Posted in Matrikulasi IIP Jakarta Batch#2

Membangun Peradaban dari dalam Rumah

membangun-peradaban-dari-dalam-rumah

#NHW3_Annisa M. Gumay

“Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya”

 Rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu, sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh. Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita. Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “Misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendak-Nya.

Pada materi pekan ke-3 ini, Kami, peserta matrikulasi IIP Batch 2, diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan yang menggiring kami untuk merefleksi diri, memahami diri sendiri, dan menyibak setiap hikmah dari skenario Alloh pada hidup kami. Kami juga diarahkan untuk menemukan misi serta peran pribadi dan keluarga dalam kehidupan ini.

viktor-e-frank

“Dalam hidup, setiap orang punya misi dan perannya sendiri ; Setiap orang harus menjalankan tugas yang memerlukan kesungguhan tersebut. Hidup setiap orang tidak bisa digantikan, dan tidak juga bisa diulang. Jadi, tugas setiap orang itu unik, dan hidup adalah kesempatan untuk melaksanakan tugas khususnya tersebut.”

 

there_are_two_great-day

Hari saat saya dilahirkan selalu saya ingat. Hari lahir itu menjadi penting dalam hidup karena saat itu lah Alloh memberikan misi dan peran yang harus saya selesaikan. Namun, setelah lebih dari seperempat abad saya menapaki jalan kehidupan, saya belum benar-benar memahami “apa misi dan peran itu?” dan tugas kali ini membantu saya untuk menemukan satu hari terpenting lagi dalam hidup saya ; Hari dimana saya memahami untuk apa saya dilahirkan…

Bagaimana cara saya menemukannya??

“Kalau kamu ingin berbincang-bincang dengan DIA, maka temuilah DIA dengan caramu. Tetapi apabila kamu ingin mendengar DIA berbicara, memahami apa kehendak-Nya padamu, maka IQRA’, bacalah semua tanda cintaNya untuk kita, mulai dari surat cinta-Nya sampai dengan orang-orang dan lingkungan di sekeliling kita”

Lalu,.. ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, itu pun bukan karena sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu ; Kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “Peran Spesifik Keluarga” kita di muka bumi ini.

reason-behind-everything

“Alloh mempertemukan untuk suatu alasan.

Entah untuk belajar atau mengajarkan.

Entah untuk sesaat atau untuk selamanya.

Entah akan menjadi bagian yang penting atau hanya sekedarnya.

Akan tetapi, tetaplah menjadi yang terbaik di waktu tersebut.

Lakukan dengan tulus meski tidak menjadi seperti apa yang diinginkan.

Tidak ada yang sia-sia karena Alloh yang mempertemukan.”

–Anonim-

Saat ini Alloh meminta saya untuk berperan sebagai single parent. Qodarullah suami tercinta yang mendampingi saya selama hampir 10 tahun dalam mengarungi bahtera rumah tangga harus menghadap-Nya setahun lalu. Alloh yang mempertemukan, Alloh juga yang memisahkan. Semoga kelak kami akan dipertemukan kembali di rumah abadi, di surga nanti.

Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Almarhum suami saya adalah Suami dan Ayah terbaik, khususnya bagi keluarga kecil kami. Meski kini kami sudah tidak bersama beliau lagi,  namun nilai-nilai kebaikannya selalu terkenang dalam diri kami. Sosok yang selalu menghadapi masalah dengan tenang, berfikir positif dan tidak mudah putus asa. Beliau juga pribadi yang hangat, humoris, dan senang membantu orang lain. Dan yang terpenting adalah Beliau mencintai kami TANPA SYARAT.

thankyou-love

Selanjutnya, bagaimana dengan anak-anak? Apa peran mereka dalam peradaban?

Untuk menjawab pertanyaan ini, saya harus mengidentifikasi potensi kekuatan diri mereka masing-masing terlebih dahulu.

about-the-light

“Mulailah selalu dari sisi cahaya anak-anak kita, bukan sisi gelapnya.

