Posted in Resume Materi Kuliah Bunda Sayang IIP Jkt #2

Catatan Level 2 “Melatih Kemandirian Anak”

Resume Materi dan Tanya Jawab
Pekan Ke 2 Kuliah Bunda Sayang
21 Februari 2017

Fasilitator :
Bunda Evi Wiliyanti
Bunda Henifa Andriana

Koordinator :
Bunda Indah Puspita Sari

*Institut Ibu Profesional*
_Materi Bunda Sayang Sesi #2_

*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

_Mengapa melatih kemandirian anak itu penting?_

Kemandirian anak erat kaitannya dengan rasa percaya diri. Sehingga apabila kita ingin meningktkan rasa percaya diri anak, mulailah dari meningkatkan kemandirian dirinya.

Kemandirian erat kaitannya dengan jiwa merdeka. Karena anak yang mandiri tidak akan pernah bergantung pada orang lain. Jiwa seperti inilah yang kebanyakan dimiliki oleh para enterpreneur, sehingga untuk melatih enterpreneur sejak dini bukan dengan melatih proses jual belinya terlebih dahulu, melainkan melatih kemandiriannya.

Kemandirian membuat anak-anak lebih cepat selesai dengan dirinya, sehingga ia bisa berbuat banyak untuk orang lain.

_Kapan kemandirian mulai dilatihkan ke anak-anak?_

Sejak mereka sudah tidak masuk kategori bayi lagi, baik secara usia maupun secara mental. Secara usia seseorang dikatakan bayi apabila berusia 0-12 bulan, secara mental bisa jadi pola asuh kita membiarkan anak-anak untuk selalu dianggap bayi meski usianya sudah lebih dari 12 bulan.

Bayi usia 0-12 bulan kehidupannya masih sangat tergantung pada orang lain. Sehingga apabila kita madih selalu menolong anak-anak di usia 1 th ke atas, artinya anak-anak tersebut secara usia sudah tidak bayi lagi, tetapi secara mental kita mengkerdilkannya agar tetap menjadi bayi terus.

_Apa saja tolok ukur kemandirian anak-anak?_

💮 Usia 1-3 tahun
Di tahap ini anak-anak berlatih mengontrol dirinya sendiri. Maka sudah saatnya kita melatih anak-anak untuk bisa setahap demi setahap meenyelesaikan urusan untuk dirinya sendiri.
Contoh :
Toilet Training
Makan sendiri
Berbicara jika memerlukan sesuatu

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak-anak di usia 1-3 th adalah sbb :
Membersamai anak-anak dalam proses latihan kemandirian, tidak membiarkannya berlatih sendiri.
Mau repot di 6 bulan pertama.
Bersabar, karena biasanya 6 bulan pertama ini orangtua mengalami tantangan yang luar biasa.
Komitmen dan konsisten dengan aturan.

Contoh:
Aturan berbicara :
Di rumah ini hanya yang berbicara baik-baik yang akan sukses mendapatkan apa yang diinginkannya.

Maka jangan pernah loloskan keinginan anak apabila mereka minta sesuatu dengan menangis dan teriak-teriak.

Aturan bermain:
Di rumah ini boleh bermain apa saja, dengan syarat kembalikan mainan yang sudaj tidak dipakai, baru ambil mainan yang lain.

Maka tempatkanlah mainan-mainan dalam tempat yang mudah di ambil anak, klasifikasikan sesuai kelompoknya. Kemudian ajarilah anak-anak, ambil mainan di tempat A, mainkan, kembalikan ke tempatnya, baru ambil mainan di tempat B. Latih terus menerus dan bermainlah bersama anak-anak, jadilah anak-anak yang menjalankan aturan tersebut, jangan berperan menjadi orangtua. Karena anak-anak akan lebih mudah mencontoh temannya. Andalah teman terbaik pertama untuknya.

💮 Anak usia 3-5 th
Anak-anak di usia ini sedang menunjukkan inisiatif besar untuk melakukan kegiatan berdasarkan keinginannya
Contoh :
 Anak-anak lebih suka mencontoh perilaku orang dewasa.
Ingin melakukan semua kegiatan yang dilakukan oleh orang dewasa di sekitarnya

🔑Kunci Orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia 3-5 th adalah sbb :
1. Hargai keinginan anak-anak
2. Jangan buru-buru memberikan pertolongan
3. Terima ketidaksempurnaan
4. Hargai proses, jangan permasalahkan hasil
5. Berbagi peran bersama anak
6. Lakukan dengan proses bermain bersama anak

Contoh :
Apabila kita setrika baju besar, berikanlah baju kecil-kecil ke anak.
Apabila anda memasak, ajarkanlah ke anak-anak masakan sederhana, sehingga ia sdh bisa menyediakan sarapan untuk dirinya sendiri secara bertahap.
Berikanlah peran dalam menyelesaikan kegiatannya, misal manager toilet, jendral sampah dll. Dan jangan pernah ditarget apapun, dan jangan diberikan sebagai tugas dari orangtus.Mereka senang mengerjakan pekerjaannya saja itu sudah sesuatu yang luar biasa.

