Posted in My Family Project

Workshop Membuat Keju Mozarella bersama Janna Community

FB_IMG_1489728861790

Ahad pagi tanggal 26 Maret 2017 adalah hari yang kami nantikan. Petualangan Keju Mozarella kami dimulai hari ini. Alhamdulillah ada Janna Community yang memfasilitasi kami untuk belajar mengenal dan membuat keju mozzarella bersama Ms. Ines Setiawan dari SHINE, Social Entrepreneurial Organization.

Pagi ini kami berangkat lebih awal menggunakan kereta api sebagai moda transportasi pilihan menuju Grand Depok City. Pada kesempatan ini, tim kami hanya diwakili 3 orang. Saya, Haura dan Salika. Alhamdulillah ada Bude yang bersedia ketitipan Farih dan Baby Fatih sehingga kami bertiga bisa lebih fokus untuk belajar. Workshop ini memang diarahkan untuk peserta anak dengan usia minimal 5 tahun.

Aktivitas kali ini mengajarkan anak-anak untuk memanage perjalanan juga. Sejak semalam mereka sudah mempersiapkan pakaian, alat sholat, dan perlengkapan lainnya yang harus mereka bawa, seperti kotak plastik, sendok logam, dan air minum. Kami memperkirakan paling telat berangkat dari rumah adalah pukul 07.00 menuju stasiun kereta api Tebet. Alhamdulillah kami bisa berangkat naik gocar pukul 06.45 dan tiba di Stasiun Tebet pukul 07.00. Karena kami langsung dapet kereta, jadinya tiba di stasiun Depok Lama pukul 07.35.

Sebenarnya, masih terlalu pagi untuk Workshop yang dijadwalkan pukul 09.00. Namun karena tempat workshopnya bukan “wilayah main” kami, jadi lebih baik kecepetan daripada terlambat. Mengingat adanya Car Free Day di daerah Grand Depok City, panitia workshop memang sudah mengingatkan agar kami tiba lebih awal. Untungnya anak-anak sudah sarapan terlebih dahulu.

Worshop dimulai tepat pukul 09.00, dan anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok. Di awal workshop, Ms Ines menjelaskan sedikit tentang jenis dan sejarah keju dengan metode Tanya jawab. Seru juga ternyata. Hari ini kami baru tau kalau Keju itu ada sekitar 3000an jenis, namun berdasarkan fermentasinya, bisa dibagi lagi menjadi 3 kelompok besar ;

  1. Keju lunak (fermentasi dalam hitungan jam, sekitar 8 jam), contoh : Keju Mozarella.
  2. Keju semi keras (fermentasi dalam hitungan bulan, sekitar 2 bulan), contoh : Keju Cheddar.
  3. Keju keras (fermentasi dalam hitungan tahun), contoh : keju parmesan.

Adapun fermentasi dapat dilakukan dengan bakteri atau menggunakan jamur. Tapi bakterinya tentu saja bakteri baik, bukan bakteri pembusuk.

Adapun, menurut sejarah, keju berasal dari Mesopotamia (Irak). Di daerah Timur Tengah, orang sulit menemukan air sehingga mereka sering meminum susu yang diperah langsung dari hewan ternak. Sementara untuk mereka yang melakukan perjalanan pada masa itu, susu biasa disimpan dalam tempat minum yang berasal dari perut domba karena zaman itu belum ada Tupperware (#eh..iklan). Nah,.. perut domba ini mengandung Bakteri dan Enzim Rennin. Enzim Renin ini adalah enzim yang mengubah susu menjadi Kasein. Ms Ines menjelaskan Kasein itu padatan yang berasal dari susu, bentuknya mirip gumoh dede bayi setelah minum susu. Jadi,.. kalau zaman dulu orang bepergian dengan bekal susu dalam tempat minum dari kulit domba, makin lama bepergian..susu yang tersimpan bisa berubah menjadi yoghurt dan keju.

Menurut Ms Ines, di Turki, bakteri untuk fermentasi susu menjadi produk olahan keju mudah ditemui di pasar. Karena kebiasaan penduduk setempat, makan keju itu seperti makan sambel yang dicampur dengan makanan pokok lainnya.  Sebenarnya, keju yang kita buat sendiri memungkinkan bisa lebih banyak proteinnya lho..

Salah satu cara mendeteksi keju asli kaya protein itu dengan mudah adalah dengan melihat ingredientnya. Keju asli hanya dibuat dari 4 bahan : Susu murni (harus yang benar-benar diperah langsung tanpa tambahan apa pun), Garam non yodium (Garam Himalaya), Bakteri fermentasi, dan Enzim Rennin. Ms Ines membawa salah satu produk keju yang dijual di pasar. Dalam kemasannya tertera ingredient lebih dari 4, artinya tidak full protein, melainkan ada kandungan karbohidratnya juga. Tapi perusahaan keju tersebut jujur kok, mereka menuliskan jenis produknya bukan keju cheddar tapi keju dalam proses cheddar. Karena memang ada alasan ekonomis untuk menekan biaya produksi agar lebih terjangkau.

Ms Ines juga memotivasi anak-anak untuk menjadi pengusaha keju karena peluangnya masih terbuka lebar. Banyak produk olahan makanan yang memerlukan keju sebagai bahan baku padahal UKM yang memproduksi keju masih sangat sedikit.

