Posted in Writing Skills and Hand Lettering

Muthia Zahra Feriani : “Kenapa Menulis Bisa Membuat Ketagihan”

-Catatan SWAG Talkshow oleh Annisa M. Gumay-

 

Muthia Zahra Feriani adalah alumni Fakultas Hukum – Universitas Indonesia tahun 2013. Ia menjadi lulusan terbaik yang berhasil menyelesaikan studi S1 nya dalam 3,5 tahun, sempat menjadi asisten dosen, dan bekerja sebagai lawyer juga sebelumnya. Sebenarnya, Mba Muthia tidak terlalu meminati bidang hukum, namun karena Ia suka membaca dan menulis, dua hal ini lah yang mengantarkannya menjadi lulusan terbaik dan menyampaikannya pada jalan hidup sebagai seorang penulis serta wirausaha bidang ekonomi kreatif.

Saat kuliah, Mba Muthia sering menerima penolakan dari penerbit. Bukan hanya mengalami tulisan yang di reject saja, tapi juga pernah mengalami tulisannya tidak dibaca dan tidak dikritisi. Biasanya, ketika mendapati kondisi dimana apa yang kita dapatkan tidak sesuai dengan yang kita inginkan maka akan membuat kita berhenti melakukan apa yang kita sukai. Namun, lain hal nya dengan Mba Muthia. Ketika Ia ditolak oleh sejumlah penerbit besar, maka Ia menerbitkan tulisannya lewat jalur indie. Dan akhirnya Mba Muthia berhasil mencetak buku kumpulan cerpen pertamanya yang merupakan hasil kolaborasi dengan Alldo Fellix Januardy, temannya di FH-UI, yang juga Founder Logika Rasa.

Lalu, bagaimana behind the scene pembuatan buku kumcer tersebut dari proses ide sampai penerbitan?

Awalnya Mba Muthia menulis cerpen di blog dan rajin berinteraksi dengan pembaca, hingga Ia memiliki pembaca tetap. Cerpen ke-1 sampai ke-6 dibagikannya secara gratis di blog dan senantiasa berinteraksi dengan pembacanya. Namun begitu masuk cerpen ke-7 sampai ke-10, Ia menyampaikan pada pembaca bahwa cerita berikutnya bisa dibaca di buku kumcer kolaborasinya dengan Alldo.  Naskah buku belum selesai saat itu, namun Mba Muthia mencoba untuk  mengetes pasar dengan memunculkan design cover buku kumcer tersebut di blog dan membuka PO buku dengan special price untuk 200 orang pembeli kumcer pertama. Karena sebenarnya saat itu Mba Muthia dan Bang Alldo belum punya uang untuk mencetak buku. Alhasil, PO 200 eksemplar buku sold out dalam 4 hari.

Adapun untuk design cover buku, Mba Muthia meminta bantuan temannya yang pintar mendesain. Tidak cukup sampai di situ, Mba Muthia juga menggandeng beberapa temannya untuk membuat soundrack buku kumcer tersebut plus membuat film pendeknya. Jadi,.. pembeli buku kumcer akan mendapatkan buku, pembatas buku dan cd berisi sountrack dan short movie kumcer tersebut. Keren kan?! Buku kumcer tersebut sold out 1000 eksemplar dalam 3 bulan.

Saya sudah beli bukunya Mba Muthia saat acara SWAG kemarin. Bukunya mungil, pas dibawa kemana-mana karena ukurannya pas di tas kecil sekali pun. Designnya keren. Idenya juga keren. Mba Muthia menulis 10 cerpen dengan tema “Percaya Cinta”, sementara di sisi sebaliknya Bang Alldo menulis 10 cerpen lagi dengan tema “Tak Percaya Cinta”. Buku kumcer yang unik menurut saya, karena menampilkan dua sisi tema yang saling bertolakbelakang dalam satu buku. Epilognya juga oke. Dibandrol Rp 55,000/eksemplar, buku kumcer ini recommended untuk dikoleksi dan menjadi inspirasi penulis baru yang ingin punya buku sendiri.

Teknik pemasaran buku kumcer tersebut juga oke. Smooth but Sure!

Ceritanya, sebelum berani menerbitkan buku, Mba Muthia dan Bang Alldo melakukan riset sebelumnya. Mereka memperkirakan jumlah pembaca tetap masing-masing untuk menentukan jumlah eksemplar yang akan dicetak.

DSC_0001.JPG

“Jika Kalian ingin sesuatu tapi tak bisa mendapatkannya dengan jalan biasa maka carilah jalan lain yang luar biasa, karena pasti ada jalannya”-Quotes by Muthiazf-

Trus.. Mba Muthia bikin apa lagi?