💮 Anak-anak usia sekolah
Apabila dari usia 1 tahun kita sudah menstimulus kemandirian anak, mka saat anak-anak memasuki usia sekolah, dia akan menjadi pembelajar mandiri. Sudah muncul internal motivation dari dalam dirinya tentang apa saja yang dia perlukan untuk dipelajari dalam kehidupan ini.

Kesalahan fatal orangtua di usia ini adalah terlalu fokus di tugas-tugas sekolah anak, seperti PR sekolah,les pelajaran dll. Sehingga kemandirian anak justru kadang mengalami penurunan dibandingkan usia sebelumnya.

🔑Kunci orangtua dalam melatih kemandirian anak di usia sekolah :
1. Jangan mudah iba dengan beban sekolah anak-anak sehingga semua tugas kemandirian justru dikerjakan oleh orangtuanya.
2. Ijinkan anak menentukan tujuannya sendiri.
3. Percayakan manajemen waktu yang sudah dibuat oleh anak-anak.
4. Kenalkan kesepakatan, konsekuensi dan resiko.

Contoh :
Perbanyak membuat permainan yang dibuatnya sendiri ( DIY = Do It Yourself)
Dibuatkan kamar sendiri, karena anak-anak yang mahir mengelola kamar tidurnya, akan menjadi pijakan awal kesuksesan ia dalam mengelola rumahnya kelak ketika dewasa.

Ketrampilan-ketrampilan dasar yang harus dilatihakan untuk anak-anak usia sekolah ini adalah sbb:
1. Menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya.
2. Ketrampilan Literasi.
3. Mengurus diri sendiri.
4. Berkomunikasi.
5. Melayani.
6. Menghasilkan makanan
7. Perjalanan Mandiri
8. Memakai teknologi
9. Transaksi keuangan
10. Berkarya

💮 3Hal yang diperlukan secara mutlak di orangtua dalam melatih kemandirian anak adalah :
1. Konsistensi
2. Motivasi
3. Teladan

Silakan tengok diri kita sendiri, apakah saat ini kita termasuk orangtua yang mandiri?

💮 Dukungan-dukungan untuk melatih kemandirian anak
1. Rumah harus didesain untuk anak-anak
2. Membuat aturan bersama anak-anak
3. Konsisten dalam melakukan aturan
4. Kenalkan resiko pada anak
5. Berikan tanggung jawab sesuai usia anak

_Ingat, kita tidak akan selamanya bersama anak-anak.Maka melatih kemandirian itu adalah sebuah pilihan hidup bagi keluarga kita_

Salam,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

_Sumber bacaan_:

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang, antologi, gaza media, 2014_
_Septi Peni, Mendidik anak mandiri, pengalaman pribadi, wawancara_
_Aar Sumardiono, Ketrampilan dasar dalam mendidikan anak sukses dan bahagia, rumah inspirasi_

————————————————————————————————————————

_SESI TANYA JAWAB_

1. Bunda Kartini
T : Anak saya usia 1,5 th, disini seharusnya sudah diajarkan makan sendiri. Bagaimana jika anaknya saja susah makan? Kalau tidak sambil bilang apa gitu, tidak masuk makanannya, bagaimana menyiasatinya? Kalau masalah pipis atau bab, dia baru bilang setelah terjadi, tetapi aturan saya setiap 2 jam sekali saya bawa ke kamar mandi, agar dia pipis. Apakah ini sudah termasuk melatih kemandirian anak?

J : Iya bunda Kartini. Makan sendiri dan toilet training adalah bagian dari mengajarkan kemandirian pada anak.
Mengajarkan kemandirian memerlukan proses, mari kita dampingi.
Saya mendapatkan beberapa tips dari buku self help, halo balita, tentang melatih kemandirian makan.
1. Berikan informasi tentang makanan yang sehat dan manfaatnya bagi pertumbuhan.
2. Berikan informasi alat makan dan cara penggunaannya.
3. Ciptakan situasi makan yang menyenangkan.
4. Berikan kesempatan untuk turut serta memilih menu makanan keluarga.
5. Kalau menolak jenis makanan yang penting, sajikan makanan dalam bentuk lain.
6. Makanan disajikan semenarik mungkin.
7. Berikan kesempatan untuk makan sendiri.
8. Berikan pujian.

Kalau tentang toilet training, berdasarkan informasi yang saya dapatkan, setiap anak berbeda-beda mbak” *moment suksesnya* “, hehe..
Ada yang usia 1.5th, bisa kurang dari itu atau lebihnya. Yang penting adalah ibu berani lepas popok dan ibu bersabar menjalani prosesnya.

