Posted in Komunikasi Produktif

Memilih Diksi Positif saat Mood Negatif

Bagi Ibu yang harus bekerja di ranah publik, ketidakhadiran Asisten Rumah Tangga (ART) seringkali menjadi masalah yang menghambat aktivitas rutin. Terlebih bagi seorang single parent dengan anak-anak usia balita seperti saya. Ketidakhadiran ART memaksa saya harus lebih cekatan menggunakan waktu dengan efektif dan efisien serta mampu melatih kemandirian pada anak-anak agar bisa tercapai harmoni dalam bekerja di ranah publik dan di ranah domestik.

Sebagai seorang Ibu yang masih belajar untuk bisa profesional, padatnya aktivitas di pagi hari sering memunculkan stress tersendiri bagi saya. Stress ini kerap memuncullkan mood negatif yang mendorong saya jadi tidak produktif dalam berkomunikasi. Meski akhirnya saya menyesali kalimat tidak tepat yang terlanjur terucap namun konsisten memilih diksi positif saat mood negatif memang tidak semudah yang dibayangkan.

Selasa pagi, 24 Januari 2017, Asisten Rumah Tangga (khusus cuci setrika pakaian) kami masih sakit, dan Mama, yang biasa mendampingi anak-anak saat saya mengajar, sedang kurang sehat sehingga baru bisa tiba di rumah kami pada selasa pagi pukul 06.30. Terpaksa izin terlambat lagi deh ke sekolah.

Keterlambatan ini terjadi karena saya harus mempersiapkan anak-anak sebelum mereka berangkat sekolah, menyelesaikan beberapa pekerjaan rumah lainnya, dan yang paling utama adalah karena Baby Fatih tidak ada yang menjaga. Saya pun harus mengkondisikan Mama yang baru saja tiba, menyiapkan sarapan beliau, dan memberi beliau sedikit ruang untuk istirahat sejenak sebelum saya tinggal ke sekolah. Untungnya, kemarin saya tidak ada kelas. Dan hari ini pun, jadwal mengajar dimulai pada jam ke-4 sehingga meski saya terlambat, kegiatan Belajar Mengajar tidak terganggu.

Setelah akhirnya saya mampu mengatasi keruwetan di pagi hari namun ternyata masih ada tantangan lanjutan sepulang saya dari sekolah. Setumpuk cucian yang memanggil-manggil membuat saya terpaksa harus menitipkan Baby Fatih pada Bude, tetangga kami, agar Mama bisa istirahat selama saya mengeksekusi tumpukan cucian tersebut.

Sejujurnya, keletihan fisik dan pikiran ini membuat saya mudah terpancing emosi terutama saat melihat anak-anak belum bisa bekerja sama dalam menjaga kerapihan rumah. Berbagai affirmasi positif sudah saya hadirkan dalam pikiran namun hasrat ngomel saat mood negatif itu memang sangat sulit dibendung.

“Berubah atau Kalah!”

Saya teriakkan kalimat itu berulang-ulang meski hanya dalam hati. Tantangan ini harus DITAKLUKKAN. Akhirnya, sesaat sebelum mulut terbuka untuk ngomel tidak produktif, saya berusaha menahan diri sa pol kemampuan. Mencoba diam, menarik nafas panjang, serta mengalihkan emosi dengan fokus menyelesaikan pekerjaan rumah.

Khusus hari ini, saya sengaja menitip pesan pada anak-anak bahwa saya ingin bicara dari hati ke hati dengan mereka setelah selesai mencuci pakaian. Selama proses mencuci pakaian, otak saya berputar ; merancang pemilihan diksi yang akan saya lontarkan saat forum keluarga malam ini.

Dan, Family Forum pun tiba. Kami hanya bertiga, Saya, Haura dan Farih karena Salika sudah terlanjur ketiduran. Segera saya membuka forum dengan pertanyaan :

Bunda : “Ade Fatih dimana?”

Farih : “di rumah Bude.”

Bunda : “Kenapa Ade dititip di rumah Bude?”

Haura : “Karena Bunda sedang nyuci.”

Bunda : “Bunda nyuci baju siapa ? Biasanya Bunda pulang sekolah nyuci gak? Kenapa Bunda nyuci?”

Haura : “Nyuci baju Bunda, baju aku dan Ade-ade.”

Farih : “Bunda nyuci soalnya Mba Mi sakit, trus baju kotornya udah buanyaakk..”

Bunda : “Kira-kira Bunda cape gak?”

Farih : “Cape lah..”

Haura : “Cape, soalnya Bunda pagi-pagi juga kerja”

Bunda : “Kira-kira kalau Bunda kecapean Bunda bisa sakit gak?”

Farih : “Bisa, tapi aku gak mau kalo Bunda sakit”

Bunda : “Emang kenapa, kamu gak mau Bunda sakit?”

Farih : “Nanti gak ada yang ngurusin aku, Mba Haura, Kakak Salika, dan Ade Fatih”

Bunda : “Trus, gimana dong supaya Bunda gak kecapean dan sakit?”

Haura : “Bunda gak usah kerja aja”

Bunda : “Oke kalau bunda gak kerja, nanti untuk beli susu, makanan, crayon, buku, mainan gimana? Sekarang kan gak ada Ayah”

Farih : “Yaudah Bunda kerja aja, gak papa”

Haura : “Kita harus bantuin Bunda.”

Bunda : “Gimana cara bantuinnya?”

Farih : “Makan yang pinter.”

Haura : “Aku cuci piring, Salika beres-beres. Farih juga tuh, beresin mainannya sendiri, kalau makan jangan jalan-jalan supaya makanannya gak tumpah-tumpahan ntar banyak semut.”

Saya jadi senyum-senyum sendiri saat mendengar jawaban anak-anak. Ternyata, ketika saya menahan emosi, berusaha sabar mendengar, serta menstimulus anak-anak untuk berfikir dan peka dengan situasi di sekitarnya, saya bisa mengkondisikan mereka untuk aktif terlibat dalam pengambilan solusi permasalahan keluarga dengan lebih optimal.

Ternyata Forum Komunikasi keluarga efektif untuk menumbuhkan kepekaaan anak-anak dengan sekitarnya dan terlibat aktif menyelesaikan masalah bersama. Ketika mempersiapkan Forum ini pun saya jadi punya waktu berfikir lebih lama untuk memilih diksi yang positif serta menahan diri dari luapan emosi di kala mood negatif. Dan saya tidak perlu menyesal lagi karena terlanjur tidak produktif dalam berkomunikasi.

Komunikasi produktif, membantu saya dan keluarga untuk tidak memperlebar masalah, fokus pada solusi serta terhindar dari aksi saling melukai hati karena tajamnya lidah. Meski sulit, namun dampak yang dirasakan dari komunikasi produktif sepadan dengan sulitnya tantangan untuk melakukannya secara konsisten.

Bersyukur bahwa akhirnya saya mampu menyelesaikan tantangan komunikasi produktif hari ini. Every Success has It’s Price. Since I responsible for my communication result, I have to pay the price first!

#AnnisaMirantyGumay

#Hari1

#Tantangan10hari

#Komunikasiproduktif

#KuliahBunsayIIP

Advertisements