Posted in Melatih Kemandirian Anak

Namai Perasaanmu!

IMG_20170319_000517.JPGSore ini, Salika tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan muka cemberut. Ketika saya bertanya “Kenapa?” Dia cuma bilang “Nggak ada apa-apa.” lalu mlipir masuk kamar dan menutup pintu.

Diantara 4 anak kami, Salika termasuk yang paling Baper aka Bawa Perasaan. Agak aneh juga.. Sebenarnya dia bisa becanda, malah kadang jail.. cuma.. Ketika dibalas mendadak ngambek.

Sikapnya itu sering membuat saya introspeksi diri, saat hamil Salika, saya memang bawaannya sensi, dan sering merajuk karena minta lebih diperhatikan oleh suami yang saat itu sedang sibuk dinas ke luar kota ataupun sibuk dengan hobby barunya : Mancing.

Seiring berjalannya waktu, saya berusaha belajar banyak tentang pengasuhan anak karena saya merasa banyak sekali kesalahan, kelalaian, dan kecerobohan saya pada masa awal menjadi Ibu. Kini, masalah pengasuhan sering saya jadikan tantangan praktek ilmu parenting yang sudah dipelajari sekaligus menebus dosa pengasuhan di masa lalu.

Kadang saya merasa senang karena berhasil mengaplikasikan ilmu parenting dan cukup puas dengan hasilnya. Namun, pernah juga saya gagal karena tidak bisa mengendalikan emosi.

Kembali ke Salika.
Tidak berapa lama dari Salika masuk ke kamar, datanglah dua orang temannya memanggil nama Salika dari balik pagar. Salika tiba-tiba keluar dan berkata “Bilang aja aku gak ada ya!”
Lah,.. saya jadi nyengir sendiri.
“Ada apaan lagi nih?!”, Batin saya.

Lalu saya menyuruh kedua teman Salika masuk, dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka bilang, tadi tuh mereka sedang main sepeda bersama, tidak sengaja, Salika menabrak salah satu temannya sampai jatuh, tapi jatuhnya tidak mengkhawatirkan. Namun anehnya, saat itu Salika malah pulang ke rumah padahal temannya masih mau main. Wah,..ini mah, Salika mungkin merasa bersalah tapi gak paham dengam perasaannya, Dia hanya merasa tidak enak lalu malah meninggalkan temannya, bukannya minta maaf.

Kemudian akhirnya Salika saya panggil keluar kamar dan Saya ceritakan bahwa saya sudah tau kejadian sore ini. Saya sampaikan bahwa perasaan yang dialami Salika adalah rasa bersalah, dan obatnya adalah meminta maaf, menjelaskan yang terjadi, memastikan temannya tidak dalam kondisi bahaya/ mencari pertolongan, dan tidak mengulang kesalahannya lagi.

Saya meminta Salika menamai perasaannya, seperti yang pernah saya lakukan saat praktek materi “Bahasa Cinta, Bahasa Ibu” bersama Ibu Septiani Murdiani.

Tak lama Salika terlihat mulai paham dengan perasaannya, Ia kemudian minta maaf dan akhirnya kembali bermain dengan teman-temannya.

Namai Perasaan ternyata cukup efektif dalam melatih kemandirian emosi anak. Dengan menamai perasaan, anak mengenal berbagai macam emosi dan cara menyikapinya.

#Tantangan10Hari
#Hari8
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s