2. Bunda Nasta
T :
1. Anak saya umur 4 tahun, saya sudah latih kemandirian dengan mengembalikan mainan kalau sudah tidak dimainkan. Saya masih mengingatkan kalau melihat dia sudah ganti permainan. Kalau diingatkan kadang dia mau, kadang tidak mau mengembalikan. Disini saya suka emosi dan ujung-ujungnya jadi agak keras ke dia, bolehkan kita sedikit memaksakan anak demi menegakkan disiplin padanya?

2. Anak saya yang kedua suka berubah-ubah kemauannya, umurnya 2 tahun 8 bln. Kadang mau mandi, pas dimandiin berubah mau main aja. Jadi waktu time out saya paksa dia mandi, dengan tetap menghibur walaupun dia nangis. Bolehkah saya melakukan hal demikian? Atau membiarkan sampai dia luluh dan mau mandi atas kemauannya sendiri.

J : Hal yang perlu kita ingat dalam melatih kemandirian adalah perlu proses, dan anak usia dini memiliki kemampuan menyerap informasi dengan kuat. Mari kita yakinkan diri kita bahwa akan ada moment wow dari anak kita atas kesabaran kita.

Saya boleh share tulisan Abah ihsan ya ?

Agar Mandiri, Anak Butuh Pendampingan

Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
@abahihsan official page fb

Mandiri itu perlu latihan. Tidak tetiba menuntut anak “sadar!” tanpa ada pembinaan. Banyak orangtua mengatakan pada saya “abahihsan gimana caranya agar anak saya melakukan rutinitas harian tanpa harus “disuruh” atau diingatkan terus?

Atau seperti contoh pertanyaan berikut:

“Abahihsan mau tanya, Kirana 8th perempuan, suka bohong, misalnya belum sikat gigi, bilang sudah. Belum wudhlu, bilang sudah. Belum sholat bilang sudah. Kisaran bohongnya di 3 hal itu abah, apa yang salah aplikasinya ya? Bagaimana solusinya ya abah?”

Menuntut anak sadar dengan sendirinya tanpa pembinaan dan latihan itu seperti menyuruh anak berenang nyebrang sungai yang dalam, padahal Anda sendiri tak pernah mengajarkan atau melatih mereka berenang. Seperti orangtua yang nuntut deviden padahal gak pernah memberi saham.

Semua anak, agar TERBIASA melakukan rutinitas harian itu butuh PEMBIASAAN. Pembiasaan itu membutuh bimbingan, pendampingan, butuh “investasi” waktu orangtua! Pembiasaan yang berulang akan menumbuhkan habbit dan kesadaran.

Karena eh karena parents jika Anda tidak menemani, tidak mendampingi, itu berarti Anda hanya pake remote (perintah lisan). Semua anak melakukan rutinisas itu harusnya didampingi, ditemani, diawasi.

Bahkan dalam perkara sholat sekalipun. Bukan disuruh doang pake mulut. Ketika anak dilatih sholat usia 7 tahun sampai 10 tahun, sesuai SOP Rasulullah, anak seharusnya tidak boleh dibiarkan sholat sendirian. Harus ditemani, didampingi, bahkan ketika ibunya haidh sekalipun. Bukan berarti ibunya yang haidh harus sholat, tidak. Tapi ibunya menunggu, mendampingi anak sholat, memeriksa gerakannya, bacaannya dll. Ini berarti orangtua menganggap perkara besar sampai-sampai aktivitas masak, nyuci, atau apapun dihentikkan saat anak sholat, menemani mereka.

Abah sampe kapan harus dampingi? Bukannya anak jadi tidak mandiri klo didampingi terus?

Mandiri itu gak tiba tiba bro sistah! Harus latihan. Agar anak sholat dengan baik itu tidak tiba-tiba nunggu anak sadar nduk. Ada tarhib, pembiasaan, selain targhib memotivasi. Nah pembiasaan itu membutuhkan pendampingan.

Dari balita sampe usia kira-kira 10 tahun normal didampingi. Setelah 10 barulah gak ada pendampingan pun gpp.

Demikian juga Bagaimana mungkin menuntut kesadaran doang (dibahas tuntas di PDA) untuk anak disiplin dengan sikat gigi mandi dll kalau hanya menggunakan perintah, perintah dan perintah. Kalau saya, temani semua anak, ke kamar mandi dll. Jadikan rutinitas menyenangkan… sambil becanda sikat gigi bareng dll. @abahihsan

– Berikan alternatif pilihan, misalnya mandi 5 menit lagi ya.
– Kenalkan anak pada resiko dan konsekuensi. Misalnya, Ade mandi ya, nanti ditinggal mama pergi kalau tidak mandi tepat waktu.
Catatanya adalah bedakan dengan ancaman. Gimana caranya? Bisa kita lihat dari dari nada kita saat bicara. 🙂
– Lakukan konsekuensi atas apa yang sudah kita sepakati. Agar anak percaya apa yang kita katakan.

3. Bunda Ira
T : Bagaimana cara toilet training untuk anak 5 dan 3 tahun? Apakah benar ada pengaruh susu formula dengan ngompol pada malam hari?