Penulis perlu komunitas. Oleh karena itu, Mba Muthia dan bang Alldo membuat komunitas penulis di situs www.logikarasa.com. Ada sekitar 20 ribu orang pembaca dengan 30 orang pencerita lintas profesi dan lintas latar belakang yang tergabung didalamnya. Menurut Mba Muthia, dalam komunitas tersebut, yang asli penulis mungkin hanya sekitar 15%. Tapi, perbedaan latar belakang, yang dikolaborasikan dengan semangat belajar menulis, malah membuat karya kepenulisan yang dihasilkan menjadi otentik.

IMG_20170911_131538

-Setiap orang butuh cerita-

Cerita adalah media paling efektif untuk belajar. Di dalam cerita ada pikiran, ide, dan perasaan. Dan menulis adalah untuk bercerita. Lalu, bagaimana membuat cerita menarik dan berkarakter?

Pada acara SWAG ini, Mba Muthia membuat simulasi yang anti mainstream. Di awal materinya, mba Muthia meminta 8 orang peserta untuk berinteraksi dengan anaknya, Ayina, yang berusia 6 bulan selama 10 detik. Kemudian kedelapan peserta tadi diminta untuk membuat tulisan yang menceritakan aktivitas tersebut dalam 3 kalimat. Ternyata tak satu pun peserta membuat kalimat yang sama. Padahal peristiwa, objek, waktu dan topik tulisannya sama. Ketika masing-masing peserta membacakan tulisan masing-masing, terlihat lah perbedaan karakter tulisan diantara mereka. So’ apa insightnya? Meski banyak banget tema dan konten yang sama untuk ditulis sebagai cerita namun hasil tulisan setiap orang pasti berbeda. Kenapa? Karena setiap penulis memiliki sudut pandang, pengetahuan, pengalaman, lingkungan, pikiran, dan perasaan yang berbeda. Itu lah yang membuat kita berbeda dengan penulis lainnya.

 

Cerita menarik kadang bukan cerita fakta melainkan cerita yang meyakinkan pembaca. Penulis cerita fiksi yang hebat mampu menghidupkan karakter tokohnya. Lalu, bagaimana dengan cerita non fiksi? Adalah hal yang bagus jika kita membuat tulisan untuk menginspirasi orang lain, tapi jangan lupa untuk juga merubah diri sendiri menjadi lebih baik, dan belajar dari tulisan sendiri.

“Everyone thinks of changing the world but no one think of changing himself”

-Leo Tolstoy-

Menulis adalah perjalanan panjang. Menulis itu seperti mencicil, menjahit kata-kata dan mengabadikannya di atas kertas. Tidak ada penulis hebat yang dihasilkan dalam waktu semalam. Itu lah sebabnya kita harus terus berlatih menulis. Ketika menemukan peristiwa, cepat tuliskan. Penulis pun harus banyak membaca karena hal ini akan memperkaya kosakata yang dimilikinya sebab penulis adalah pemulung kata.

Menulis juga bisa menjadi terapi kejiwaan. Suatu aktivitas yang membuat orang merasa lega saat melakukannya. Ini yang disebut writing for healing. Dalam Logika Rasa, ada segmen yang bernama “kepada tentang” dan “terimakasih karena”. Segmen -kepada tentang- berisi surat-surat yang sangat ingin disampaikan namun tidak sempat terbaca atau malah memang tidak akan sempat terbaca. Sementara segmen –terimakasih karena- berisi tentang ungkapan rasa terimakasih pada seseorang atau sesuatu yang juga tidak sempat tersampaikan. Menurut saya, ide membuat kedua segmen ini keren banget. Karena segmen ini bisa memfasilitasi orang-orang yang membutuhkan terapi writing for healing.

Mba Muthia kemudian bercerita bahwa Ia pernah membuat sebuah tulisan yang paling banyak dibaca dan disukai oleh pembacanya padahal tidak ada hal khusus yang dipersiapkan saat proses penulisannya. Dapat dikatakan, semua mengalir begitu saja. Gak ada tuh pikiran membuat kerangka tulisan sebelumnya, atau pun persiapan berbagai hal teknis lainnya. Mba Muthia membuat tulisan itu murni untuk menyampaikan perasaannya pada seseorang. Dan orang tersebut adalah Ayahnya sendiri, Ayah yang sudah “pulang” lebih dulu.

“Setiap Cerita pasti akan menemukan Pembacanya”

Saya sama sekali belum pernah tau ada segmen “kepada tentang” dalam situs Logika Rasa sebelum membaca tulisan Mba Muthia. Ketika mengambil inisiatif untuk membacakan tulisan Mba Muthia di depan seluruh peserta SWAG pagi itu pun awalnya saya tidak bisa menebak tulisan seperti apa yang akan saya bacakan. Dan eng ing eng,.. saat pertama kali membaca tulisan tersebut, saya sudah tersentak dengan paragraf pertama. Baru baca satu kalimat saja, saya sudah bisa menyimpulkan arah tulisan itu. Kemudian, tetiba saya merasa begitu emosional dan tidak bisa menahan air mata karena teringat tulisan yang dibuat anak saya, Haura untuk ayahnya, persis satu hari setelah ayahnya meninggal. Rasanya, tulisan Mba Muthia itu begitu dekat dengan hidup saya. Pikiran saya lalu terbang menuju masa-masa awal saya melakukan writing for healing. Masa dimana ke”pulang”an suami menjadi titik tolak saya untuk mulai menulis lagi.