Seneng sekali ikutan workshop membuat keju mozzarella dengan Ms Ines. Belajar science jadi lebih menyenangkan dan ilmunya juga langsung bisa diaplikasikan. Beliau juga menjelaskan substitusi bahan baku jika kita tidak memperoleh bahan baku yang seharusnya, seperti misalnya kita bisa mensubstitusi citrun acid dengan perasan air jeruk nipis.  Ohya,.. alasan kenapa workshop kali ini memilih jenis keju mozzarella adalah karena fermentasinya cuma dalam hitungan jam. Itu saja, anak-anak sudah penasaran dengan hasil fermentasi keju mereka yang harus ditunggu selama kurang lebih 8 jam. Gimana kalau bikin cheddar atau parmesan ya? pasti anak-anak lebih tidak sabar menunggu, he..he..

Dalam workshop ini, setiap peserta mendapatkan kit membuat keju mozzarella, juga souvenir pensil dan penghapus pensil lucu. Peserta juga bisa memesan susu murni untuk bahan membuat keju mozzarella di rumah. 1 WS kit bisa dipergunakan untuk 25 liter susu.

Adapun isi kit, serts tutorial membuat keju mozarella dan cream cheese oleh Ms Ines Setiawan bisa dilihat di sini (1) dan di sini (2).

Berikut saya lampirkan dokumentasi kegiatan workshop membuat keju mozzarella.

Alhamdulillah. Terimakasih untuk Janna Community yang sudah memfasilitasi kegiatan ini. Terimakasih juga untuk Ms Ines atas ilmunya. Dan terimakasih untuk Tim Fasilitator Kelas Bunda Sayang Level 3 IIP Jakarta untuk tantangan menariknya.

IMG_20170327_115234

#AnnisaMirantyGumay

#TantanganHari2

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunSayIIP

 

 

Advertisements
Posted in My Family Project

Hidup Bermakna dengan Proyek Keluarga

bridge not home

Apa yang saya cari di dunia? Hidup seperti apa yang saya inginkan?

Dunia adalah Jembatan. Dan jembatan tidak seharusnya dijadikan tempat untuk pulang..

Lalu,.. kalau nantinya saya akan pulang ke kampung akhirat, saya harus hidup seperti apa di dunia?

Kebahagiaan di dunia harusnya menjadi prolog dari kebahagiaan hakiki saya di akhirat.

Oleh karena itu,..

Saya memilih berbahagia dengan hidup bermakna.

Prof. Martin Selligman mendefinisikan Hidup Bermakna (Meaningful Life) lebih tinggi dari tingkat kehidupan yang nyaman. Selain segala keperluan hidupnya telah terpenuhi, Ia menjalani hidup ini dengan penuh pemahaman tentang makna dan tujuan kehidupan. Selain untuk diri dan keluarga nya, Ia juga memberikan kebaikan bagi orang lain dan lingkungan sekitar. Rasa kebahagiaan yg timbul ketika banyak orang lain mendapatkan kebahagiaan karena usahanya. “Pleasure in Giving” atau kebahagiaan dalam berbagi. Kebahagiaan jenis ini lebih bersifat spiritual.

Lalu, bagaimana untuk mencapai hidup bermakna? Untuk itu, kita memerlukan berbagai macam kecerdasan hidup.

Kecerdasan Intelektual (Intellectual Quotient / IQ) akan membuat seseorang menjadi PANDAI.

Kecerdasan Emosional (Emotional Intelleigence / EI) akan membuat seseorang mampu MENGENDALIKAN DIRI.

Kecerdasan Spiritual ( Spiritual Intelligence / SI) memungkinkan hidup seseorang menjadi PENUH ARTI.

Dan Kecerdasan Menghadapi Tantangan (Adversity Intelligence / AI) akan menentukan seberapa TANGGUH seseorang untuk mencapai tingkat KEBAHAGIAAN HIDUP yang dia inginkan.

Selalu ada kejutan di setiap level Kelas Bunda Sayang IIP Jakarta.

Kali ini, saya dan teman-teman ditantang untuk melatih berbagai kecerdasan hidup bersama keluarga demi meraih kebahagiaan hidup bermakna. Dengan mengusung tagline “My Family, My Team!”, kami diarahkan untuk membuat Proyek Keluarga.

Apaan tuh Projek Keluarga??

Projek Keluarga adalah salah satu aktivitas yang bisa kita jalankan di keluarga sebagai sarana belajar seluruh anggota keluarga dalam meningkatkan komunikasi keluarga, melatih kemandirian dan menstimulus kecerdasan seluruh anggota keluarga.

Projek keluarga ini secara sadar dibicarakan bersama, dan dikerjakan bersama oleh seluruh atau sebagian anggota keluarga dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara bersama pula.

Teruss.. Apa sih ciri-ciri Projek Keluarga?

a. Fokus pada proses, bukan pada hasil
b. Sederhana
c. Menyenangkan
d. Mudah – Menantang
e. Memiliki durasi pendek

Kemudian,.. Komponen Projek Keluarga apa saja?

  1. Sasaran
    SMART : Specific, Measurable, Achiveable, Reliable, Tangible
    Maksimum 3 sasaran.
  2. Sarana
    Alat dan Bahan yang diperlukan.
    Dana yang diperlukan ( apabila ada)
  3. Sumber Daya Manusia
    Penanggungjawab
    Pelaksana
  4. Waktu
    Jadwal Pelaksanaan
    Durasi
  5. Nama Projek
    Berikan nama khusus terhadap projek yang dikerjakan keluarga.