Karena, jika cahaya telah melebar menerangi semua sisi,

maka kegelapan menjadi tidak relevan.

Bukankah kegelapan hanya ada ketika cahaya tiada?”

-My Insight- (dari Buku FBE-Harry Santosa)

 Awalnya saya masih bingung harus memulai dari mata, dengan alat ukur apa untuk mendeskripsikan potensi anak-anak. Sampai pada suatu hari, teman mengajar saya meminjamkan buku Mas Bukik Setiawan dan Bang Andrie Firdaus “Bakat bukan Takdir”. Tiba-tiba saja dia menghampiri meja saya dan berkata “Ada buku bagus nih!” Hmm.. sepertinya teman saya dikirim Alloh untuk membantu saya menyelesaikan PR ini.. 🙂

Dalam buku tersebut, Bang Andrie Firdaus menyampaikan bahwa “Bakat bukan sesuatu yang ada dalam diri anak. Tapi sesuatu yang dihasilkan oleh anak.” Teori multiple intelegence juga dikemas menarik dalam buku tersebut sehingga memudahkan pembaca mengingat 8 kecerdasan yang menjadi potensi seseorang.

8 Kecerdasan ini yang saya jadikan acuan dalam melihat potensi anak-anak saya.

multiple-intelligence

Multiple Intelligence

  1. KATANYA = Kecerdasan aksara
  2. ANKA = Kecerdasan logika
  3. ALATA = Kecerdasan alam
  4. KREVI = Kecerdasan diri
  5. RADA = Kecerdasan music
  6. GERADI = Kecerdasan tubuh
  7. AKSO = kecerdasan relasi
  8. SIVISI = Kecerdasan imaji

#BakatBukanTakdir, halaman 138-139

Haura

Salika

Farih

1 Menulis Diary.

2 Selalu bertanya dan
menyelidiki fakta yang        Ia temui

3 Penyayang binatang,
    Senang berkebun.

5 Menyanyi, menari.

6 Lari, rollerblade, naik
    Sepeda, berenang,
Permainan kecil.

7 Mudah berteman, peduli
Dengan teman.

8 Membuat Card machine
“Aikatsu” Membuat
panahan, Squishy,                 Slime.

1 Senang bercerita
Memiliki banyak                   kosakata.2 Selalu bertanya dan
menyelidiki fakta yang        Ia temui.

4 Senang merenung,
Perasaan halus

5 Menyanyi, menari

7 Penyayang keluarga
Peduli pada orang lain

8 Menggambar dan
mewarnai

1 Senang bercerita

2 Selalu bertanya dan
menyelidiki fakta yang        Ia temui.

3 Penyayang binatang,
    Suka dinosaurus

5 Senang menyanyi

6 Lari, memanjat,                    meloncat

7 Mudah berteman

 

Saat ini, saya hanya bisa mengidentifikasi potensi tiga orang anak saya karena Baby Fatih baru berusia 4 bulan dan saya masih belum expert untuk mengidentifikasi potensi bayi berusia 4 bulan  🙂

Berikutnya, saya juga diminta melihat kekuatan potensi diri saya untuk kemudian dikolaborasikan dengan potensi anak-anak. Lalu saya diminta membaca kehendak Allah, menguak hikmah dibalik alasan mengapa saya dihadirkan dengan tantangan keluarga yang luar biasa seperti ini. Apa misi hidup rahasia-Nya sehingga kita diberi ujian tetapi diberikan bekal kekuatan potensi yg kita miliki.

