Posted in Matrikulasi Kordinator IIP #Batch4

Rumah Belajar Sew&Craft IIP Jakarta ; satu pintu kami dalam membangun peradaban.

Bulan Mei 2017, saya akhirnya saya mengambil keputusan yang dampaknya akan banyak mewarnai kehidupan saya dua tahun setelahnya.. dan mungkin bertahun-tahun setelahnya.

Dengan segala pertimbangan, akhirnya saya beranikan diri untuk mengemban amanah sebagai ketua Rumah Belajar Sew & Craft IIP Jakarta. Alasan utama saya akhirnya mau mengemban amanah ini adalah karena saya ingin belajar sew&craft dan kami di rumbel butuh bersinergi untuk bisa saling berbagi dan melayani.

“Semoga Alloh memberkahi keputusan ini, mempermudah dan memberi saya kekuatan dalam menjalaninya..” demikian sepenggal doa yang saya ucapkan dalam hati karena ini adalah satu amanah yang harus saya pertanggungjawabkan di hadapan Alloh nantinya..

Banyak kejutan-kejutan yang saya temui setelah didapuk menempati posisi ketua rumbel. Salah satu kejutan yang harus saya hadapi adalah masuk dalam kelas matrikulasi koordinator. Alhamdulillah Alloh kasih saya kesempatan untuk memperoleh bekal ilmu dalam mengelola komunitas dan dipertemukan dengan teman-teman hebat dengan passion  yang sama.

Ada dua materi yang harus dipahami oleh koordinator dan kami juga kembali diwajibkan mengerjakan Nice Home Work ke-10 dan 11 sebelum dinyatakan lulus sebagai kordinator.

Dan,..tulisan ini hadir sebagai sebuah jurnal awal perjalanan saya sebagai ketua Rumah Belajar Sew&Craft IIP Jakarta.

Sebelum masuk ke NHW 10 yang akan saya dokumentasikan dalam tulisan ini, saya akan melampirkan materi 10 matrikulasi kordinator IIP Batch #4 berikut ini :

MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN

“It takes a Village to raise a CHILD”

-Perlu orang sekampung untuk membesarkan anak-
(Pepatah dari bangsa Afrika).

Dulu, pendidikan dimaknai, dipahami dan dijalankan oleh para keluarga dan komunitas secara berjamaah. Pendidikan adalah sebuah keniscayaan untuk membentuk komunitas yang lebih baik, demikian juga sebaliknya, komunitas memerlukan pendidikan untuk mengangkat derajat posisi peran personal dan komunal yang lebih baik di muka bumi ini serta memuliakan kearifan dan akhlak yang lebih baik bagi generasi selanjutnya.

Pendidikan bukan lahir karena adanya komunitas atau masyarakat, justru pendidikanlah yang melahirkan komunitas dan peradaban.

Pendidikan adalah tanggung jawab keluarga dan komunitas, karena keluarga dan komunitaslah yang paling paham peran yang paling bermanfaat untuk dirinya, yang paling tahu sisi kekuatan dan kelemahan dirinya.

Maka sudah saatnya kita mengembalikan keluarga dan komunitas yang kita bangun sebagai sentra pendidikan peradaban. Karena sesungguhnya peradaban adalah milik keluarga dan komunitas, karena di dalamnya akan muncul karya peradaban dan generasi peradaban yaitu anak-anak kita.

TAHAPAN MEMBANGUN PERADABAN DALAM KOMUNITAS

Membangun peradaban di komunitas bisa dijalankan seiring dengan membangun peradaban pada diri kita sendiri dan membangun peradaban di keluarga. Mari kita lihat bersama:

a. Setiap manusia memiliki MISI INDIVIDUAL

Setiap manusia dilahirkan dengan karakteristik yang unik, maka tugas dan peran yang akan dijalaninya di muka bumi ini juga pasti unik.

b. Setiap keluarga memiliki MISI KELUARGA

Misi keluarga bisa jadi misi bersama yang menjadi kekhasan setiap keluarga. Misi keluarga ini bisa jadi kombinasi dari sifat keunikan ayah, ibu dan anak. Atau bisa juga karena ada dominasi sifat yang mewarnai kekhasan keluarga. Di titik ini kita paham, apa rahasia besar Allah mempertemukan kita ( suami dan anak-anak) dalam satu keluarga.

c. Setiap komunitas memiliki MISI PERADABAN

“Burung yang berbulu sama pasti akan saling bertemu”

Inilah mungkin yang menyebabkan kita bisa berkumpul di komunitas Ibu Profesional, belum pernah saling ketemu muka, tapi rasanya sudah satu chemistry, karena sebenarnya kita sedang membawa misi peradaban yang sama. Yaitu membangun Rahmat bagi semesta alam lewat dunia pendidikan anak dan keluarga.

VALUES KOMUNITAS

Values komunitas adalah *BERBAGI dan MELAYANI_*
bukan MENUNTUT,

maka :
a. Mulailah dari diri kita,
b. Berbagi apa yang kita miliki
c. Satu alasan kuat karena anda ingin melayani komunitas, bukan untuk mencari popularitas, atau bahkan untuk memenuhi kepentingan diri sendiri.

TAAT ASAS

Kemudian tahap berikutnya adalah pahami, komunitas Ibu Profesional ini hadir dan berkembang di Indonesia. Dimana asas kebangsaan yang dianut di Indonesia adalah asas BHINNEKA TUNGGAL IKA. Sebagai warga negara yang baik kita perlu TAAT ASAS. Maka pahamilah bahwa kita ini adalah *BERAGAM*

Perbedaan itu akan menjadi rahmat, maka berjalanlah secara HARMONI dalam KEBERAGAMAN, GERAK dan KEBERMANFAATAN.