Lalu, Bagaimana cara memantau PROJEK KELUARGA? # Jawabnya : Lakukan APRESIASI bukan EVALUASI.

Apabila sudah menjalankan projek keluarga maka segera buat forum apresiasi keluarga diantara jeda projek tersebut, apabila projek memiliki durasi lebih dari 1 minggu – 1 bulan. Apabila projek hanya berdurasi 1-3 hari, maka lakukan pada akhir projek berjalan.

Anak-anak belum memerlukan evaluasi, yang kita lakukan hanya memberikan apresiasi saja, karena hal ini penting untuk menjaga suasana selalu menyenangkan dan membuat anak senantiasa bersemangat dalam mengerjakan projek selanjutnya.

Apabila ada hal-hal yang kita rasa penting untuk diperbaiki atau diubah strateginya, maka cukup anda catat saja, simpan dengan baik bersama satu file catatan projek ini, dan buka kembali saat kita dan anak-anak akan merencanakan projek berikutnya. Hal ini akan membuat perencanaan kita lebih efektif, karena anak-anak akan melakukan perubahan menjelang melakukan projek, bukan diberitahu kesalahan setelah melakukan sebuah projek. Efek yang muncul akan sangat berbeda.

Hm.. CARA MENGAPRESIASI bagaimana sih?

Perbanyaklah membuat forum keluarga saat sore ngeteh bersama, atau sepekan sekali saat akhir pekan. Di IbuProfesional, forum keluarga seperti ini terkenal dengan nama “MASTER MIND”. Bagaimana cara menjalankan master mind, ciptakan suasana yang santai di rumah, kemudian tanyakan 3 hal saja:

a. Ada yang punya pengalaman menarik selama menjalankan projek ini?
b. Apa yang sudah baik?
c. Minggu depan apa yang akan kita lakukan?

Jangan lupa, biasakan AMATI, TERLIBAT, TULIS. Apalagi tuh maksudnya?

AMATI

*Aspek Komunikasi Produktif*
Bagaimanakah pola komunikasi anak-anak kita selama menjalankan sebuah projek?

*Aspek Kemandirian*
Apakah sudah makin terlihat tingkat kemandirian anak-anak dalam mengerjakan projek?

*Aspek Kecerdasan*
Bagaimana cara anak meningkatkan rasa ingin tahunya? ( IQ),

Bagaimana cara anak mengelola emosi selama projek berjalan ? (EI),

Bagaimana cara anak meningkatkan kebermanfaatan dirinya dengan projek tersebut? ( SI),

Bagaimana cara anak mengubah masalah menjadi peluang ( AI)

TERLIBAT

Dalam setiap projek yang dibuat libatkan diri kita, para orangtua, untuk menjadi bagian anggota tim, asyik menjalankan bersama sebagai pembelajaran. Belajarlah menjadi follower yang taat pada keputusan leader. Saat menyelenggarakan master mind, bergantilah peran menjadi fasilitator yang baik.

TULIS
Tulis pengalaman kita setiap hari baik cerita gagal maupu cerita sukses dalam menjalankan projek demi projek, baik cerita bahagia maupun cerita mengharubiru. Alirkan rasa kita setiap hari dan selalu semangat mengunci ilmu dengan amal.

Oke,..

Sekarang saatnya mengamalkan ilmu 🙂

My Family, My Team

Dan Alhamdulillah tantangan level 3 ini berhasil memaksa saya untuk melahirkan kisah “the RaQueeFA_House Project”

RaQueeFA House

Projek pertama kami bernama : “Mozarella Cheese Adventure”

Sasarannya :

  1. Bunda dan anak-anak mengenal keju mozzarella dengan ikut pelatihan “Membuat Keju Mozarella” nya Janna Community.
  2. Bunda dan anak-anak membuat makanan olahan dari keju mozzarella. Dan pilihan kami adalah Pizza Mozarella.

Sarana

Alat : Oven tangkring, kompor, cetakan pizza mini dengan alumunium foil.

Bahan : Bahan Pizza Dough, Bahan Pizza sauce, Bahan Pizza Topping, dan Mozarella Cheese buatan anak-anak. (Link resep menyusul di hari berikutnya ya..)

Dana yang diperlukan : Ada lah.. dana investasi ilmu untuk membeli bahagia hidup bermakna, he..he..

Sumber Daya Manusia

Pimpro : Bunda
Pelaksana : RaQueeFA (HauRa_SalikaQueena_Farih_Fatih), Khusus Baby Fatih tugasnya bantuin nyengir dan gak rewel untuk nyemangatin Bunda dan kakak-kakak menyelesaikan projek ini 🙂

Waktu

Jadwal Pelaksanaan : Selasa, 28 Maret 2017
Durasi : 26-28 Maret 2017

IMG_20170324_093306

#AnnisaMirantyGumay

#TantanganHari1

#Level3

#MyFamilyMyTeam

#KuliahBunSayIIP

Referensi :

Materi/Tim Fasilitator Bunda Sayang/IIP Jakarta 2017
Stoltz, Paul G, PhD, 1997 Adversity Quotient, Mengubah hambatan menjadi Peluang, Jakarta , Grasindo
Melva Tobing, MPsi, Daya Tahan Anak Hadapi Kesulitan, Jakarta.
D. Paul Reily , “Success is Simple”, Gramedia, Jakarta
Lela Swell, Success, Grasindo, Jakarta
Martin Selligman, Authentic Happiness, Jakarta

Posted in Melatih Kemandirian Anak

The Power of Prayer

“Do’a adalah Senjata Orang Beriman!”