 

surat haura untuk ayah

Sama seperti mba Muthia, saya pun tidak pernah memikirkan hal-hal teknis kepenulisan saat membuat tulisan-tulisan dalam diary yang segmennya saya namai “Dear Hubby ini Heaven..”.

Nulis ya nulis aja.. karena setelah nulis saya merasa lega dan perasaan lega ini lah yang membuat saya selalu ketagihan menulis. Sebab saat menulis, terutama saat menulis surat pada almarhum suami, saya merasa menemukan saluran untuk menyampaikan isi hati, meski sangat sadar bahwa Ia pasti tidak akan pernah membacanya.

Namun memang tidak semua tulisan dalam segmen diary saya tersebut saya publish.

Awalnya iya, karena dulu masih belum “ngeh” dengan fitur edit privacy di medsos. Tujuan saya menulis di medsos saat itu hanya lah untuk mendokumentasikan tulisan untuk anak-anak saya. Saya ingin anak-anak tau perasaan sayang saya pada mereka dan ayahnya, serta perasaan saya saat berusaha menerima kepergian ayahnya anak-anak, yang mendadak, sebagai keputusan terbaik Alloh bagi keluarga kami. Harapan saya, tulisan tersebut akan menjadi percikan semangat bagi mereka dalam menjalani episode kehidupan tanpa Ayah lagi. Berikutnya, saya lebih nyaman untuk menyimpan sendiri semua tulisan tersebut dan berencana mencetaknya suatu hari nanti, dan terbatas untuk anak-anak saja.

Belajar dari tulisan mba Muthia yang terasa dekat dengan kehidupan pembaca, seperti itu lah harusnya penulis bercerita. Menulis cerita tentang hal-hal yang dekat dengan kehidupan pembaca akan memunculkan ikatan emosional antara pembaca dengan tulisan penulis tersebut. Adapun cara untuk membuat tulisan kita dekat dengan pembaca adalah : 1) Banyak mengamati, 2)Banyak mendengar, dan 3) Banyak mengabadikan.

Selanjutnya, saya belajar tentang HAKI dalam talkshow ini. Alhamdulillah, ragam ilmu yang diterima hari ini sangat bermanfaat. Mba Muthia menyampaikan bahwa hak cipta melindungi karya setelah di publish, namun ide yang belum dipublish tidak dilindungi dalam hukum. Oleh karena itu, mba Muthia menghimbau agar penulis membiasakan menyertakan nama, dan tanggal penulisan saat mempublish karyanya. Karya yang sudah dipublish, even di medsos, bisa dilindungi hukum.

Namun berkaitan dengan maraknya plagiarisme, beberapa orang memilih untuk tidak selalu mempublish karyanya di medsos  terlebih jika menurutnya karya tersebut memiliki nilai ekonomis. Beberapa penulis yang akan merilis buku pun seringkali tidak mempublish seluruh isi buku di medsos, biasanya hanya beberapa quotes saja yang dimunculkan, hal ini terkait nilai ekonomis atas karya tersebut.

Menanggapi tentang plagiarisme, Mba Muthia sendiri saat ini sudah berada dalam tahap merasa bahwa semua karya sejatinya cuma titipan Tuhan. Oleh karena itu Ia berpesan agar seorang penulis jangan pernah takut berkarya karena karya yang sudah kita hasilkan tidak akan pernah menjadi mantan, karya diibaratkan sebagai anak yang tidak akan pernah putus hubungan dengan kita.

Berkaitan dengan ide tulisan, Mba Muthia punya BANK IDE sejak SMA. Banyak ide yang belum selesai direalisasikan, disimpannya dalam bank ide yang tidak diketahui orang lain. Pada saat yang tepat, ide tersebut akan direalisasikannya menjadi sebuah karya. Metode ini sangat menginspirasi, khususnya untuk saya, yang sering dapat lintasan ide namun belum sempat mengeksekusinya secara serius. Benar juga ya,.. kalau kita punya bank ide, kapan pun dapat ide, bisa langsung aja diamankan di sana sebelum keburu lupa.

 

Terimakasih mba Muthia Zahra Feriani, panitia SWAG dan Studentcare atas ilmu dan event yang bermanfaat ini.

Terimakasih juga untuk RB Menulis IIP Jakarta yang sudah memfasilitasi saya dalam kegiatan ini.

Barokallah.

@non_nheesa, 10 sept 2017.

 

Adapun mengenai review umum mengenai SWAG Creative Talkshow yang diselenggarakan oleh studentcare bisa dibaca di :

http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/17/09/09/ow07vp-student-care-gelar-talkshow-menulis-kreatif

Referensi foto : IG @swagtalk_sc, dokumentasi pribadi Annisa MG

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s