Jangan khawatr dengan jumlah, karena banyak dan sedikit itu tidak penting, yang penting adalah GERAK ANDA dan ASAS KEBERMANFAATAN kita bagi sesama.

Pakailah prinsip sebagai berikut :

#Andaikata ada 1000 ibu yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga maka salah satunya adalah : SAYA.

#Andaikata ada 100 ibu yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga maka salah satunya : pasti SAYA.

#Andaikata hanya ada 1 ibu saja yang mau memperjuangkan peradaban melalui pendidikan anak dan keluarga maka : ITULAH SAYA.

Rumah adalah miniatur peradaban, bila potensi fitrah-fitrah baik bisa ditumbuhsuburkan, dimuliakan dari dalam rumah-rumah kita, maka secara kolektif akan menjadi baik dan mulialah peradaban.

Selamat membangun komunitas, membangun peradaban. Selamat bergabung di komunitas Ibu Profesional, dan bersiaplah menjadi Ibu Kebanggaan Keluarga.

Salam : Tim Matrikulasi Ibu Profesional

Sumber Bacaan_ :

_Soekanto, Soerjono. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Radja Grafindo, 2000_

_Harry Santoso dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2015_

_Ibu Profesional, Membangun Komunitas, Materi Perkuliahan IIP, 2015_

Link Video IIP, Membangun Komunitas, Membangun Peradaban

https://www.youtube.com/watch?v=mSz18xTNtGA&t=111s
[2/8 08.20] 🌸Nita Ummu Najma💫Kinima🏡:https://www.youtube.com/watch?v=mSz18xTNtGA&t=111s

Adapun NHW #10 yang harus saya lakukan adalah tentang MEMBANGUN KOMUNITAS, MEMBANGUN PERADABAN

Kali ini saya akan melihat diri sendiri sebagai seorang yg sudah menjalankan peran di komunitas. Merenungi posisi saya saat ini, kemudian amati peran peradaban apa yg sedang dititipkan Allah di pundak saya dan teman-teman semuanya.

Saya adalah Ketua Rumah Belajar Sew&Craft IIP Jakarta periode 2017-2019 (Insya Alloh)

Kondisi masyarakat/member yg saya pimpin saat ini?

Member Rumbel Sew&Craft IIP Jakarta memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Ada yang bekerja di ranah domestik, maupun bekerja di ranah publik. Namun kami semua memiliki passion yang sama : Sew&Craft. Secara umum, kesibukan pribadi masing-masing anggota rumbel seringkali membuat kami jarang aktif secara online, namun saat ada kulwap, sharing maupun diskusi di grup, alhamdulillah masih ada member yang terlibat. Begitu juga dengan Workshop Offline. Alhamdulillah banyak member yang berminat. Pengurus rumbel juga dibantu oleh beberapa pengurus rumbel lama yang juga ahli di bidang sew&craft. Para mentor ini alhamdulillah berkenan membantu pengurus untuk berbagi dan melayani di rumah belajar kami. Seringkali para mentor terlibat aktif dalam sharing session di grup pengurus kala persiapan kulwap mau pun terlibat aktif sebagai mentor workshop offline.


b.Tantangan-tantangan apa saja yang saya hadapi?

Tantangan yang saya hadapi justru dari diri sendiri. Kesibukan sebagai Ibu single parent yang juga bekerja di ranah publik sebagai Guru PNS tentu saja membuat saya harus mengatur waktu dalam membangun tim yang solid. Merencanakan program kegiatan lalu berkoordinasi dengan tim adalah suatu keharusan. Memberi kepercayaan saat mendelegasikan tugas pada anggota tim namun senantiasa siap memback up mereka merupakan suatu tantangan tersendiri.


c.Apakah bakat yg sudah Allah berikan untuk saya, sehingga mendapatkan amanah ini?

Alhamdulillah Alloh menitipkan bakat seorang Developer pada saya. Saya sangat bahagia kalau melihat orang lain maupun tim bisa mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Saya juga orang yang senang belajar, dan tertarik untuk selalu berinovasi dalam setiap bidang yang harus saya jalani.


d. Bagaimana saya menggunakan bakat tersebut untuk kebermanfaatan komunitas?

Tahapan awal dari mensyukuri bakat tersebut adalah membersihkan hati, meluruskan niat saya dan tim dalam mengemban amanah kepengurusan. Selanjutnya adalah memahami potensi dan kelemahan tim, saling bersinergi, harmoni dalam keberagaman demi mencapai tujuan komunitas secara efektif dan efisien.


e. Tahun depan, perubahan apa saja yang akan saya lakukan untuk komunitas/Rumah Belajar/ di kota kami?

# Kulwap 4E (Enjoy, Easy, Excellent, Earn)

# Workshop Offline terjadwal

# Spirit Time, dan melibatkan rumbel dalam kegiatan sociopreneur

# Belanja Bahan Barengan, Crafter Business Sharing, dan unjuk karya dalam Marterpiece Challange.

# Kaderisasi dengan pembentukan PIC dan kepanitiaan dari  member grup setiap WS bulanannya.

“Alloh tidak akan membebani kaumnya, melebihi kemampuannya.”

Kalimat singkat dan padat ini lah yang menjadi penyemangat saya dalam menunaikan NHW10 ini meski lumayan sudah melewati deadline.

Semoga bermanfaat.

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s