Kalau ditanya, apakah ada hubungan doa dengan melatih kemandirian anak, saya 100% yakin menjawab ADA!

Apa buktinya?

Seringkali saya merasa sudah berusaha maksimal dalam mendidik anak, terutama melatih kemandirian tapi kemajuan yang saya lihat sangat sedikit.

Belajar, latih, evaluasi, belajar lagi, ganti metode, latih, evaluasi, begitu..terus..
tapi kok ya.. hasilnya ya..segitu-segitu aja. Atau mungkin, sempat berhasil tapi eh, besoknya kok kumat lagi kebiasaan-kebiasaan anak yang belum mandiri.

Sampai pada satu titik, akhirnya saya menyerahkan urusan ini pada Alloh yang Maha Membolakbalikkan hati. Memohon pada Alloh setiap saat atas pendidikan, perlindungan, dan segala kebaikan untuk anak-anak. Ketika ihtiar telah ditempuh, saatnya mengiringi dengan tawakkal pada Alloh sebagai penutupnya.

Lalu tiba-tiba.. Anak-anak sukarela sholat tepat waktu, tiba-tiba.. Haura paham kapan harus mengerjakan PR dan menyiapkan perlengkapan sekolah secara mandiri di awal waktu, tiba-tiba Farih melaporkan barang-barang yang sudah Ia rapikan sendiri, atau Salika yang terlihat lebih PD dan tidak gampang Baper lebih dari sebelumnya..

DSC_1505

Sederhana, tapi amat berarti bagi saya. Saat memperhatikan bagaimana do’a bekerja, sungguh, ternyata saya menerima lebih dari apa yang saya harapkan sebelumnya.

Adalah sebuah do’a.. yang berulang-ulang saya ucapkan, setiap selesai sholat, setiap turun hujan, setiap saya merasa sedih.. terutama saat menghadapi masa sulit mendidik anak seorang diri.
“Semoga Alloh Kuatkan, Semoga Alloh Sabarkan, Semoga Alloh Mudahkan Saya dalam Meramut dan Mendidik Pejuang-Pejuang Peradaban..”

Mungkin do’a itu tidak serta merta dijawab sekarang, tapi yakinlah bahwa “Mengulang-ulang do’a itu seperti kayuhan sepeda, suatu saat Ia akan membawamu ke arah yang kamu tuju, maka sempurnakan lah do’a mu dengan Usaha, Syukur dan Sabar”

IMG_20170319_025423.JPG

#Tantangan10Hari
#Hari10
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

 

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Prerequisite

IMG_20170319_011405.JPGKata prerequisite (prasyarat) mengingatkan saya pada masa-masa kuliah, maupun tahapan belajar mengajar. Dalam kehidupan, ternyata banyak hal yang menjadi prasyarat untuk hal berikutnya.

Prasyarat ini lah yang membuat kita semestinya merenungi setiap tahap proses yang kita lalui, juga setiap tantangan dan masalah yang kita hadapi saat ini, karena bisa jadi, semua masalah yang kita hadapi saat ini adalah sebuah prasyarat untuk menguji kompetensi kita dalam menghadapi hal besar lain setelahnya.

Berkaitan dengan Melatih Kemandirian anak, saya jadi mengingat materi sebelumnya, yaitu Komunikasi Produktif.
Saya gagal memenuhi tantangan pada level ini. Jeleknya, ketika akhirnya menyerah pada tantangan kali ini, saya jadi kurang konsisten mengaplikasikan materi ini dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, Tantangan10Hari ini kan sebenarnya ibarat games bintang biru dan bebek manyun tempo hari. Challange ini adalah pengantar latihan konsistensi. Meski sudah lewat dari masa tantangan, akan sangat baik jika saya tetap berusaha konsisten melatih dan mengaplikasikan materi ini dalam keseharian.

Ketika memulai tantangan baru di level 2, saya baru lah menyadari bahwa ternyata,.. dalam melatih kemandirian anak akan jauh lebih efektif dan efisien jika saya bisa berkomunikasi secara produktif. Prerequisite kan?!

Saat mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan saya di level ini, saya menemukan bahwa keberhasilan melatih kemandirian anak justru sering terjadi ketika saya memperhatikan diksi, bahasa tubuh dan ekspresi positif serta intonasi yang baik dalam mengkomunikasikan maksud dan instruksi saat melatih anak mandiri.

Dan sebaliknya, ketika saya tidak mampu mengendalikan emosi, salah memilih kata, serta menyampaikan instruksi/maksud dengan intonasi dan bahasa tubuh yang negatif, anak-anak cenderung mengabaikan atau malah memantulkan reaksi negatif atas perlakuan saya sebelumnya.

Catatan evaluasi materi level 2 hari ini adalah :
1. Latihlah kemandirian anak dengan melatih kemandirian dirimu terlebih dahulu.
2. Aplikasikan materi 1 dengan baik sebelum masuk ke materi 2.
3. Tantangan yang sebenarnya bukan hanya 10 hari melainkan setiap hari. Latihlah terus konsistensimu.. Makin Banyak Latihan = Makin Banyak Jam Terbang,Ingat Milestone di Kelas Matrikulasi!
4. Cepat bangkitlah ketika gagal dan segera buat strategi baru yang lebih baik. Jangan sampai mati dalam keadaaan berputus asa dari rahmat Alloh dan berhenti berusaha!

#Tantangan10Hari
#Hari9
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Namai Perasaanmu!