J : Adakah ibu2 yang punya pengalaman? Silakan berbagi.
Yang saya tau, memang ada pengaruh juga dari susu formula. Sumbernya saya cari belum ketemu .

Kalau tentang toilet training, sedikit jawaban ada di pertanyaan no 1

4. Bunda Kusendra Yunika
T : Saya sudah pernah baca terkait kemandirian anak ini. Tapi suami dan keluarga besar punya pendapat yang lain. Menurut suami anak saya 4thn. Masih kecil jadi belum lulus toilet training (masih ngompol kalau m malam). Makan masih minta disuapin. Tidak diijinkan kedapur. Kalau main tidak dirapikan juga tidak masalah. Jadi kalau saya sendiri yang menerapkan jadi berat. Bagaimana ya solusinya? Yang mana solusinya adalah merubah mindset suami dan keluarga. Apalagi ada tante yang nginep dirumah dan selalu memberikan apa yg anak saya mau.

J : Great challenge, ini mba…
Paling tidak memang seiya sekata dengan suami. Sehingga lebih mudah nanti memberikan pengaruh kepada keluarga besar.
Bagaimana komunikasi produktif dengan pasangan? Ada di materi sebelumnya ya.. Sembari meyakinkan keluarga besar.

Yang biasanya saya ingat, anak tidak akan salah mengcopy. Keluarga besar punya pengaruh untuk memberikan copyan, tapi orang tua harus punya magnet lebih besar dibandingkan keluarga besar.

5. Bunda Sari
T : Karena kebiasaan disuapi, maka anak saya yang pertama (4 thn 11 bln) kalau diminta makan sendiri selalu mengeluh dan sering tidak habis… bagaimana memulai untuk mengajarkan kemandiriannya, apakah dengan sedikit ketegasan? karena anak saya sudah bisa berargumen dan kadang bicara “bunda udah gak sayang lagi?” (hanya karena saya tidak menyuapinya).

J : Pinternya lah anaknya mba sari
Jawabannya hampir sama dengan pertanyaan Sebelumnya ya mba.
Anak pasti lapar kalau tidak makan, dan orang tua harus tegas. Tapi, tentu dengan cara yang menyenangkan .

6. Bunda Aini
T : Mengajarkan kemandirian pada anak khususnya balita tidak terlepas dari melatih kedisiplinan, bagaimana caranya agar kita sebagai orang tua dapat mendisiplinkan anak sejak dini tanpa adanya keterpaksaan pada diri anak sehingga dapat memudahkan bagi si anak dalam mengajarkan kemandirian…?

J : Memunculkan kesadaran internal dalam melakukan sesuatu adalah hal yang penting. Sehingga tidak menjadi keterpaksaan pada diri anak.
Untuk usia dini, melatih kedisiplinan tidak bisa dengan cara “militer”, tapi harus dengan cara yang menyenangkan dan posisi mengajak.

Misalnya, merapikan mainan. Ibu berpura-pura menjadi semut besar, anak jadi semut kecil. Semut besar mengambil gula/mainan yang besar, semut kecil mengambil gula/mainan kecil.

7. Bunda Leila
T : Terkait memberi contoh kemandirian ke anak, kadang saya sepulang kantor pilih quality time dengan anak, jadi piring gelas kotor bekas makan malam saya misalnya ditaruh dulu… Maunya sih nyucinya nanti setelah anak-anak tidur, tapi sering sudah diambil alih ART… Triknya gimana ya, apa kegiatan cuci piring itu juga kita masukkan ke quality time saja? Tapi karena perhatian kita ke piring dkk, kontak mata rasanya kok berkurang. Kalau yang sehari-hari banyak bersama anak, mungkin terimbangi dengan interaksi di kali lain. Sementara saya sebagai ibu bekerja, waktu untuk komunikasi dengan anak secara fokus perlu diatur dengan baik, itu juga sebagian harus berbagi dengan waktu video call-an dengan suami yang sedang tinggal beda kota. Yang sering terjadi, kalau saya ambil cucian piring gelas, ART (menginap) jadinya main sama anak…sayanya ‘cemburu’ hehehe. Masih butuh manajemen waktu lebih baik sepertinya ya.

J : Ada yang menganggap cuci baju dan setrika adalah quality time baginya, sehingga dengan meningkatkan jam terbang di ranah tersebut sekarang dia membuka jasa laundry dengan sukses.
Kalau kita review kembali materi di matrikulasi IIP, disana digambarkan bahwa pendidikan anak adalah yang pertama dan utama. Lebih baik outsourcing dalam perkara lain, dan pendidikan serta quality time anak adalah peran utama orang tua.
Bisa juga anak diajak bersama untuk cuci piring, sambil melatih kemandirian anak.