Bunda HaSaFA

1 Senang menulis

2 Senang mengamati dan menganalisa fakta

4 Senang merefleksi diri dan menulis diary

5 Bisa memainkan alat musik

7 Senang berinteraksi dan aktif dalam organisasi

8 Membuat desain dan media pembelajaran

Menjadi guru adalah kebahagiaan untuk saya, ketika saya harus mempersiapkan dan menyampaikan materi pada siswa hal ini adalah tantangan menarik bagi saya ; bagaimana membuat siswa tertarik dan memahami ilmu yang saya berikan. Begitu juga saat melakukan pembinaan siswa dalam peran saya sebagai wali kelas dan Pembina ekstrakurikuler, seringkali saya bersyukur bisa belajar banyak dari masalah yang dihadapi anak didik di sekolah.

Menjadi Guru membuat saya merasa bermanfaat.

Namun..dengan segala tuntutan Guru profesional yang semaksimal mungkin saya laksanakan dengan penuh tanggungjawab, Saya sedih dan malu pada diri sendiri ; Bagaimana bisa saya mendidik anak orang dengan profesional namun untuk anak sendiri hanya di sisa waktu. Berkali-kali proposal mundur dari posisi guru PNS saya ajukan pada suami, tujuannya adalah agar saya bisa fokus belajar ilmu menjadi Ibu profesional, terutama Bunda Sayang dan Bunda Cekatan. Sebab tugas guru PNS sekarang menuntut waktu dan konsentrasi penuh dalam melaksanakannya, saya masih sangat kesulitan membagi waktu antara pekerjaan dan rumah tangga.

Hal yang juga menambah miris hati saya adalah ketika saya mampu membuat rencana pokok pembelajaran untuk siswa namun saya belum sempat membuat kurikulum untuk anak sendiri 😦

Berkali-kali proposal mengundurkan diri sebagai Guru PNS saya ajukan, berkali-kali pula ditolak oleh suami. Dengan segala kegalauan akibat penolakan tersebut, saya akhirnya berusaha meubah diri saya sendiri sebelum suami merubah keputusannya untuk saya. Saya berusaha belajar banyak dari komunitas Ibu Profesional, Fitrah Based Education, komunitas Book Advisor dan pejuang siroh “Spirit Nabawiyah Community”. Saat belajar adalah “me time” dan refreshing untuk saya. Banyak informasi dan ilmu dari komunitas tersebut yang bisa saya tularkan juga pada anak didik saya di sekolah.

buku-inspirasi-rumah-cahaya

Terinsiprasi dari buku Ustadz Budi Ashari, Lc, visi saya adalah membangun keluarga yang akan bisa menjadi cahaya peradaban Islam. Hal ini sering saya diskusikan dengan suami, berkali-kali saya mengajak suami ikut belajar ilmu parenting bersama, namun beliau selalu menolak.

Meski sedih tapi saya masih bersyukur beliau tidak melarang saya belajar, bahkan setiap kali saya belajar, suami lah yang mengantarjemput saya. Saya selalu ingat kata-kata Bu Septi : For things to change, I MUST change first. Saya yang harus belajar lebih dahulu, mengamalkan ilmu dengan One bite at a time sampai satu saat dimana suami mau bersama membangun Home Team demi visi tersebut. Berusaha membuat visi saya menjadi visi keluarga kami. Membangun sebuah “Rumah Cahaya” yang menerangi peradaban di dunia dan mampu mengantar kami sekeluarga untuk menempati rumah abadi di surga nanti.

it-takes-whole-village-to-raise-a-child

Sebuah pepatah Afrika menyatakan :

“Diperlukan orang sekampung untuk membesarkan seorang anak”,

Saya sangat  bersyukur dengan rahmat Alloh berupa keluarga besar, kerabat, sahabat, dan lingkungan tempat tinggal saya. Begitu banyak “orang baik” yang dipertemukan Alloh bagi keluarga kami.