IMG_20170319_000517.JPGSore ini, Salika tiba-tiba masuk ke dalam rumah dengan muka cemberut. Ketika saya bertanya “Kenapa?” Dia cuma bilang “Nggak ada apa-apa.” lalu mlipir masuk kamar dan menutup pintu.

Diantara 4 anak kami, Salika termasuk yang paling Baper aka Bawa Perasaan. Agak aneh juga.. Sebenarnya dia bisa becanda, malah kadang jail.. cuma.. Ketika dibalas mendadak ngambek.

Sikapnya itu sering membuat saya introspeksi diri, saat hamil Salika, saya memang bawaannya sensi, dan sering merajuk karena minta lebih diperhatikan oleh suami yang saat itu sedang sibuk dinas ke luar kota ataupun sibuk dengan hobby barunya : Mancing.

Seiring berjalannya waktu, saya berusaha belajar banyak tentang pengasuhan anak karena saya merasa banyak sekali kesalahan, kelalaian, dan kecerobohan saya pada masa awal menjadi Ibu. Kini, masalah pengasuhan sering saya jadikan tantangan praktek ilmu parenting yang sudah dipelajari sekaligus menebus dosa pengasuhan di masa lalu.

Kadang saya merasa senang karena berhasil mengaplikasikan ilmu parenting dan cukup puas dengan hasilnya. Namun, pernah juga saya gagal karena tidak bisa mengendalikan emosi.

Kembali ke Salika.
Tidak berapa lama dari Salika masuk ke kamar, datanglah dua orang temannya memanggil nama Salika dari balik pagar. Salika tiba-tiba keluar dan berkata “Bilang aja aku gak ada ya!”
Lah,.. saya jadi nyengir sendiri.
“Ada apaan lagi nih?!”, Batin saya.

Lalu saya menyuruh kedua teman Salika masuk, dan menanyakan apa yang terjadi sebenarnya. Mereka bilang, tadi tuh mereka sedang main sepeda bersama, tidak sengaja, Salika menabrak salah satu temannya sampai jatuh, tapi jatuhnya tidak mengkhawatirkan. Namun anehnya, saat itu Salika malah pulang ke rumah padahal temannya masih mau main. Wah,..ini mah, Salika mungkin merasa bersalah tapi gak paham dengam perasaannya, Dia hanya merasa tidak enak lalu malah meninggalkan temannya, bukannya minta maaf.

Kemudian akhirnya Salika saya panggil keluar kamar dan Saya ceritakan bahwa saya sudah tau kejadian sore ini. Saya sampaikan bahwa perasaan yang dialami Salika adalah rasa bersalah, dan obatnya adalah meminta maaf, menjelaskan yang terjadi, memastikan temannya tidak dalam kondisi bahaya/ mencari pertolongan, dan tidak mengulang kesalahannya lagi.

Saya meminta Salika menamai perasaannya, seperti yang pernah saya lakukan saat praktek materi “Bahasa Cinta, Bahasa Ibu” bersama Ibu Septiani Murdiani.

Tak lama Salika terlihat mulai paham dengan perasaannya, Ia kemudian minta maaf dan akhirnya kembali bermain dengan teman-temannya.

Namai Perasaan ternyata cukup efektif dalam melatih kemandirian emosi anak. Dengan menamai perasaan, anak mengenal berbagai macam emosi dan cara menyikapinya.

#Tantangan10Hari
#Hari8
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Bintang Biru dan Bebek Manyun, Our Stamp Collecton Game :)

Setelah saya memasuki setengah perjalanan Tantangan 10 Hari Melatih Kemandirian, terbersit lah ide untuk memberikan Stamp Collection Game pada anak-anak. Intinya sih konsep Reward and Punishment.. tapi ada sedikit modifikasi.

Aturannya seperti ini :

  1. Setiap anak punya lembar pengumpulan stempelnya masing-masing.
  2. Lembar pengumpulan stempel diisi setiap hari.
  3. Masing-masing anak menuliskan kebaikan dan kesalahan yang mereka lakukan pada hari itu dengan JUJUR.
  4. 1 kebaikan = 1 stamp “Bintang Biru” dan 1 kesalahan = 1 stamp “Bebek Manyun”
  5. Skor akhir = Total Bintang Biru – Bebek Manyun
  6. Anak dengan skor akhir Bintang Biru yang terbanyak pada setiap minggunya akan mendapat reward tabungan Rp 10,000

Ternyata anak-anak sangat antusias dengan game ini. Masing-masing dari mereka berusaha melakukan banyak kebaikan dan sprotif untuk jujur mengakui kesalahan. Dan, sesi yang paling ditunggu oleh mereka adalah saat menyetempel Lembar Pengumpulan Stiker kemudian menghitung jumlah Bintang Biru dan Bebek Manyun yang mereka peroleh pada hari itu.

Mba Haura yang sedang semangat menabung untuk beli sepatu makin rajin nyuci piring, bebenah dan jadi lumayan cepat tanggap kalau disuruh. He..he.. mungkin saat ini Haura masih di tahap mengharap pamrih, tapi biarlah sambil memotivasinya di tahap awal. Harapan saya, secara tidak sadar, Haura akan terbiasa semangat melakukan kebaikan dan mengurangi kesalahan.