8. Bunda Mumun
T : Anak saya Ayman 4 thn 4 bln. Kalau di sekolah bisa makan sendiri dengan lahab. Kalau di rumah kok tidak mau makan kalau tidak disuapin. Akhir-akhir ini malah dia susah makan. Kalaupun mau, menunya minta yang tidak ada di meja makan. Kadang minta pakai telor ceplok, trus sama kecap. sudah dibikin ternyata telornya tidak enak, ganti telor dadar saja. Kecap ya tidak enak juga lah.. Apa ada fase nya anak umur segitu suka minta yang aneh-aneh ya? Gimana cara mensikapinya, karena Berat Badan skrg cenderung turun juga.

J : “Fase usia 4 tahun minta aneh2″, saya belum pernah baca referensi dan pengalaman tentang itu bunda.
Mungkin ibu2 yang lain ada yang pernah mendapatkan sumber tentang itu?
Yang saya pernah baca, ketika anak mengalami perubahan misal sebelumnya sudah bisa mandiri dalam hal makan dan toilet training kok tiba2 mengalami kemunduran, orang tua diminta untuk mencari penyebabnya dulu bisa jadi karena faktor fisik bisa jadi karena psikis. Faktor fisik misal sakit. Faktor psikis misal sedang mencari perhatian dari orang tua.
Setelah didiagnosa baru bisa dicari solusinya.

9. Bunda Rita Fithradewi
T : Anak anak saya terutama yang 7 dan 5 tahun sudah bisa pakai pakaian sendiri. Ketika mereka di luar bersama ayah mereka, mereka mandiri mulai dari mandi sendiri, ambil baju dan pakai sendiri sampai makan sendiri. Tetapi bila ada saya, ceritanya berbalik. Pertanyaan: Bagaimana anak anak saya tetap bisa melakukan sendiri walaupun ada saya. Sepertinya mereka mengandalkan saya untuk hal tersebut.

J : Apakah kejadian itu selalu atau sekali dua kali saja bunda?
Kalau cuma sekali dua kali tidak apa-apa.
Yang penting memang terus menumbuhkan motivasi internal mereka ketika melakukan kemandirian.

10. Bunda Rimawanti
T : Saya berusaha mengajarkan kemandirian anak sejak kecil, sesuai kemampuan anak. misal anak bungsu yang usia menjelang 3 tahun, dia sudah bisa toilet training (buka celana, buang air kecil, pakai celana lagi). namun adakalanya dia seperti ingin manja/mendapat perhatian, dengan cara BAK harus ditemani atau pun dipakaikan celana.
begitu pula dengan anak saya yang lain.

Bagaimana melihat sikap anak bahwa saat itu mereka hanya mau perhatian saja atau justru pembelajaran yang sudah dikuasai justru mengalami kemunduran?

Adakah tips untuk meningkatkan motivasi anak untuk melakukan sendiri? Apa saja batasan untuk tidak membantu melakukan pekerjaan tersebut?

J : Sama dengan jawaban sebelumnya.
Sebenarnya anak lahir dengan fitrah. Termasuk dalam hal kemandirian. Misalnya diatas usia 3 tahun anak meniru pekerjaan orang dewasa, ingin ikut2an saat kita memasak, ikut nyuci, menyapu; mereka bangga saat bisa melakukan pekerjaan tersebut. Hanya terkadang orang tua yang seringnya terlalu khawatir atau kadang tidak tega. He..
Yang perlu kita lakukan adalah mengawasi dan mempersiapkan jika ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Misalnya, saat didapur menyiapkan salep dan tepung dingin.
Saat ada gelas pecah:
– pakai sandal
– ambil sapu dan cikrak (apa ya bahasa Indonesia nya, hehe)
– ambil lap basah dan lap semua serpihan kecil
– buang serpihan beserta lap2nya

Batasan untuk tidak membantu adalah saat memang di usia tersebut adalah fase perkembangannya. Contohnya seperti yang ada di materi.
Kalau ibu2 ada tambahan referensi terkait kemandirian anak dan usianya, feel free to share ya.

______________________________________________________________________________________

*Tantangan 10 hari Apresiasi Kemandirian*

(Periode 23 Feb – 11 Maret 2017)

Dalam tantangan 10 hari di materi kemandirian kali ini, kita akan memberikan apresiasi kemandirian dalam beberapa kategori yaitu:
👪 Bagi anda yang sudah memiliki putra/i

💑Bagi anda yang ingin melatih kemandirian berdua dengan pasangan karena di rumah belum ada anak-anak

🙋Dan Bagi anda yang masih single.

Bagaimana caranya?

1⃣ Buatlah list kemampuan kemandirian apa saja yang ingin anda latihkan baik kepada putra/putri anda (bagi Ibu yang sudah memiliki anak), atau kepada anda dan pasangan (bagi ibu yang belum memiliki anak), atau kepada diri anda sendiri (bagi anda yang masih single).

2⃣Buatlah program *One Week One Skill* Dalam satu bulan ini min. melatih 1 kemandirian dan max. 4 kemandirian.

3⃣Abadikan portofolio kemandirian anak 👪

Kemandirian kita dan atau pasangan 💑

Kemandirian diri kita sendiri🙋

Bisa dalam bentuk foto dengan caption atau tulisan narasi yang anda posting setiap hari, minimum selama 10 hari dan max. tak berbatas waktu, bergantung komitmen yang anda buat.

