Posted in Melatih Kemandirian Anak

Bunda juga masih Latihan Mandiri, lho..

Tidak terasa sudah 1 tahun 4 bulan suami “pulang” duluan..

Hari ini saya merenungi apa saja hal yang berubah dalam diri saya, bagaimana saya juga dipaksa berproses oleh keadaan untuk jadi pribadi yang lebih mandiri dari sebelumnya.

Ternyata, melatih kemandirian bukan hanya untuk anak-anak. Saya sebagai Ibu dengan status single parent pun masih perlu terus belajar dan melatih kemandirian untuk diri sendiri.

Pada fase awal kepergian suami, Qodarulloh, Mbo’e, ART andalan yang sudah lama ikut dengan keluarga kami juga harus pulang kampung. Keluarga di kampung saat ini sangat membutuhkan kehadirannya.

Berat rasanya harus kehilangan 2 orang andalan di saat yang hampir berdekatan, tapi..Mbo’e kan sudah puluhan tahun kerja terpisah dari keluarga, pasti di sisa usianya, Ia juga ingin merasakan mendampingi anaknya karena suami Mbo’e juga sudah lama meninggal. Gak beda jauh lah dengan saya yang sering ngarep jadi IRT aja supaya bisa fulltime dengan anak-anak..

Akhirnya, jurus pamungkas saya saat itu hanya berbaik sangka pada Alloh.. dan bertekad untuk memaksa diri melatih kemandirian dalam pengurusan anak.

Lalu, kematian suami justru menjadi cambuk bagi saya untuk memanfaatkan sisa hidup dengan sebaik-baiknya. Mengejar ladang pahala terdekat saya : Meramut 4 anak yatim sebagai amalan andalan.

Berbaik sangka pada Alloh ini jua lah yang menjadi charger saya untuk bergerak, mengubah kerepotan menjadi kenikmatan.

Ternyata, bersyukur sekali dipaksa keadaan. Seumur hidup saya, baru tuh saya bisa masang regulator tabung gas untuk kompor. Prestasi selanjutnya adalah lulus ngangkat galon air mineral ke dispenser, sesuatu yang disangsikan Arham Kendari mampu dilakukan para emak-emak, he..he..

Kalau dulu saya bisanya manyun doang saat suami telat jemput, dan ngedumel dalam hati: “kenapa..sih saya takut mengendarai motor?!”
Sekarang alhamdulillah udah bisa ngacir meski cuma pake sepeda listrik (tetep belum PD pake motor, he..he..).

Lumayan lah gak ribet-ribet amat kalau darurat perlu beli obat, belanja ke pasar, ke tukang fotocopy, anter jemput anak, ngaji, atau mondar-mandir daerah duren sawit dan sekitarnya..

Bersyukur lagi karena di saat suami meninggal, kami masuk di era transportasi online. Sangat membantu kalau lagi laper tapi gak sempat masak. Saat mau silaturahim bawa pasukan banyak kini pun makin dipermudah dengan aplikasi transportasi online tersebut. Maka Nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan?

Kepergian suami adalah momentum saya bebenah diri untuk lebih mandiri, melatih kecerdasan emosi dan ketahanmalangan pribadi,
#halah..bahasanya macem lagi bikin tesis aja 🙂

Adakalanya saya berhasil dengan tantangan kesabaran namun sering juga gagal 😦

Pernah,.. nyesel sendiri pas ngeliat 4 bocah tidur lelap. Wondering : “Kenapa ya.. hari ini saya masih gagal nahan emosi untuk gak bentak-bentak anak, padahal udh berusaha sa pol kemampuan?”. Trus besoknya berusaha utk berubah. Kadang satu waktu terkendali namun pernah juga ada waktu dimana semua terasa lepas dari kendali saya.

Di sini lah perlunya keluarga, tetangga, sahabat, dan komunitas yang mendukung. Sungguh, Alloh telah menitipkan kasih sayang dan pertolongan-Nya lewat orang-orang baik yang kita temui dalam episode hidup ini. Jadi janganlah kita berputus asa dari rahmat-Nya.

Sadar diri masih miskin ilmu, dan sadar diri ini masih perlu berlatih untuk menaklukkan tantangan hidup membuat hari-hari saya menjadi dinamis. Selalu saja ada hal baru yang diajarkan Alloh lewat episode kehidupan saya setiap harinya..

“Never Stop Learning because Life Never Stop Teaching”

Jauh-jauh ah,..dari pikiran putus asa. Tetap berusaha melakukan yang terbaik sa pol kemampuan meski kadang hasilnya belum maksimal.

Setidaknya, kalau nanti saya “dipanggil pulang” semoga dalam keadaan sedang berusaha jadi orang yang lebih baik, dan semoga kelak pada saatnya nanti saya bisa dipertemukan dengan husnul khotimah.

IMG_20170307_232546.JPG

#AnnisaMirantyGumay
#Hari5
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s