Lain lagi dengan Kakak Salika yang masih terjebak di urusan Baper alias BawaPerasaan. Sore ini, Kakak Salika tutup kuping saat dinasehatin Bunda dan marah-marah saat diingatkan untuk sholat Ashar. Saat itu, Bunda hanya bisa diam namun ketika Kakak Salika ngajak ngomong Bunda, gantian deh..Bunda pura-pura nggak denger. Alhamdulillah si Kakak peka dan langsung minta maaf karena udah ngerasain bahwa dicuekin itu sangat tidak enak. Setelah Kakak Salika mengakui kesalahannya, baru deh dia bisa menyimak nasehat dengan baik. Dan tetap sportif menyetempel Bebek Manyun di Lembar Pengumpulan Stempelnya.

Kalau Farih, salah satu hal yang masih harus selalu diingatkan adalah tentang bersikap sopan saat dinasehati bukannya malah meledek. Terkadang bagi Farih, nasehat Bunda atau Neneknya bisa dijadikan becandaan. Kalau sudah begitu kembali saya mengulang cerita tentang Rasulullah SAW tidak pernah bercanda melampaui batas, agaknya cerita itu masih harus saya ulang-ulang. Tapi Farih cukup kooperatif untuk urusan membantu buang sampah ataupun belanja ke warung.

Reward and punishment lumayan efektif untuk memotivasi anak-anak agar terbiasa melakukan kebaikan dan meminimalisir kesalahan. Namun, yang jauh lebih penting adalah mengingatkan mereka bahwa setiap tindakan yang kita lakukan memiliki konsekuensi. Konsekuensi ini bisa positif maupun negatif.

Reward and punishment hanya contoh kecil dari konsekuensi tersebut. Konsekuensi positif, yang anak-anak rasakan setelah melakukan kebaikan, jauh lebih utama dari reward dalam contoh kecil tersebut.

#Tantangan10Hari
#Hari7
#Level2
#MelatihKemandirian
#KulianBunSayIIP

 

Posted in Melatih Kemandirian Anak

ART FreeDay Challange

Hari Minggu di rumah kami adalah “ART Free Day”. Artinya, semua pekerjaan dari pagi hingga hari berakhir ya… tanggung jawab bersama. Dulu mungkin pernah jadi tanggung jawab Bunda, doang. Tapi setelah mengingat dan menimbang bahwa bunda akan kesulitan kalau harus menyelesaikan semua pekerjaan rumah seorang diri maka diputuskan lah beberapa peraturan ini di rumah kami.

Aturan ART Free Day ;
Syarat boleh main ke luar rumah adalah :
1. Sudah mandi pagi
2. Sudah sarapan
3. Sudah melaksanakan tugas harian, minimal 1 tugas
4. Main harus sambil menjaga adik (main bersama adik)
5. Memakai pakaian yg baik
6. Memperhatikan adab bermain
7. Pulang sebelum pukul 11.00

Awalnya, aturan ini sulit diterapkan. Minggu pagi kami dilalui dengan drama omelan karena anak-anak masih mau leyeh-leyeh di hari libur, atau omelan karena bangun tidur cuma pindah tempat tidur ke depan TV, dan omelan karena anak-anak rebutan kamar mandi begitu disamper teman-temannya untuk bermain, dan banyak drama-drama lainnya di sela kerepotan bunda menyiapkan sarapan, dan beberes rumah. Belum lagi kalo Baby Fatih rewel, Argh.. langsung deh, berbagai tanduk muncul di kepala Bunda.

Sampai satu waktu saya berfikir, “Gak bisa begini terus nih!” dan akhirnya kami menyepakati aturan-aturan di atas.

Saat ART FreeDay, Haura lebih mandiri daripada adik-adiknya karena, secara usia, Ia juga lebih tua dari adik-adiknya. Hanya saja kepedulian untuk bermain bersama adik-adik masih sangat kurang. Setelah selesai dengan dirinya, Ia langsung main dengan teman-teman tanpa mempedulikan adiknya.

Salika malah jauh lebih care pada Farih. Memperhatikan dan mengingatkan agar Farih segera mandi, kemudian lanjut sarapan bersama. Salika juga sering membantu Farih menyalakan lampu kamar mandi. Mungkin jarak usia yang dekat lah yang membuat mereka berdua lebih kompak bermain bersama, apalagi teman-teman bermainnya juga sama.

Adapun Farih, kalau untuk urusan main mah nomer 1, Ia akan segera bergegas mandi, tidak mau ketinggalan. Lumayan mudah memotivasi Farih untuk mandi dan makan saat ART FreeDay kalau rewardnya adalah main keluar.

Saya memang lebih memilih anak bermain dengan teman-temannya di ruang terbuka daripada stay di rumah, nonton TV atau pun pegang gadget.
Penggunaan TV dan gadget di rumah kami memang sangat terbatas. Selain bermain di luar, terkadang anak-anak dan temannya memainkan mainan edukatif ataupun membaca buku di rumah kami.
Pernah juga Haura menginisiasi teman-teman dan adiknya untuk proyek craft, entah bikin hiasan dari flanel, dan kardus bekas, ataupun membuat slime di rumah.

Resikonya, rumah memang seperti kapal pecah, ditambah lagi dengan suara “ceria” anak-anak membuat Baby Fatih gak mau tidur, akibatnya Emaknya anak-anak yang kecapean karena standby terus mulai bertanduk lagi 🙂

Alhamdulillah lama-lama anak-anak juga paham sendiri, kapan mereka rame-rame main di rumah dan kapan memilih main di luar rumah. Saat jam istirahat Fatih, kakak-kakak dan teman-temannya memilih bermain di luar rumah.