🎖Bagi anda yang berhasil menyelesaikan tantangan ini akan memperoleh badge “YES, I CAN”💪💪 apapun kondisi anda, baik konsisten setiap hari, lompat-lompat, dirapel,dan minta dispensasi, selama sampai tanggal 11 Maret 2017, anda selesai pasti dapat badge.

🎖🎁🎁
Bagi anda yang berhasil konsisten 10 hari berturut-turut dan menyelesaikannya sampai akhir maka akan mendapatkan tambahan badge

*You’re outstanding performance*

Dan mendapatkan kesempatan untuk masuk seleksi tulisan terbaik nasional dan pertukaran mahasiswi ke grup lain.

🎖🎁
Bagi anda yang berhasil menyelesaikan tantangan, dg cara dirapel atau lompat-lompat, apapun kondisinya, maka anda akan dapat tambahan badge

*You’re excellent*

Posting Portofolio di Blog/Platform lainnya, disertai hashtag:

#Namalengkap
#Hari
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunsayIIP

Dan bagi yg di blog, tambahkan kategori/label:
*Bunda Sayang*
*Melatih Kemandirian*
*Ibu Profesional*
*IIP*

Setorkan link tulisan anda ke:
1. FB grub Kelas Bunda Sayang
2. Email ipsharie@gmail.com (konfirmasi japri)

Jika mengalami kendala teknis, hubungi Koordinator Bulanan untuk bantu carikan solusi.

Tetap semangat, yakin… *Yes, I CAN!*

_______________________________________________________________________________________

Cemilan Rabu

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

Kemandirian Anak dan Adversity Quotient

Berbagai rutinitas harian anak, seringkali menantang dan menghadapkan kita pada pilihan apakah akan ‘membantunya’ atau ‘melatihnya melakukan sendiri’. Sebut saja, misalnya: makan, memakai sepatu, mandi, membereskan mainan, dan lain-lain.

Dengan alasan ‘sudah terlambat’, seringkali kita pada akhirnya ‘membantu’ menyuapi si tiga tahun. Tak jarang juga, kita bantu pasangkan sepatu si dua tahun, hanya karena tak sabar melihatnya berproses memakai sepatunya. Lalu bagaimana dengan si 10 tahun yang akan berangkat sekolah? Dengan alasan yg kurang lebih sama, kita sibuk menyiapkan seragam dan berbagai kebutuhan sekolahnya.

Padahal, yang kita cita-citakan bersama tentulah mempersiapkan calon ibu yang tangguh, serta calon ayah yang penuh tanggung jawab bukan? Dan kemandirian sejak dini adalah kunci awalnya.

Maka, bila anak-anak kita yang masih berusia 0-1 tahun masih sepenuhnya bergantung pada orang lain di sekitarnya, seiring dengan pertumbuhannya, sepatutnya kita melatih juga kemandirian anak. Misal: anak usia 3 tahun sewajarnya bila sudah tidak disuapi lagi, dan anak usia 4 tahun sepatutnya sudah bisa membersihkan tubuhnya sendiri.

Adalah Adversity Quotient yang menggambarkan pola seseorang dalam mengolah tanggapan atas semua bentuk dan intensitas dari kesulitan. Menurut Paul G. Stoltz, Adversity Quotient merupakan kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.

Adversity Quotient memiliki tiga tingkatan dengan terminologi pendaki gunung.

1. AQ rendah
Mereka cenderung mudah menyerah dan tidak berdaya. Mudah menyalahkan orang lain tanpa memperbaiki situasi. Kesulitan yang dihadapi mempengaruhi semua aspek hidupnya sehingga selalu merasa dikelilingi kesulitan. Seringkali menolak kesempatan yang diberikan. Mereka diidentikkan sebagai orang yang terhenti ( quitter)

2. AQ sedang
Memiliki banyak perhitungan. Mereka mampu memandang kesulitan sebagai sesuatu yang sementara dan cepat berlalu, tetapi ketika kesulitan itu semakin menumpuk, maka akan membuat putus harapan dan memandang kesulitan tersebut akan berlangsung lama dan menetap.

