan bergerak sendiri, mencari tahu, mengenali, memuaskan rasa ingin tahunya.

Ibarat benih, anak lahir dengan kekuatan menggerakkan akar-akar ke dalam tanah untuk mendapatkan apa yang dibutuhkannya. Anak akan terus menerus bergerak hingga menemukan jawaban yang memuaskan rasa ingin tahunya. Anak dengan komposisi kecerdasan visual akan tertarik pada hal-hal yang memuaskan kebutuhan visualnya. Demikian juga anak dengan komposisi kecerdasan lainnya. Komposisi kecerdasan ini akan mengambil peran pada gaya belajar anak.

Apakah seseorang hanya mempunyai kecenderungan salah satu gaya belajar? Belum tentu, bisa saja ia memiliki modalitas belajar perpaduan dari ketiga ciri tersebut. Tugas kita para pendidik (orangtua/guru) adalah memberikan stimulasi dengan ketiga ciri gaya belajar dimaksud.

*Yang penting anak pernah merasakan semua gaya belajar. Secara fitrah dirinya akan belajar mengikuti “suara hati kecil” akan menggunakan gaya yang mana, atau mengkombinasikan banyak gaya bergantung badai yg dihadapi .Ikuti suara hati kecil itu biarkan dia yang bersujud membisikkan ke seluruh bumi dan diamini oleh seluruh penghuni langit. ( _Septi Peni Wulandani_)*. 🌏🌏

Sehingga ilmu itu jadi berkah.

Sumber:
Anak Bukan Kertas Kosong, 2015, Bukik Setiawan, Panda Media

Diskusi ringan di kelas Bunda Sayang Koordinator IIP bersama Ibu Septi Peni Wulandani, Founder Institut Ibu Profesional

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Institut Ibu Profesional/

_______________________________________________________________________________________

level 4.1

_____________________________________________________________________________________

 

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s