ART FreeDay ini sebenarnya cukup melelahkan bagi saya. Setelah full kerja Senin-Jumat, ingin istirahat weekend saja sepertinya sulit sekali. Namun, ART FreeDay ini sangat membantu program latihan kemandirian bagi anak-anak dan juga emaknya anak-anak.

Awalnya mungkin sangat melelahkan, karena kami semua berproses untuk mandiri. Tapi sekali saja ada celah untuk inkonsistensi, artinya kami kembali turun level dan harus mengulang proses melelahkan dari awal lagi. Itu lah sebabnya, meski lelah.. Saya tetap berusaha bersyukur dengan keriwehan ini dan tetap konsisten menikmati proses serta memilih bersahabat dengan masa-masa repot ini.

Ada kalanya menyelusup perasaan khawatir kalau harus menitip Baby Fatih pada Farih saat saya harus sholat atau pun ke toilet sebentar. Namun, setelah melihat Baby Fatih dan Mas Farih happy-happy aja.. saya jadi berfikir, kadang-kadang kita perlu juga memberikan kepercayaan saat melibatkan anak-anak dalam berbagi pengasuhan. Sering saya katakan pada mereka bahwa saat ini saudara terdekat mereka ya hanya mereka berempat, yang harus saling sayang, peduli dan menjaga satu sama lain. Mereka harus belajar saling menjaga karena Ayah Bunda tidak akan selamanya ada.

collage-1488899911606

Kalau dulu, saya gak PD menghadapi ART FreeDay, Alhamdulillah sekarang saya sudah mulai berani menghadapinya. Kuncinya sebenarnya simple : Memaksa diri keluar dari zona nyaman, banyak latihan dan konsisten!

Dan,.. pilihan sikap kita terhadap masalah akan sangat menentukan hasil yang kita terima.

Masalah atau Tantangan? It’s Your Choice!

#Tantangan10Hari
#Hari6
#Level2
#MelatihKemandirian
#KulianBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Bunda juga masih Latihan Mandiri, lho..

Tidak terasa sudah 1 tahun 4 bulan suami “pulang” duluan..

Hari ini saya merenungi apa saja hal yang berubah dalam diri saya, bagaimana saya juga dipaksa berproses oleh keadaan untuk jadi pribadi yang lebih mandiri dari sebelumnya.

Ternyata, melatih kemandirian bukan hanya untuk anak-anak. Saya sebagai Ibu dengan status single parent pun masih perlu terus belajar dan melatih kemandirian untuk diri sendiri.

Pada fase awal kepergian suami, Qodarulloh, Mbo’e, ART andalan yang sudah lama ikut dengan keluarga kami juga harus pulang kampung. Keluarga di kampung saat ini sangat membutuhkan kehadirannya.

Berat rasanya harus kehilangan 2 orang andalan di saat yang hampir berdekatan, tapi..Mbo’e kan sudah puluhan tahun kerja terpisah dari keluarga, pasti di sisa usianya, Ia juga ingin merasakan mendampingi anaknya karena suami Mbo’e juga sudah lama meninggal. Gak beda jauh lah dengan saya yang sering ngarep jadi IRT aja supaya bisa fulltime dengan anak-anak..

Akhirnya, jurus pamungkas saya saat itu hanya berbaik sangka pada Alloh.. dan bertekad untuk memaksa diri melatih kemandirian dalam pengurusan anak.

Lalu, kematian suami justru menjadi cambuk bagi saya untuk memanfaatkan sisa hidup dengan sebaik-baiknya. Mengejar ladang pahala terdekat saya : Meramut 4 anak yatim sebagai amalan andalan.

Berbaik sangka pada Alloh ini jua lah yang menjadi charger saya untuk bergerak, mengubah kerepotan menjadi kenikmatan.

Ternyata, bersyukur sekali dipaksa keadaan. Seumur hidup saya, baru tuh saya bisa masang regulator tabung gas untuk kompor. Prestasi selanjutnya adalah lulus ngangkat galon air mineral ke dispenser, sesuatu yang disangsikan Arham Kendari mampu dilakukan para emak-emak, he..he..

Kalau dulu saya bisanya manyun doang saat suami telat jemput, dan ngedumel dalam hati: “kenapa..sih saya takut mengendarai motor?!”
Sekarang alhamdulillah udah bisa ngacir meski cuma pake sepeda listrik (tetep belum PD pake motor, he..he..).

Lumayan lah gak ribet-ribet amat kalau darurat perlu beli obat, belanja ke pasar, ke tukang fotocopy, anter jemput anak, ngaji, atau mondar-mandir daerah duren sawit dan sekitarnya..

Bersyukur lagi karena di saat suami meninggal, kami masuk di era transportasi online. Sangat membantu kalau lagi laper tapi gak sempat masak. Saat mau silaturahim bawa pasukan banyak kini pun makin dipermudah dengan aplikasi transportasi online tersebut. Maka Nikmat Tuhan yang mana yang hendak engkau dustakan?

Kepergian suami adalah momentum saya bebenah diri untuk lebih mandiri, melatih kecerdasan emosi dan ketahanmalangan pribadi,
#halah..bahasanya macem lagi bikin tesis aja 🙂

Adakalanya saya berhasil dengan tantangan kesabaran namun sering juga gagal 😦

Pernah,.. nyesel sendiri pas ngeliat 4 bocah tidur lelap. Wondering : “Kenapa ya.. hari ini saya masih gagal nahan emosi untuk gak bentak-bentak anak, padahal udh berusaha sa pol kemampuan?”. Trus besoknya berusaha utk berubah. Kadang satu waktu terkendali namun pernah juga ada waktu dimana semua terasa lepas dari kendali saya.