Seringkali sudah melakukan sedikit lalu berhenti di tengah jalan. Mereka mau mendaki meskipun akan berhenti di pos tertentu dan merasa cukup sampai disitu ( camper)

3. AQ tinggi
Inilah pembelajar seumur hidup. Mereka mempu untuk mengendalikan setiap kesulitan. Kesulitan yang muncul pada satu aspek kehidupan tidak meluas pada aspek yang lain. Mereka memandang kesulitan yang ada bersifat sementara dan cepat berlalu. Mampu memandang apa yang ada di balik tantangan tanpa memikirkan suatu hal sebagai hambatan. Mereka membuktikan diri untuk terus mendaki ( climber)

Pandu anak-anak supaya terbentuk AQ yang tinggi. Bukankah ini penting bagi mereka dalam menghadapi tantangan sehari-hari? Supaya mereka bisa melewati tantangan hidup. Menyelesaikan masalah, mulai dari yang sederhana hingga yang sulit dapat mereka lakukan dengan penuh percaya diri.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Bahan Inspirasi :
Stoltz, P.G. 2000. Adversity Quotient, Mengubah Hambatan Menjadi Peluang. PT. Grasindo

_____________________________________________________________________________________

Cemilan Rabu #3

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Ayah Bunda, Biarkan Anakmu Berproses*

Jika anak kerap meminta secara berlebihan dan selalu ingin dilayani, layaknya kita waspada. Apa yang terjadi pada diri anak kita kemungkinan sinyal bahwa ia tidak tumbuh menjadi anak yang mandiri. Namun jangan pula terburu-buru menyalahkan anak. Sebab apa yang terjadi tak lepas dari bagaimana kita mendidiknya.

Melatih anak mandiri memang bukan persoalan gampang. Seringkali orang tua bersikap *ambivalen* dalam menghadapi anak. Di satu pihak mereka menuntut anak menjadi mandiri, namun di sisi lain orang tua kurang berteguh hati untuk memberikan kesempatan pada anaknya untuk mencoba. Padahal keyakinan diri anak-anak tumbuh ketika mereka menyelesaikan aktivitas kemandirian mereka. Bagi anak, dengan memberikan kontribusi dalam keluarga, mereka melihat dirinya sebagai anggota yang penting dari “tim” keluarga. Di samping itu, ketika mereka menguasai keterampilan baru mereka merasa berkompeten.

Sikap bijaksana orangtua memang sangat diperlukan dalam membentuk kemandirian anak. Orang tua tidak perlu bersikap terlalu melindungi. Berikanlah anak kebebasan untuk mengungkap segala keinginan dan pikirannya. Orang tua juga tidak perlu malu atau gengsi jika anak melakukan kesalahan.

Ukuran kebenaran bagi anak tidak dapat dilihat dari kacamata orang dewasa. Lagi pula dari kesalahan itu, anak akan belajar lebih banyak. Ingatlah, bahwa orang tua tidak selalu ada di samping anak untuk membantunya seumur hidup. Karena itu, ketika anak belajar mandiri, tunjukkanlah bahwa orang tua memperhatikan hal-hal yang mereka lakukan. Pujian dan dorongan akan memotivasi anak dan membuat mereka merasa bangga.

Anak-anak senang ketika mereka diliputi kehangatan yang mengalir dari persetujuan orang tua yang selalu mereka cari. Anak juga berharap orang tua memberikan tanggung jawab kepada mereka, Karena bila larangan itu hadir, kelak anak akan menjadi bingung dan kehilangan respek terhadap orang tua yang tidak memberikan kepercayaan dan tanggung jawab.
Maka Ayah Bunda biarkanlah anak mandiri dan bertanggung jawab, meskipun hasilnya belum maksimal, terus fokus mendampingi anak berproses secara bertahap.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Bahan Inspirasi :

Nina Chairani & Nurachmi W., penyunting. Biarkan Anak Bicara, Jakarta. Republika, 2003

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

_______________________________________________________________________________________

_Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #1 Materi #2_

*MELATIH KEMANDIRIAN ANAK*

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

Yang pertama, kami akan mengapresiasi bunda semua yang sudah komitmen melakukan tantangan 10 hari ini :

🎖 Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 11 Maret 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat,maupun dirapel dan minta dispensasi.

Bunda berhak memperoleh badge *YES, I CAN*💪💪

Kartini
Pipit Jayanti
Indah Puspita Sari
Widya Ari
Merly susanti

Ismi
Annie silvia
Etty M
Evy andita
Iklima Ermis
Lathifah Barkah
Leila Rizky
Nanda
Neng Mardianis
Nurul Puspa Ayu
Rimawanti
Sarifah aini
Winarti
Rita Fithradewi

🎖🎁Bagi Bunda yang berhasil menyelesaikan tantangan di game level #2 ini sampai tgl 11 maret 2017 , praktek setiap hari dan baru bisa posting / dikumpulkan portofolionya dengan cara dirapel atau lompat-lompat,

Bunda berhak mendapatkan tambahan badge

*You’re EXCELLENT*

Ismi
Annie silvia
Etty M
Evy andita
Iklima Ermis
Lathifah Barkah
Leila Rizky
Nanda
Neng Mardianis
Nurul Puspa Ayu
Rimawanti
Sarifah aini
Winarti
Rita Fithradewi

🎖🎁🎁 Daaan…inilah Bunda-Bunda yang berhasil konsisten menjalankan tantangan 10 hari secara berturut-turut sampai akhir, baik praktek maupun mempostingnya setiap hari tanpa jeda,

Bunda berhak menyematkan badge

*You’re OUTSTANDING PERFORMANCE*

Kartini
Widya Ari
Pipit Jayanti
Indah P. Sari
Merly Susanti

Selamaat, selain dapat bagde tambahan, tulisan anda juga berhak untuk diikutkan di seleksi tulisan bunda sayang tingkat nasional, daaan satu lagi dapat kesempatan menjadi narasumber untuk share kesuksesan di grup lain.

Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

*_Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah_*

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

Ciri khas kemandirian anak :
a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.

b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.

c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.

d. Anak memiliki kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a. *MERDEKA*, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b. *PROGRESIF*, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. *INISIATIF* , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. *TERKENDALI DARI DALAM*, individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e. *KEMANTAPAN DIRI*, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang lebih untuk mencapainya.

_Sumber Bacaan :_
_Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id, pada tanggal 13 Februari 2016_

_Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016_

_Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009_

______________________________________________________________________________________

Sumber gambar : _trilling and fadel, 21 st century skills, 2009_

Versi Unicef yang ditulis ulang oleh rumahinspirasi.com

Bisa jadi panduan untuk anak usia sekolah.

Bisa dijadikan panduan untuk melatih kemandirian anak yang telah selesai dalam hal kemandirian keterampilan hidup seperti makan minum, dsb.

selengkapnya ada disini https://www.bcgperspectives.com/…/New_Vision_for_Education_…

_______________________________________________________________________________________

Selamat menikmati cemilan Rabu di siang hari 😊

🍎🍐🍌Cemilan Rabu #4🍌🍐🍎

Materi 2 : Melatih Kemandirian Anak

*Mandiri dan Tanggung Jawab*

Kemandirian dan tanggung jawab adalah dua hal yang saling mengikat dan tidak dapat dipisahkan. Karena salah satu hasil dari kemandirian itu adalah bertanggung jawab.

Tanggung jawab berarti:
1. Melakukan hal-hal yang benar semata-mata karena prinsip bukan karena orang lain yang memaksa untuk melakukannya
2. Membuat pilihan dengan bijaksana, setelah menimbang semua pilihan
3. Membuat diri dapat dipercaya dan diandalkan atas tindakan-tindakan yang dilakukan sendiri

Mengapa tanggung jawab pada anak itu penting? Ingatlah, tujuan akhir dari keseluruhan upaya yang kita lakukan dalam mendidik anak adalah memungkinkan anak-anak kita hidup tanpa kita. Bagaimana pun sayangnya dan berkuasanya kita, kita tidak bisa menjamin bisa mendampingi anak-anak sepanjang hidupnya. Suatu saat kita harus rela melepaskan anak pergi “mengepakkan sayap” mereka dan terbang meraih dunianya sendiri.

Maka dengan melatih kemandirian kepada mereka, secara tidak langsung sebenarnya orang tua juga sedang mengajarkan tanggung jawab sedikit demi sedikit sesuai dengan berjalannya waktu perkembangan anak. Keterampilan kemandirian yang dilakukan dengan konsisten, kontinyu, disertai dengan rasa ikhlas akan menumbuhkan tanggung jawab pada anak. Orang tua yang konsisten melatih kemandirian kepada anaknya sejak dini, akan mendapatkan sebuah perjalanan hidup yang menyenangkan pada diri anaknya dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Orang tua akan menikmati proses langkah benar dan salah langkah sepanjang kehidupan anaknya, karena setiap tahapan yang dilalui membawa anak ke tingkat kemandirian dan tanggung jawab yang lebih tinggi.

Bila kita melihat kasus-kasus mengenai anak-anak yang “bermasalah”, maka kita akan ditunjukkan bahwa sebenarnya anak-anak seperti itu kurang mempunyai akuntabilitas. Mereka tidak memahami apa artinya bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan mereka dan akibat-akibat yang harus ditanggung dari tindakan itu. Ketika seorang anak harus mempertanggungjawabkan tindakan-tindakannya, dia belajar lebih dari sekedar menyadari bahwa perilakunya mempunyai konsekuensi bagi dirinya dan orang lain. Dia juga belajar bahwa manusia tidak bisa hidup sendiri di dunia ini, mereka saling membutuhkan satu sama lain, mereka saling memiliki ketergantungan. Bila kita bertanggung jawab terhadap segala tindakan yang kita lakukan, sesungguhnya kita telah membuat sebuah perubahan dalam hidup ke arah yang lebih baik. Bukankah sebuah perubahan besar dimulai dari hal kecil? Maka mulailah melakukan hal kecil dalam kehidupan buah hati kita yaitu dengan membangun kemandiriannya.

Salam Ibu Profesional,

/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚Sumber Inspirasi:

William Sears, M.D., Anak Cerdas: Peranan Orang Tua dalam Mewujudkannya, Emerald Publishing, Jakarta 2004

Marcus Rio Y., Cara Menumbuhkan Kemandirian dan Tanggung Jawab Pada Anak (2-6). www.antonrio.wordpress.com, 2010

Tri Pujistutik, S.Pd., Perilaku Mandiri, www.4stoety.wordpress.com, 2014

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s