Saat ini, kami tinggal di komplek dengan keberagaman latar belakang pendidikan, suku, budaya, dan agama namun sangat harmonis. Warga komplek sangat guyub, peduli dan senang membantu satu sama lain. Karakteristik keluarga besar saya dan keluarga besar suami juga seperti itu. Rumah kami pun tidak terlalu jauh dari tempat pengajian, dengan jamaah yang sudah seperti keluarga. Ditambah lagi persahabatan rekan kerja di sekolah dan berapa komunitas banyak memberi warna dan  kebaikan bagi keluarga kami. Harusnya semua anugerah Alloh ini mampu membuat kami menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya dan lebih bermanfaat lagi.

Sejak suami meninggal, saya selalu berusaha berfikir positif dan menggali hikmah ; “Mengapa saya yang dipilih Alloh?” Kadang saat iman sedang lemah, saya merasa kepergian suami adalah hukuman bagi saya.. namun dua hal yang menguatkan saya. Yang pertama adalah fakta bahwa Rasulullah yatim sejak dalam kandungan, sama seperti Baby Fatih anak terakhir saya dan suami yang baru diketahui kehadirannya dalam rahim saya persis seminggu setelah ayahnya meninggal. Sementara yang ke-dua adalah fakta bahwa ulama sekelas Imam Syafii dan tokoh inspiratif BJ Habibie juga seorang yatim.

Kedua fakta tersebut menguatkan saya untuk meneladani Ibu para tokoh tersebut, kalau mereka mampu, saya juga harus mampu, bersungguh-sungguh mendidik anak-anak sa pol kemampuan dan senantiasa mengharap rahmat Alloh dalam peramutan anak-anak saya. Semoga Alloh sabarkan, semoga Alloh kuatkan, semoga Alloh mudahkan.

Meski saat ini saya harus menjalani dua peran sekaligus dalam keluarga, sebagai Ayah dan Bunda, namun saya harus menguatkan diri untuk menjalaninya dengan sungguh-sungguh. Sampai akhirnya saya dapat membuktikan kebenaran statement Pak Dodik bahwa antara “Pekerjaan”, “Berkarya” dan “Mendidik anak”, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan. Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Kesimpulan yang bisa saya ambil dari Nice Home Work pekan ini adalah :

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalan-Nya. Karena jika orang yang sudah berjalan di jalan-Nya maka peluang lah yang akan datang menghampiri, bukan justru sebaliknya, orang tersebut yang terus menerus mengejar uang dan peluang.

sue-fitzmaurice

VISI HIDUP kita dalam membangun peradaban terlalu berat apabila dikerjakan sendiri maka kerjakanlah dengan misi spesifik kita masing-masing.

Jangan pernah bandingkan diri anda/anak anda/keluarga anda dengan diri/anak/keluarga lain.

Tapi bandingkanlah dengan diri/anak/keluarga anda sendiri.

Apa perbedaan anda hari ini dengan perbedaan anda satu tahun yang lalu.

“Kuncinya bukan pada seberapa banyak harta yang kita miliki, melainkan seberapa BERSUNGGUH-SUNGGUH nya kita dalam menjalankan MISI HIDUP kita.”

al-ankabut-69

 

SUMBER BACAAN

_Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013_

_Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016_

_Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015_

_Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016_

_materi matrikulasi membangun peradaban dari dalam rumah, IIP, 2016_

_Tulisan-tulisan Nice Homework #3 dari para peserta matrikulasi IIP, 2016_

_Hasil diskusi penajaman misi hidup dengan bapak Dodik Mariyanto dan Abah Rama Royani_

_Materi Matrikulasi IIP Batch 2, Tim Matrikulasi IIP JKT Batch 2_

_ Diskusi via Whatsapp IIP JKT#Batch2 berjudul “30 Menit Lebih Dekat Bersama Bunda Septi Peni Wulandani”_

_Andrie Firdaus dan Bukik Setiawan, Bakat bukan Takdir, 2016

Advertisements

Author:

# Economic Teacher at SMAN 71 Jakarta, # Single Parent Mom with 4 children, # Interest in reading and crafting, # Owner of RaQueeFA_House Bookstore,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s