Di sini lah perlunya keluarga, tetangga, sahabat, dan komunitas yang mendukung. Sungguh, Alloh telah menitipkan kasih sayang dan pertolongan-Nya lewat orang-orang baik yang kita temui dalam episode hidup ini. Jadi janganlah kita berputus asa dari rahmat-Nya.

Sadar diri masih miskin ilmu, dan sadar diri ini masih perlu berlatih untuk menaklukkan tantangan hidup membuat hari-hari saya menjadi dinamis. Selalu saja ada hal baru yang diajarkan Alloh lewat episode kehidupan saya setiap harinya..

“Never Stop Learning because Life Never Stop Teaching”

Jauh-jauh ah,..dari pikiran putus asa. Tetap berusaha melakukan yang terbaik sa pol kemampuan meski kadang hasilnya belum maksimal.

Setidaknya, kalau nanti saya “dipanggil pulang” semoga dalam keadaan sedang berusaha jadi orang yang lebih baik, dan semoga kelak pada saatnya nanti saya bisa dipertemukan dengan husnul khotimah.

IMG_20170307_232546.JPG

#AnnisaMirantyGumay
#Hari5
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunSayIIP

Posted in Melatih Kemandirian Anak

Setan, siapa takut?!

“Wahai orang-orang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqoroh: 208)

Seperti apa sih gambaran setan menurut pandangan anak?
Saya lumayan penasaran dengan jawaban pertanyaan ini. Karena duo krucil ; Kakak Salika dan Mas Farih penasaran banget kalau dalam urusan nonton film atau denger cerita setan (baca: kisah misteri yang seram bin horor).

Mereka berdua sibuk ngintip-ngintip kalau ada film seram di TV atau dengar kisah horor oleh-oleh dari mba Haura. Ujung-ujungnya, setelah nonton, ada.. aja alasan duo krucil untuk minta ditemanin ngambil minum di dapur, ditemanin buang sampah di dapur, di temanin naruh piring kotor ke bak cucian piring, bahkan untuk urusan sekedar ngambil buku di perpustakaan atau ke toilet aja jadi ikut-ikutan minta ditemanin karena takut setan.

Berkali-kali saya sampaikan bahwa kita gak perlu takut pada setan jika selalu minta perlindungan Alloh, Alloh kan selalu menjaga kita.

Eh, dengan polosnya, Salika menimpali “Aku kan takut kalo ada pocong atau kuntilanak yang serem, kl minta tolong sama Alloh trus Alloh lagi sibuk sama urusan penting gimana?”
Lah.. jadi ngakak denger komentarnya. Lalu saya sampaikan bahwa Alloh Maha mengetahui dan Maha Hebat, Alloh mampu mengurus semua mahluk ciptaannya, Alloh tau semua hal dan keadaan mahluknya, dan Alloh akan memberi pertolongan pada hamba-Nya yang taat dan selalu berdoa memohon pertolongan-Nya.

Kemudian.. lumayan deh, duo krucil mulai berkurang takutnya.
“Kayak Ade dong Kak, Ade pemberani, kan kata Bunda Kita anak Ayah, Ayah aja pemberani gak penakut”, sambung Farih..

Statement dari Farih tersebut agaknya hanya berlaku kurang dari 2 jam. Setelah itu ya.. Podo wae, pada ketakutan lagi, terutama kalau menjelang tidur, saat semua lampu dipadamkan.

Sempat saya sampaikan pada anak-anak “Ngapain nonton film serem kalau cuma bikin ketakutan?!” lalu saya matikan TV dan mengalihkan pada aktivitas membaca buku.

Sempat mikir juga, gimana.. cara mengatasi atau minimal mengurangi rasa takut anak-anak pada setan ya..

Kemudian, saya teringat salah satu metode favorit yang menurut saya lumayan efektif dalam menanamkan karakter baik serta menginspirasi penerapan akhlak mulia pada anak. Agaknya, saya juga bisa pakai metode ini saat melatih kemandirian mengelola emosi pada anak-anak.

Dan,.. pilihan saya jatuh pada buku “Setan, Siapa takut?!”.
Dalam buku tersebut dijelaskan tentang setan yang sebenarnya yaitu setan-setan yang biasa mengganggu manusia. Ada setan yang membuat malas bangun subuh, ada setan yang menjauhkan manusia dari adab makan ala Rasulullah SAW, Setan yang menggoda agar manusia tidak menyempurrnakan wudhu atau malah boros air wudhu. Tentang setan yang membuat kita berbuat tidak baik pada orang lain, dan sebagainya.

Di buku ini juga diresumekan tentang adab-adab ibadah Rasulullah SAW dan cara mengatasi godaan setan.

Alhamdulillah, dengan bercerita, anak-anak jadi punya gambaran tentang setan yang sesungguhnya, dan yang terpenting mereka jadi berusaha untuk mengalahkan setan-setan yang menggodanya.

Dan, meski konsistensi anak-anak dalam melawan godaan setan masih harus terus dilatih, tapi lumayan lah.. Minimal sekarang mereka bisa berkata: “Setan, siapa takut?!”

#AnnisaMirantyGumay
#Hari4
#Level2
#MelatihKemandirian
#KuliahBunsayIIP